Milenianews.com, Tasikmalaya – Pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di lingkungan pendidikan menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan layanan bimbingan dan konseling (BK) di sekolah. Head of DICO (Digital Creative Community), Nurul Ichsan, mendorong guru BK di Tasikmalaya untuk mulai beradaptasi dengan teknologi agar pelayanan kepada siswa lebih efektif dan pengelolaan data lebih tertata.
Hal tersebut disampaikannya dalam Seminar Pemuda Digital yang diselenggarakan UBSI (Universitas Bina Sarana Informatika) kampus Tasikmalaya, di Hotel Horison, Kamis (15/10). Dalam wawancara, ia menjelaskan bahwa guru BK dapat memulai digitalisasi melalui dua cara, yakni mengembangkan aplikasi secara mandiri atau menjalin kemitraan dengan kampus.
Baca juga: UBSI Tasikmalaya Gelar Seminar Pemuda Digital, Dorong Guru BK Manfaatkan AI di Sekolah
“DICO hadir sekarang untuk membawa guru BK ke arah go digital,” ujar Nurul Ichsan.
Ia menjelaskan, guru BK dapat membuat aplikasi sederhana secara mandiri dengan memanfaatkan AI melalui platform Base44. Alternatif lainnya adalah bekerja sama dengan UBSI yang terkenal sebagai Kampus Digital Kreatif, untuk pengembangan aplikasi, termasuk dukungan pembiayaannya.
Menurutnya, dalam skema tersebut, DICO akan memberikan bimbingan dan dukungan teknis, sedangkan sekolah mitra dapat menggunakan aplikasi yang dikembangkan.
“Semoga digitalisasi ini dapat mempermudah pekerjaan guru BK, termasuk dalam mengelola data dan mendukung pelaksanaan layanan konseling kepada siswa. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong tenaga pendidik agar lebih siap menghadapi perkembangan teknologi,” ujarnya.
Selain digitalisasi layanan BK, Ichsan menekankan pentingnya membangun pola pikir yang tepat dalam penggunaan AI di kalangan siswa. Ia menilai, AI seharusnya tidak hanya digunakan untuk memperoleh jawaban secara instan atau menyelesaikan tugas, tetapi juga menjadi alat bantu untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan belajar.
“AI itu bukan alat bantu yang bisa memberikan semua jawaban. Semakin cerdas orang yang menggunakannya, akan semakin hebat juga penggunaan AI-nya,” jelas Ichsan.
Selain itu, ia mengibaratkan hubungan manusia dengan AI seperti seseorang yang menunggangi kuda. Menurutnya, manusia tidak akan menang jika hanya berlomba melawan kuda, tetapi dapat mencapai tujuan lebih cepat apabila mampu mengendalikannya. Analogi tersebut menegaskan bahwa manusia tetap harus memegang kendali dalam pemanfaatan teknologi.
“Kalau kita bisa menunggangi kuda tersebut, maka kita akan menjadi pemenang dan akan berhasil sampai tujuan dengan cara yang lebih cepat,” tuturnya.
Ichsan juga menilai sekolah-sekolah di Tasikmalaya perlu memiliki panduan atau kode etik pemanfaatan AI yang disusun dan disosialisasikan kepada siswa, dengan melibatkan guru BK. Aturan tersebut dinilai penting untuk mencegah penggunaan AI ke arah negatif sekaligus mendorong pemanfaatannya secara bertanggung jawab.
“Penting kode etik itu untuk diterapkan, dibuat, dan disampaikan kepada siswa sebagai aturan yang memang nanti harus dipatuhi,” tegas Ichsan.
Baca juga: Kunci Sukses Guru BK di Era AI: Fisik Sehat, Mental Kuat, dan Bijak Bermedia
Diakhir wawancaranya, Ichsan berharap kolaborasi antara guru BK, sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas digital dapat membantu menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih siap menghadapi perkembangan teknologi.
“Lewat digitalisasi layanan BK serta panduan penggunaan AI yang jelas, teknologi diharapkan dapat dimanfaatkan secara positif untuk mendukung proses belajar dan perkembangan siswa,” tutupnya.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













