News  

Menunggu Air Surut di Rumah yang Tak Pernah Benar-Benar Kering, Kisah Ibu Supiyah di Muara Gembong

muara gembong

Milenianews.com, Bekasi – Angin laut berembus pelan sore itu di Muara Gembong. Di antara deretan rumah yang sebagian kosong dan sebagian lagi setengah rusak, Ibu Supiyah duduk di depan rumahnya. Pandangannya mengarah ke jalan tanah yang dulu ramai, kini terlihat sepi.

“Dulu banyak yang tinggal di sini,” katanya lirih. “Sekarang rumahnya ada, tapi orangnya nggak ada, pada pindah,” sambungnya.

Abrasi telah lama menjadi bagian dari hidup warga pesisir Muara Gembong. Air laut tak hanya menggerus daratan, tetapi juga pelan-pelan menggerus jumlah penghuni kampung. Satu per satu tetangga Ibu Supiyah memilih pergi, mencari tempat yang lebih aman, kini yang tertinggal hanyalah bangunan kosong dan kenangan.

Baca juga: Pantai Bahagia Jadi Saksi, Anak Muda Bekasi Tanam Mangrove lewat Sanrove 2025

Ketika Bertahan Bukan Lagi Pilihan, Tapi Satu-satunya Cara Hidup

Namun, Ibu Supiyah tetap bertahan. Perempuan yang sudah puluhan tahun menetap di kampung itu tinggal bersama anak dan cucunya. Rumah sederhana yang ia tempati bukan sekadar tempat berteduh. Di sanalah usahanya berjalan, di sanalah keluarganya tumbuh.

Malam hari adalah waktu yang paling ia waspadai. Ketika air pasang datang, lantai rumahnya mulai digenangi air. Tidak selalu deras, tidak selalu lama. Tapi cukup untuk mengubah cara ia beristirahat. “Kalau malam kerendam, ya sudah, tidurnya duduk. Paling sejam juga,” ujarnya.

“Tidur sambil duduk,” Sebuah kalimat sederhana yang menyimpan kelelahan panjang. Tak ada keluhan berlebihan dalam suaranya. Seolah-olah peristiwa itu sudah menjadi rutinitas, bagian dari kalender harian yang tak perlu lagi dipertanyakan. Air datang dan surut, begitu terus.

Ketika ditanya mengapa tak ikut pindah seperti yang lain, jawabannya singkat dan jujur. “Cuma punya ini saja. Nggak punya tempat lain,” ujarnya sambil tersenyum.

Kalimat itu terasa lebih berat dari genangan air di lantai rumahnya. Bagi sebagian orang, pindah mungkin pilihan rasional. Namun, bagi Ibu Supiyah, pindah berarti kehilangan satu-satunya aset, satu-satunya ruang hidup, sekaligus sumber penghidupan.

“Usaha juga di sini, jadi walaupun banjir, ya sudah, neng,” katanya.

Di kampung itu, keberanian bukan selalu soal melawan ombak besar. Kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih sunyi, bertahan. Bertahan karena tak ada alternatif, bertahan karena keterikatan, bertahan karena rumah, betapapun rapuhnya, tetap lebih pasti daripada ketidakjelasan di tempat lain.

Baca juga: SMAIT Nur Hikmah Gelar KKN Mikro di Desa Binaan Muara Gembong, Bekasi

Sementara rumah-rumah kosong di sekelilingnya perlahan ditelan waktu, rumah Ibu Supiyah masih menyala tiap malam. Meski lantainya sesekali terendam, meski tidurnya tak selalu rebah, ia tetap di sana, menunggu air surut, menunggu pagi datang.

Di Muara Gembong, cerita seperti ini bukan hanya milik Ibu Supiyah. Namun dari pengalamannya, kita melihat sisi lain dari bencana tentang “bagaimana keterbatasan membuat seseorang harus bertahan”.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *