Generasi Muda Ketakutan Bikin Angka Pernikahan Jadi Turun, Apa Penyebabnya?

Generasi Muda Ketakutan Angka Pernikahan Jadi Turun

Milenianews.com, Jakarta – Pertanyaan “kapan menikah?” dulu terdengar seperti bagian alami dari percakapan keluarga. Kini, bagi banyak anak muda, pertanyaan itu justru memicu jeda panjang—sebuah jeda yang berisi pertimbangan, hitungan, dan keraguan yang tak sederhana.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Angka-angka itu mungkin tampak dingin di atas kertas. Namun di baliknya, tersimpan cerita tentang generasi yang memilih berhenti sejenak sebelum melangkah lebih jauh.

Pernikahan tak lagi sekadar fase otomatis setelah lulus kuliah atau mendapat pekerjaan pertama. Ia berubah menjadi keputusan besar yang menuntut kesiapan mental, finansial, dan arah hidup yang jelas.

Di Antara Tugas Kuliah dan Bayangan Masa Depan

Bagi Nahla (21), hari-harinya masih berkutat pada dunia kampus. Jadwal kelas, tugas, dan rencana masa depan yang belum sepenuhnya terbentuk menjadi prioritas utamanya.

“Saat ini masih di fase kehidupan kuliah,” ujarnya saat ditemui Senin (23/9).

Pernikahan bukan sesuatu yang ia tolak. Namun ia merasa belum sampai di titik siap. Ada pertanyaan-pertanyaan dalam dirinya yang belum selesai—tentang stabilitas, tentang kemandirian, dan tentang tanggung jawab jangka panjang.

Baginya, menikah bukan sekadar tentang menemukan pasangan, tetapi tentang memastikan dirinya sudah cukup matang untuk menjalani kehidupan setelah pesta usai.

Ekonomi, Realitas yang Tak Bisa Diabaikan

Di tengah kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pekerjaan, faktor ekonomi menjadi pertimbangan besar.

“Ekonomi sangat besar pengaruhnya. Walaupun dalam keadaan sudah mampu, saya tetap berpikir dua kali untuk menikah,” kata Nahla.

Pernyataan itu mencerminkan kehati-hatian generasi yang tumbuh di era penuh dinamika. Harga kebutuhan meningkat, pekerjaan tak selalu stabil, dan masa depan terasa sulit diprediksi.

Bagi mereka, pernikahan bukan hanya tentang hari bahagia, tetapi tentang hari-hari setelahnya—tentang cicilan, kebutuhan rumah tangga, dan rencana membesarkan anak. Tidak sedikit yang merasa perlu membangun fondasi kokoh terlebih dahulu sebelum mengikat komitmen seumur hidup.

Baca juga: Kenapa Perempuan Lebih Moody Saat PMS?

Fenomena yang Semakin Terlihat

Apa yang dirasakan Nahla bukan cerita tunggal. Ia melihat semakin banyak teman seusianya yang berpikir serupa—mempertimbangkan, menimbang, dan memastikan kesiapan sebelum melangkah.

“Iya, dan lumayan berpengaruh, karena dilihat dari angka pernikahan yang menurun membuktikan orang-orang mikir dua kali buat menikah,” tuturnya.

Fenomena ini menunjukkan pergeseran cara pandang. Generasi muda kini lebih reflektif. Mereka tak lagi sekadar mengikuti ekspektasi sosial, tetapi berusaha jujur pada kondisi diri sendiri.

Menunda bukan berarti menolak. Menunggu bukan berarti takut. Bagi banyak anak muda, itu justru bentuk tanggung jawab—memberi waktu untuk bertumbuh agar kelak bisa melangkah dengan keyakinan, bukan keterpaksaan.

Antara Harapan dan Kesiapan

Pernikahan tetap menjadi bagian dari masa depan yang diimpikan. Namun generasi ini ingin menyambutnya dengan kesiapan, bukan sekadar usia yang dianggap “cukup”.

Di tengah perubahan sosial dan tekanan ekonomi, mereka memilih untuk mempersiapkan diri lebih matang. Karena pada akhirnya, pernikahan bukan tentang seberapa cepat keputusan diambil, melainkan seberapa kuat dua orang mampu bertahan bersama.

Dan mungkin, ketika waktu dan kesiapan benar-benar bertemu di satu titik, langkah itu akan diambil bukan karena desakan, melainkan karena keyakinan yang tumbuh perlahan dari proses panjang memahami diri sendiri.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Editor: Reyvan Aldyan Yahya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *