Budaya  

Ketua LSBPI MUI Pusat Bertemu Direktur IZI, Siap Ajak Lembaga Zakat Dukung ISSA–Palestine 2026

Ketua Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI Pusat, Dr. Phil. Habiburrahman El-Syirazi, Lc., M.A. (kedua dari kiri) bertemu dengan Direktur Inisiatif Zakat Indonesia (IZI), Wildhan Dewayana, S.T., M.Si. (tengah), di kantor IZI, Condet, Jakarta Selatan, pekan lalu, dalam rangka menggalang dukungan terhadap program International Short Story Award on Palestine (ISSA–Palestine 2026). (Foto: Dok LSBPI MUI)

Milenianews.com, Jakarta— Dukungan terhadap perjuangan kemanusiaan dan kemerdekaan Palestina terus mengalir melalui berbagai jalur, termasuk gerakan literasi dan kebudayaan. Ketua Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI Pusat, Dr. Phil. Habiburrahman El-Syirazi, Lc., M.A., bertemu dengan Direktur Inisiatif Zakat Indonesia (IZI), Wildhan Dewayana, S.T., M.Si., di kantor IZI, Condet, Jakarta Selatan, pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, IZI menyatakan dukungannya terhadap program International Short Story Award on Palestine (ISSA–Palestine 2026) dan membuka peluang mengajak lembaga-lembaga zakat lain untuk turut berpartisipasi.

Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat. Wildhan Dewayana, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Forum Zakat (FOZ), menyambut gembira inisiatif LSBPI MUI Pusat dalam mengangkat isu Palestina melalui karya sastra. Dukungan tersebut menjadi angin segar bagi penyelenggaraan sayembara cerpen bertaraf internasional yang mengusung tema “Palestina: Kemanusiaan, Keimanan, dan Kemerdekaan.”

ISSA–Palestine 2026 merupakan ikhtiar LSBPI MUI Pusat untuk menghadirkan kepedulian terhadap Palestina melalui kekuatan cerita, imajinasi, dan kesaksian kemanusiaan. Program ini diharapkan menjadi ruang bagi para penulis untuk menyuarakan penderitaan, keteguhan, harapan, serta cita-cita kemerdekaan rakyat Palestina melalui karya sastra yang menyentuh dan menggugah kesadaran publik.

Baca Juga : LSBPI MUI akan Gelar Maestro  Summit,FGD,  Rakornas, dan Santri Bertanya Ulama Menjawab

Dalam pertemuan tersebut, kedua tokoh juga membahas perkembangan isu-isu terkini terkait Palestina. Pembicaraan tidak hanya menyoroti situasi yang dihadapi rakyat Palestina, tetapi juga pentingnya membangun solidaritas melalui berbagai pendekatan yang dapat menjangkau masyarakat luas. Di antara pendekatan itu, sastra dan kebudayaan memiliki peran strategis karena mampu menghadirkan persoalan kemanusiaan secara dekat, menyentuh nurani, dan melampaui batas geografis maupun bahasa.

Bagi Habiburrahman El-Syirazi, yang akrab disapa Kang Abik, isu Palestina selalu memiliki daya magnet yang kuat. “Palestina bukan semata persoalan politik internasional, melainkan juga persoalan kemanusiaan, keimanan, keadilan, dan hak suatu bangsa untuk hidup merdeka. Melalui karya sastra, nilai-nilai tersebut dapat disampaikan dengan bahasa yang lebih personal, sehingga pembaca tidak hanya mengetahui sebuah peristiwa, tetapi juga diajak memahami pengalaman manusia di baliknya,” kata Kang Abik.

Kang Abik memandang bahwa kepedulian terhadap Palestina perlu dirawat melalui beragam ikhtiar yang saling menguatkan. Bantuan kemanusiaan, diplomasi, pendidikan, dakwah, dan gerakan kebudayaan dapat mengambil peran masing-masing dalam membangun solidaritas.

“Dalam konteks inilah, ISSA–Palestine 2026 diharapkan menjadi salah satu ruang kreatif yang mempertemukan penulis, pegiat literasi, komunitas kebudayaan, dan masyarakat internasional dalam perhatian bersama terhadap Palestina,” ujarnya.

Dukungan IZI terhadap program tersebut juga membuka peluang sinergi yang lebih luas. Dengan kapasitas IZI dalam pengelolaan zakat dan jaringan kelembagaan yang dimiliki Wildhan Dewayana melalui Forum Zakat, dukungan terhadap ISSA–Palestine 2026 berpotensi diperluas melalui kolaborasi dengan lembaga-lembaga zakat lainnya. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat jangkauan program sekaligus mempertemukan gerakan filantropi Islam dengan gerakan literasi dan kebudayaan.

Wildhan Dewayana sendiri memiliki latar belakang pendidikan di bidang teknik penerbangan dari Institut Teknologi Bandung serta pendidikan magister pada Program Ketahanan Nasional, Kajian Stratejik Kepemimpinan, Pascasarjana Universitas Indonesia. Latar belakang tersebut menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya dalam bidang kepemimpinan dan pengelolaan organisasi. Dalam pertemuan ini, dukungan terhadap ISSA–Palestine 2026 menjadi titik temu antara kepedulian kemanusiaan dan upaya membangun kolaborasi lintas lembaga.

ISSA–Palestine 2026 dibuka pada 10 Oktober hingga 20 November 2026. Kompetisi ini menyediakan tiga kategori bahasa, yakni Indonesia/Melayu, Arab, dan Inggris. Untuk setiap kategori bahasa, panitia menyediakan hadiah juara pertama sebesar Rp 20 juta, juara kedua Rp 15 juta, dan juara ketiga Rp 10 juta.

Baca Juga : LSBPI MUI Gelar Workshop Menulis Cerpen Palestina: Menyuarakan Kemanusiaan dan Perlawanan Lewat Sastra

Selain itu, terdapat 30 karya unggulan—masing-masing 10 karya dari setiap kategori bahasa—yang memperoleh penghargaan sebesar Rp 2 juta. Para pemenang dan penulis karya unggulan juga akan mendapatkan sertifikat, sementara hadiah bagi para juara mencakup box set Ensiklopedia Budaya Islam Indonesia, sebagaimana tercantum dalam poster sayembara.

Melalui ISSA–Palestine 2026, LSBPI MUI Pusat berharap isu Palestina dapat terus hadir dalam ruang kesadaran publik, bukan hanya melalui pemberitaan dan perbincangan politik, tetapi juga melalui karya-karya sastra yang memiliki daya hidup panjang. Sebuah cerita dapat menjadi pengingat bahwa di balik angka, konflik, dan berita tentang peperangan, terdapat manusia yang mendambakan keselamatan, keluarga yang mempertahankan harapan, serta masyarakat yang memperjuangkan hak untuk hidup bermartabat.

Pertemuan antara Kang Abik dan Wildhan Dewayana pun merupakan langkah yang menjanjikan bagi terbangunnya kolaborasi lebih luas. Dengan dukungan berbagai pihak, ISSA–Palestine 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah kompetisi menulis, tetapi berkembang menjadi gerakan literasi dan solidaritas kemanusiaan yang menghubungkan dunia Islam dan masyarakat internasional melalui kekuatan sastra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *