Jejak Ibunda di Pencapaian Sukses Dr. Chandrawaty

Judul buku: Aku pun Dipanggil Anduang

Penulis: Dr. Chandrawaty, M.Pd.

Penyunting: Dr. Dewi Utama Faizah

Penerbit:  Creativago Magelang

Cetakan: Pertama, Januari 2026

Tebal: xii+145 hlm

 

Milenianews.com, Ngobrolin Buku– Dr. Chandrawaty, M.Pd. merupakan sosok salah seorang wanita sukses. Ia menapaki karir profesional sangat luas,  meliputi peran  sebagai Guru dan Kepala TK, Pengawas TK, Kepala Seksi Pendidikan  Tingkat Kecamatan, Kepala Seksi Pendidikan Tingkat Kotamadya, Kepala Sub Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Kepala  Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara. Kemudian menjadi dosen, Ketua Program Studi PG PAUD UHAMKA, Wakil Dekan II FKIP UHAMKA, Wakil  Koordinator PPG UHAMKA, Pengurus Yayasan Prof. Dr. Zakiyah Derajat  UHAMKA dan Pendiri Yayasan Dian Didakita, hingga konsultan pendidikan dan narasumber di berbagai kegiatan. Saat ini ia menjabat  sebagai Direktur Pengembangan Sekolah-sekolah Universitas  Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA).

Dengan kompetensi akademik dan pengalaman praktis yang mendalam, Dr. Chandrawaty aktif berkontribusi dalam pendampingan pembelajaran mendalam di satuan PAUD  serta pengembangan mutu pendidikan  anak usia dini secara berkelanjutan. Ia juga aktif menulis buku dan jurnal ilmiah dan pendidikan yang dipublikasikan pada tingkat nasional dan internasional.

Di balik jalan panjang sukses yang sudah dilewatinya hingga memasuki usia 70 tahun saat ini, ada jejak satu sosok penting  dalam kehidupan Dr. Chandrawaty. Ia adalah  ibunda yang bernama Hj. Moyar.

Sejak usia 6 tahun, Chandrawaty kecil sudah ditinggal mati ayahnya, Sidi Robinson. Sejak itu,  Hj. Moyar menjadi orang  tua tunggal bagi Chandrawaty dan dua orang kakaknya.

Perjuangan sang ibu luar biasa. Ia berdagang untuk menghidupi anak-anaknya. Namun ia tidak pernah mengeluh. Ia menunggu semua anaknya mandiri. Ia pun sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya.

Kepada Chandrawaty, ia berpesan, “Sekolahlah engkau sampai mentok.” (Artinya sampai jenjang pendidikan tertinggi, yakni S3 atau Doktor. Dan jenjang tersebut berhasil dicapai oleh Chandrawaty).

Berangkat dari inspirasi sekaligus role model ibu yang luar biasa, dan dalam rangka menyukuri usianya yang memasuki 70 tahun, Dr. Chandrawaty, M.Pd. menulis dan menerbitkan autogiografi berjudul “Aku pun Dipanggil Anduang”.

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup dan karir Chandrawaty sejak kecil hingga memasuki usia 70 tahun. Ia mengawali bukunya dengan  ungkapan kerinduan kepada sosok ayah dan rasa takzimnya kepada sosok ibunda yang hebat.  Kekaguman kepada ibunda  ia tuturkan dalam beberapa bab di buku ini.

“Perjuangan amak (panggilan Chandrawaty kepada sang ibunda) yang amat menggetarkan hati saya dalam membesarkan anak-anaknya, adalah kepeduliannya yang sangat besar dalam bidang pendidikan. Pendidikan itu syarat mutlak bagi amak. Biar kami hidup sangat sederhana asal bisa bersekolah.” (hlm 12)

“Pencapaian saya dalam hidup, semua berkat buah pengasuhan sibiran tulang saya (maksudnya: ibunda). Yang pertama, saya telah menyelesaikan pendidikan bersekolah sampai mentok. Yang kedua, saya menjadi perempuan yang multitasking, rempong  dengan urusan ini itu, terpental menjalani kedinasan sebagai pegawai negeri ke sana   ke mari tanpa saya frustasi. Apalagi depresi. Yang ketiga, saya belajar menjadi perempuan pemurah hati, tidak pelit dan peka untuk memeduikan orang lain. Yang keempat dan sebetulnya yang utama, selalu bersyukur  kepada Allah, menjalankan perintah Alllah, sholat lima waktu tidak ditinggalkan.” (hlm 63)

Ia pun tak segan mengatakan ibunya sebagai Bintang dalam hidupnya. “Masya Allah, tabarakallah, begitu hebatnya perjuangan  amak saya untuk anak-anaknya. Tidak berlebihan  kalau saya menyebut amak sebagai “Bintang Dalam Hidupku”.” (hlm 63)

Sejumlah bab lainnya mengisahkan perjalanan karir Chandrawaty, mulai dari Guru TK, tugas struktural di pemerintahan, menjadi dosen, hingga menjadi pejabat struktural di UHAMKA. Berikutnya kiprah  Chandrawaty di  bidang sosial dan keagamaan, mulai dari Muhammadiyah/Aisyiyah, Dewan Masjid Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta berbagai organisasi sosial dan keagamaan lainnya.

Buku autobiografi ini diakhiri  dengan ungkapan terima kasih Chandrawaty atas dukungan dalam diam yang diberikan oleh sang suami dan pesan untuk anak maupun  cucu tercinta.

“Keberhasilan saya dalam kehidupan pribadi maupun karir, baik di dalam pekerjaan swasta maupun karir di pemerintahan, tak lepas dari  dukungan suami saya, M. Arifin Nawawi.” (hlm 84).

Kepada putri semata wayangnya, Chandrawaty berpesan, “Didiklah anak-anakmu  sesuai dengan zamannya. Karena sekarang zaman  digitalisasi, zaman globalisaasi, zaman teknologi, dan kita tidak tahu lagi  ke depan akan bagaimana, tapi pendidikan agama itu nomor satu.” (hlm 102)

Sebagai anduang (nenek), Chandrawaty pun berpesan kepada cucu-cucunya (Musa dan Ghani), “Harapan anduang, Musa dan Ghani tumbuh dengan sehat, kemudian dapat meraih cita-citanya dengan  baik. Karena anduang selalu bilang, “Mudah-mudahan nanti besar  Musa jadi profesor.”  Terus, mudah-mudahan juga jadi hafizh Qur’an, paling tidak juz 30 dan juz 1, kalau bisa sampai 30 juz.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *