News  

Citarum Harum Ubah Lahan Kosong Jadi Taman Warga dan Ruang Produktif di Pasir Pogor

Citarum Harum

Milenianews.com, Karawang – Di sekitar tanggul irigasi Sungai Citarum, Pasir Pogor, Kabupaten Karawang, sebuah perubahan perlahan terlihat. Lahan yang sebelumnya terbengkalai dan tidak banyak dimanfaatkan kini mulai memiliki kehidupan baru.

Sebagian area dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, sementara bagian lainnya dikembangkan menjadi ruang terbuka dan taman bermain bagi anak-anak. Perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya Satgas Citarum Harum dalam menghidupkan kembali kawasan di sekitar aliran Sungai Citarum agar lebih produktif dan bermanfaat bagi masyarakat.

Pemanfaatan lahan dilakukan melalui kolaborasi dengan warga serta perusahaan yang berada di sekitar kawasan. Bagi Satgas Citarum Harum, lahan kosong di sekitar tanggul tidak seharusnya dibiarkan tanpa fungsi ketika masih dapat memberikan manfaat sosial dan ekonomi.

Lahan Kosong Disulap Jadi Ruang Bermain

Pelda Erwin dari Satgas Citarum Harum menjelaskan, sejumlah lahan kosong yang berada di kawasan tanggul irigasi Citarum mulai dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan masyarakat.

“Karena ini berada di wilayah tanggul irigasi Citarum, kita manfaatkan lahan-lahan kosong itu supaya produktif. Salah satunya dikelola sama warga sekitar, termasuk lahan kosong kita fasilitasi sebagai tempat bermain anak-anak,” ujar Pelda Erwin dalam keterangan rilis yang diterima, Kamis (20/8).

Menurutnya, pemanfaatan tersebut tidak dilakukan sendiri. Lingkungan sekitar dan perusahaan di kawasan tersebut ikut dilibatkan sehingga lahan yang sebelumnya tidak terawat dapat berubah menjadi ruang publik.

“Tadinya ini kan lahan kosong, istilahnya ini tanggul. Kita manfaatkan, kita kerja sama dengan lingkungan sekitar, terutama perusahaan-perusahaan yang ada di wilayah sekitar. Akhirnya kita bisa bentuk taman, jadi ada fungsinya buat masyarakat sekitar untuk bermain,” katanya.

Kini, keberadaan taman tersebut memberikan alternatif ruang bermain bagi anak-anak di sekitar kawasan. Sementara bagi masyarakat lainnya, area tersebut menjadi bagian dari lingkungan yang lebih tertata.

Baca juga: Tidak Sekadar Membantu Alat Tangkap, PkM Universitas Terbuka Mendorong Nelayan Untung Jawa Menjadi Pelaku Wisata Bahari

Dari Lahan Terbengkalai Menjadi Lahan Pertanian

Tidak hanya taman, sebagian lahan di kawasan tersebut juga dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Masyarakat menanam berbagai tanaman, termasuk jagung dan palawija.

Aktivitas tersebut membuat lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat memberikan manfaat langsung. Hasil pertanian berpotensi memberikan nilai ekonomi, sementara aktivitas bercocok tanam sekaligus membuat kawasan di sekitar tanggul lebih terawat.

Pemanfaatan lahan tersebut telah berlangsung sejak 2023. Namun, aktivitas Satgas Citarum Harum sempat berhenti sekitar satu tahun sebelum kembali berjalan pada akhir 2025.

Pengaktifan kembali tersebut berkaitan dengan adanya indikasi peningkatan pencemaran pada aliran Sungai Citarum.

Satgas Citarum Harum Kembali Aktif

Pelda Erwin menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan lingkungan menunjukkan adanya peningkatan indeks kualitas air yang mengindikasikan kembali terjadinya pencemaran.

“Karena terindikasi bahwa aliran Citarum ini indeks kualitas airnya tercemar kembali. Jadi kita dari provinsi, khususnya Provinsi Jawa Barat, dioperasionalkan lagi Satgas Citarum Harum ini,” tutur Pelda Erwin.

Menurutnya, pencemaran Sungai Citarum dapat dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya berasal dari aktivitas industri yang tidak bertanggung jawab, sementara faktor lainnya berasal dari limbah domestik masyarakat.

“Banyak faktor yang tercemar. Terutama mungkin ada juga dari limbah industri yang nakal, yang nyuri-nyuri. Ada juga limbah domestik dari limbah masyarakat yang tidak bertanggung jawab membuang seenaknya,” ujarnya.

Karena itu, pengawasan terhadap kualitas lingkungan menjadi bagian penting dalam keberadaan Satgas Citarum Harum. Upaya menjaga sungai juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perusahaan dan masyarakat yang berada di sepanjang kawasan aliran sungai.

Perusahaan dan Masyarakat Diajak Ikut Bertanggung Jawab

Bagi Pelda Erwin, menjaga Sungai Citarum bukan hanya menjadi tugas pemerintah atau Satgas. Perusahaan dan masyarakat yang berada di sekitar sungai juga memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan ekosistem.

“Supaya perusahaan-perusahaan nakal ikut bertanggung jawab untuk memelihara ekosistem yang ada di lingkungan Citarum. Karena yang merasakan hasilnya juga nanti perusahaan sendiri, warga masyarakat sendiri, terutama yang ada di bantaran sungai,” kata Pelda Erwin.

Pendekatan tersebut membuat pemulihan kawasan Citarum tidak hanya berfokus pada air sungai. Lahan kritis dan area kosong di sekitar sungai juga dapat ditata dan dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat.

Lahan yang sebelumnya terbengkalai dapat dikembangkan menjadi area pertanian maupun ruang publik. Dengan demikian, kawasan di sekitar sungai memiliki fungsi tambahan yang memberikan manfaat sosial dan ekonomi.

Menjaga Sungai Sekaligus Menghidupkan Ruang Publik

Perubahan di Pasir Pogor memperlihatkan bahwa menjaga Sungai Citarum tidak hanya berkaitan dengan bagaimana mempertahankan kualitas air. Kondisi lingkungan di sepanjang aliran sungai juga memiliki peran penting.

Ketika lahan kosong berubah menjadi taman bermain, masyarakat mendapatkan ruang publik baru. Ketika lahan lainnya ditanami jagung dan palawija, kawasan tersebut juga memberikan manfaat produktif.

Transformasi itu menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat dapat berjalan beriringan.

Di tengah upaya tersebut, kawasan Citarum juga menyimpan cerita sejarah. Salah satunya terlihat dari keberadaan Bendungan Parisdo di Desa Walahar, Karawang.

Pelda Erwin menyebut bendungan tersebut sebagai salah satu peninggalan infrastruktur yang dibangun pada masa kolonial Belanda. Keberadaannya menjadi bagian dari sejarah panjang pengelolaan sistem pengairan di kawasan Citarum yang hingga kini masih dapat ditemukan di wilayah Karawang.

Pada akhirnya, cerita dari Pasir Pogor menjadi gambaran bahwa menjaga Citarum membutuhkan lebih dari sekadar membersihkan aliran sungai. Ada lahan yang harus dirawat, ruang publik yang perlu dihidupkan, masyarakat yang perlu dilibatkan, serta perusahaan yang harus ikut bertanggung jawab.

Dari lahan kosong menjadi taman, dari tanah terbengkalai menjadi lahan pertanian, upaya tersebut memperlihatkan satu pesan penting: masa depan Sungai Citarum juga ditentukan oleh bagaimana manusia menjaga dan memanfaatkan ruang hidup di sekitarnya.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *