Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Ada kota yang tumbuh di tepi laut, berkembang di sekitar teluk, atau berdiri di kawasan pegunungan. Di Asia—khususnya Asia Tenggara—banyak kota besar berkembang di tepian sungai. Bangkok merupakan salah satu kota yang sengaja dibangun di tepi sungai, bukan sekadar tumbuh secara alamiah dari pemukiman biasa yang perlahan berubah menjadi megapolitan.
Pada tahun 1782, Raja Rama I dari Dinasti Chakri yang baru naik takhta menginginkan ibu kota baru. Dipilihlah Bangkok yang berada di tepi timur Sungai Chao Phraya. Secara sadar, lokasi ini dipilih karena berada di dataran rendah yang kaya jaringan anak sungai dan kanal. Pada masa itu, jaringan sungai krusial untuk transportasi, perdagangan, akses ke wilayah pedalaman, hingga ketahanan pangan. Selain itu, kanal dan sungai difungsikan sebagai benteng pertahanan utama.
Jakarta dan Bangkok sebagai dua ibu kota di Asia Tenggara memiliki banyak kemiripan. Keduanya merupakan kota metropolitan dengan populasi besar, tumbuh di dataran rendah tanpa bentangan bukit atau gunung, serta menghadapi isu perkotaan yang serupa: kemacetan, banjir, hingga penataan sektor informal. Bedanya, Jakarta berada di tepi laut tanpa sungai besar yang membelah kota, sedangkan Bangkok dibelah oleh Sungai Chao Phraya yang lebar dan multifungsi.
Baca juga: Bangkok, Pilihan Paling Masuk Akal untuk Wisata Luar Negeri Pertama
Uniknya, meski Bangkok tumbuh sebagai kota modern yang dipenuhi pencakar langit, jalan tol, bandara internasional, MRT, dan LRT, kota ini tetap mempertahankan Chao Phraya sebagai urat nadi kehidupan urban. Ketika pusat perbelanjaan dan area komersial menjamur, sungai tetap memegang peran penting dalam mobilitas harian. Perahu, feri, dan kapal cepat masih menjadi moda transportasi andalan warga.
Kota ini tidak membelakangi sungainya; kehidupan justru tetap menghadap ke arah Chao Phraya. Saat menelusuri Chao Phraya dengan perahu mesin, tampak deretan bangunan megah menghadap ke air: Wat Arun, hotel-hotel modern, pemukiman tua yang terestorasi, pusat perbelanjaan, hingga deretan restoran. Bangkok tidak melihat air sebagai ancaman, melainkan mengelolanya melalui sistem pengendalian banjir, kanal, pompa, dan teknologi perairan yang terpadu.
Naik Chao Phraya Tourist Boat dari Dermaga Central Pier

Di dermaga, saya bersama rombongan wisatawan dari berbagai negara menunggu kapal saat sore mulai menjelang. Kapal yang membawa kami pun merapat—tidak terlalu besar namun tampak kokoh. Suara deru mesin dan hempasan air yang memukul tiang dermaga menyambut langkah kami saat bergegas naik. Saya memilih tempat duduk di bagian tepi agar pandangan terasa lebih leluasa. Badan kapal memanjang dengan deretan bangku kayu sederhana, di mana sebagian area terlindung atap dan sebagian lagi berupa dek terbuka.
Saat tali dilepas, kapal melaju dan membelah air di buritan, meninggalkan buih putih yang perlahan lenyap. Saya menumpangi Chao Phraya Tourist Boat (Blue Flag) untuk menikmati lanskap kota dari atas air. Wisatawan sibuk mengabadikan momen dengan ponsel dan kamera, sementara beberapa lainnya duduk tenang memandangi aliran Chao Phraya. Dermaga Central Pier beserta stasiun Skytrain di atasnya perlahan tertinggal di belakang.
Kapal terus bergerak melewati jajaran gedung megah seperti Shangri-La Bangkok, Lebua at State Tower dengan kubah emasnya yang ikonik, hingga Mandarin Oriental Bangkok—hotel paling bersejarah di tepi Chao Phraya yang berdiri sejak 1876. Di seberang sungai terlihat Hotel Peninsula Bangkok, sementara di kejauhan tampak King Power Mahanakhon, menara setinggi 314 meter dengan fasad khas berbentuk piksel yang menjadi penanda skyline Bangkok.
Kapal melintasi sisi modern Bangkok di mana gedung-gedung tinggi berdiri rapat di kedua tepi sungai. Namun dari atas kapal, di antara pencakar langit perkantoran dan mal, masih terlihat dermaga kayu, rumah-rumah lama, hingga perahu kecil warga lokal. Komposisi kotanya sangat menarik: jembatan, stasiun kereta, hotel bertingkat, kuil, dan bangunan bersejarah berdiri berdampingan. Bangkok seolah memperlihatkan jejak sejarahnya tanpa pernah meninggalkan sungainya.
Menelusuri Nuansa Religius Wat Arun dan Wat Pho

Perjalanan air terus melaju ke arah utara, dan wajah Bangkok perlahan berubah. Gedung-gedung tinggi mulai berganti dengan bangunan yang lebih rendah, pepohonan rindang, serta kompleks kuil di tepian sungai. Di kejauhan, muncul siluet Wat Arun—kuil megah di tepi barat Chao Phraya yang menjadi penanda bahwa kami memasuki kawasan Bangkok yang sarat nilai sejarah dan spiritual.
Wat Arun yang dikenal sebagai Temple of Dawn lebih dari sekadar objek foto yang indah. Letaknya di tepi sungai menjadikannya bagian tak terpisahkan dari sejarah Bangkok, berdiri berhadapan dengan kawasan kerajaan lama di seberangnya.
Kapal melambat saat mendekati Wat Arun. Menara utamanya tampak makin megah dengan hiasan ornamen porselen yang memantulkan pendar cahaya sore. Berada di sini memberikan gambaran betapa sungai merupakan bagian integral dari lanskap historis dan religius Wat Arun.
Kapal kemudian menyeberang menuju Tha Tien. Begitu merapat di dermaga Tha Tien, suasana terasa lebih padat dan klasik. Dari dermaga ini, gang-gang kecil mengarahkan kita ke pusat kawasan tempat Bangkok pertama kali dibangun sebagai ibu kota.
Tak jauh dari situ berdiri Wat Pho, salah satu kompleks Buddha paling penting di Thailand. Atap kuilnya yang bertingkat dan berhias ornamen warna-warni menyajikan nuansa yang tenang. Wat Pho dikenal luas karena menyimpan patung Buddha berbaring yang monumental, sekaligus menjadi salah satu pusat pendidikan tradisional ternama di Thailand.
Baca juga: Dannok: Kota Perbatasan Thailand yang Hidup di Antara Dua Budaya
Kudapan Sore di ICONSIAM dengan Pemandangan Chao Phraya
Kemegahan ICONSIAM kemudian muncul di hadapan—sebuah kawasan terpadu modern yang menjadikan sungai sebagai wajah utamanya. Kompleks ini menggabungkan pusat perbelanjaan, area hiburan, hotel, dan apartemen yang berdiri megah mengikuti garis pantai Chao Phraya. Fasad kacanya memantulkan pendar cahaya sore, menciptakan siluet yang kontras dengan permukaan air.
Saya turun di Dermaga ICONSIAM dan melangkah menuju area mal. Dari pelataran, terlihat aktivitas khas area komersial metropolitan. Kapal penyeberangan (shuttle) dan perahu wisata sibuk hilir-mudik di dermaga, sementara kapal-kapal berukuran lebih besar berlayar anggun di tengah sungai. Pantulan sinar matahari sore membuat permukaan air dan dinding kaca gedung berkilau indah.
Untuk menikmati kudapan sore, saya melangkah ke Restoran Jumbo Seafood yang berlokasi tak jauh dari dermaga. Restoran ini memiliki area santap terbuka yang menghadap langsung ke Sungai Chao Phraya.
Meski restoran ini terkenal dengan sajian kepiting saus cabai dan mantau gorengnya, karena belum memasuki jam makan malam, saya memesan porsi dimsum hangat ditemani segelas jus jeruk murni. Menikmati kudapan ringan sambil menyaksikan senja yang perlahan turun di atas Sungai Chao Phraya menjadi penutup perjalanan yang sempurna di Bangkok.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













