Budaya  

Fadli Zon Apresiasi Langkah HISKI Usung Taufiq Ismail ke Nobel Sastra

Penyair Dr. (HC) Taufiq Ismail diusulkan sebagai calon penerima  Hadiah Nobel Sastra. Usulan tersebut  mendapat sambutan positif dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon. (Foto: Istimewa)

Milenianews.com, Jakarta– Deklarasi Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) yang mengusulkan penyair dan sastrawan Indonesia, Dr. (HC) Taufiq Ismail, sebagai calon penerima Hadiah Nobel Sastra mendapat sambutan positif dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Menurutnya, inisiatif yang lahir dari organisasi profesi kesusastraan tersebut merupakan dinamika yang sehat dalam ekosistem sastra Indonesia sekaligus menunjukkan semakin kuatnya ikhtiar menghadirkan karya sastra Indonesia dalam percakapan dunia.

Deklarasi tersebut dibacakan oleh Wakil Ketua III Bidang Kerja Sama HISKI, Sastri Sunarti, pada kegiatan Sasana Sastra Klasik Indonesia di Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu (2/7/2026). Deklarasi itu sekaligus disampaikan kepada Menteri Kebudayaan sebagai bentuk pemberitahuan dan dukungan moral terhadap ikhtiar yang dibangun komunitas akademik kesusastraan Indonesia.

Menanggapi deklarasi tersebut, Fadli Zon menilai langkah HISKI mencerminkan semakin matang dan dinamisnya ekosistem sastra Indonesia. Menurutnya, pengusulan tokoh sastra Indonesia ke panggung Nobel memang semestinya lahir dari komunitas akademik dan organisasi profesi yang memiliki kompetensi serta otoritas keilmuan di bidang kesusastraan.

“Saya melihat ini sebagai dinamika yang sangat baik dalam ekosistem sastra Indonesia. Inisiatif seperti ini memang semestinya lahir dari komunitas akademik, organisasi profesi, dan lembaga-lembaga yang memiliki kompetensi di bidang kesusastraan. HISKI telah mengambil langkah penting dengan membangun dasar akademik bagi pengusulan tersebut,” ujar Fadli Zon.

Meski demikian, Fadli mengingatkan bahwa pengusulan menuju Hadiah Nobel Sastra merupakan proses yang panjang dan sepenuhnya menjadi kewenangan Akademi Swedia. Karena itu, menurutnya, lembaga pengusul perlu memperkuat berbagai aspek yang menjadi perhatian dalam proses penilaian internasional.

“Selain membangun kajian ilmiah, saya kira juga penting untuk semakin memperluas dokumentasi, publikasi, dan penyebarluasan informasi mengenai posisi, peran, serta sumbangsih Taufiq Ismail dalam perkembangan sastra Indonesia maupun kontribusinya terhadap sastra dunia,” katanya.

Fadli juga menegaskan bahwa Kementerian Kebudayaan tidak memiliki kewenangan secara langsung untuk mengajukan secara langsung calon penerima Hadiah Nobel Sastra. Peran pemerintah, menurutnya, adalah memperkuat ekosistem kebudayaan dan memberikan dukungan terhadap inisiatif masyarakat.

Sebelumnya, dalam deklarasi yang dibacakan Sastri Sunarti, HISKI menegaskan bahwa pengusulan Taufiq Ismail merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi lebih dari setengah abad sang penyair dalam membangun kesusastraan Indonesia serta memperkenalkan nilai-nilai kemanusiaan melalui karya-karyanya.

“Dr. (HC) Taufiq Ismail telah merealisasi tujuan pelestarian dan peningkatan apresiasi sastra melalui karya sastra puisi serta kegiatan-kegiatannya yang berdampak secara global,” demikian salah satu petikan deklarasi HISKI.

Pengusulan tersebut berlandaskan Anggaran Dasar HISKI yang menempatkan pengembangan penelitian, pengkajian, dan apresiasi sastra sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan Indonesia.

Sebagai tindak lanjut deklarasi tersebut, HISKI membangun penguatan akademik melalui penyusunan buku Taufiq Ismail: Suara Nurani Benteng Bangsa. Buku ini akan menghimpun kajian mengenai karya, pemikiran, dan kontribusi Taufiq Ismail terhadap sastra, pendidikan, kemanusiaan, demokrasi, dan religiositas.

Untuk menyusun buku tersebut, HISKI membuka penerimaan abstrak secara nasional pada 23–30 Juni 2026. Setelah melalui proses kurasi, sebanyak 51 guru besar dan 26 akademisi bergelar doktor maupun magister dinyatakan lolos untuk menyusun naskah ilmiah.

Sementara itu sastrawan sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang yang juga anggota HISKI, Tengsoe Tjahjono, menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa pengusulan Nobel Sastra harus dibangun melalui fondasi akademik yang kuat.

“Pengusulan seorang sastrawan untuk memperoleh Nobel Sastra tidak dapat dilakukan hanya atas dasar kekaguman terhadap karya-karyanya. Ia memerlukan legitimasi akademik, jejaring internasional, dokumentasi ilmiah yang memadai, serta dukungan komunitas intelektual yang mampu menunjukkan signifikansi karya tersebut bagi peradaban dunia,” ujarnya.

Menurut Tengsoe, kerja yang sedang dilakukan HISKI sebenarnya telah melampaui sebuah deklarasi dukungan.

“Yang sedang dibangun HISKI bukan sekadar sebuah nominasi, melainkan fondasi akademik yang memungkinkan karya seorang penyair Indonesia dibaca dan dipahami dalam percakapan sastra dunia,” katanya.

Ia menambahkan, keterlibatan puluhan guru besar dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi menunjukkan bahwa pengusulan Taufiq Ismail merupakan hasil kerja kolektif komunitas ilmiah nasional. Melalui dokumentasi ilmiah, penguatan jejaring internasional, serta kajian yang komprehensif, langkah tersebut diharapkan dapat semakin memperkenalkan kontribusi Taufiq Ismail sekaligus memperkuat posisi sastra Indonesia di panggung dunia.

Dukungan terhadap pengusulan Taufiq Ismail juga telah disampaikan belum lama ini oleh Minang Diaspora Global Network yang memiliki jejaring di 22 negara. Selain itu, berbagai komunitas sastra juga turut memberikan dukungan di berbagai media sosial. Menguatnya dukungan dari kalangan akademisi, komunitas sastra, diaspora, dan berbagai pemangku kepentingan menunjukkan bahwa ikhtiar menghadirkan sastrawan Indonesia sebagai kandidat Hadiah Nobel Sastra telah berkembang menjadi gerakan nasional yang bertumpu pada legitimasi akademik dan kolaborasi lintas lembaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *