Oleh: Nuraini Latifah, Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta
Mata Akademisi, Milenianews.com – Dalam filsafat ilmu, kita mengenal sejumlah konsep penting seperti epistemologi (cara memperoleh pengetahuan yang benar), ontologi (hakikat tentang apa yang ada), dan aksiologi (nilai, manfaat, serta tujuan pengetahuan). Cara berpikir filsafat ilmu membantu manusia menganalisis suatu permasalahan secara lebih mendalam dan menyeluruh. Pendekatan ini relevan untuk memahami persoalan yang tengah terjadi di Indonesia, khususnya bencana banjir bandang yang melanda wilayah Sumatra dan Aceh.
Bencana banjir yang terjadi di sebagian wilayah Sumatra—seperti Sumatra Barat dan Sumatra Utara—serta Aceh dalam beberapa waktu terakhir bukanlah sekadar peristiwa alam biasa. Dampaknya sangat besar dan kerap disertai tanah longsor. Fenomena ini tidak hanya disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi, tetapi juga oleh perilaku manusia yang merusak lingkungan.
Epistemologi: Cara kita memahami penyebab banjir
Dari sudut pandang epistemologi, kita perlu mempertanyakan bagaimana pengetahuan tentang banjir diperoleh dan apa penyebab sebenarnya. Masyarakat sering kali menyimpulkan bahwa bencana alam semata-mata disebabkan oleh faktor alam, seperti cuaca ekstrem, tanpa menggali faktor lain yang turut memperparah dampaknya.
Baca juga: Banjir Sumatera dan Aceh dalam Perspektif Filsafat Ilmu: Mencari Kebenaran di Balik Bencana
Hal ini semakin jelas setelah beredarnya rekaman video di media sosial yang memperlihatkan banjir bandang dipenuhi gelondongan kayu di wilayah Tapanuli Tengah dan Sibolga. Muncul pertanyaan kritis: mengapa terdapat begitu banyak kayu berukuran besar, bahkan menyerupai tiang listrik, terbawa arus banjir? Fakta ini menunjukkan adanya keterlibatan tangan manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti penebangan hutan secara masif, yang berkontribusi besar terhadap terjadinya banjir bandang dan tanah longsor.
Alih fungsi hutan menjadi perkebunan, permukiman, serta aktivitas tambang ilegal telah mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air. Ketika hujan deras turun secara terus-menerus, tanah yang kehilangan daya serap akibat minimnya vegetasi menjadi jenuh dan tidak stabil. Akar pepohonan yang seharusnya mengikat tanah tidak lagi berfungsi, sehingga banjir bandang dan longsor pun tak terhindarkan.
Ontologi: Hakikat banjir sebagai fenomena sosial dan ekologis
Dari sudut pandang ontologi, kita diajak untuk memahami hakikat banjir itu sendiri. Apakah banjir merupakan fenomena alam murni, atau justru konsekuensi dari tindakan manusia? Secara sederhana, banjir adalah meluapnya air ke wilayah daratan rendah. Namun secara ontologis, banjir merupakan fenomena kompleks yang berkaitan dengan realitas ekologis dan sosial.
Banjir tidak semata-mata disebabkan oleh curah hujan tinggi, tetapi juga oleh ketidakseimbangan sistem lingkungan dan tata kelola manusia. Dengan pemahaman ini, solusi terhadap banjir tidak cukup hanya berupa pembangunan tanggul atau infrastruktur fisik, melainkan juga perubahan mendasar dalam sistem pengelolaan lingkungan dan tata ruang.
Aksiologi: Nilai moral dan tanggung jawab etis
Aksiologi mengajak kita untuk menilai manfaat dan tujuan dari pengetahuan tentang banjir. Pemahaman yang benar mengenai dampak banjir seharusnya mendorong upaya pencegahan, perlindungan lingkungan, dan keselamatan masyarakat. Di sinilah nilai aksiologis bekerja.
Idealnya, pemerintah dan lembaga terkait—termasuk kementerian kehutanan—bertindak tegas terhadap penebangan liar serta membatasi pembangunan di wilayah rawan banjir. Namun dalam praktiknya, tidak jarang izin pembangunan tetap diberikan demi kepentingan ekonomi dan politik, meskipun berisiko merusak lingkungan.
Aksiologi juga mengandung nilai moral. Mengetahui dampak buruk banjir menuntut perubahan sikap dan perilaku manusia. Reboisasi, pelestarian lingkungan, serta kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan merupakan tindakan etis yang harus dijalankan bersama. Dampak banjir tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga hewan yang kehilangan habitat dan terancam punah akibat kerusakan lingkungan.
Eksploitasi hutan demi kepentingan ekonomi, seperti alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, sering kali dibenarkan secara sepihak. Padahal, secara ekologis, pepohonan hutan memiliki akar tunggang yang kuat dan mampu menjaga kestabilan tanah. Sebaliknya, kelapa sawit memiliki akar serabut yang tidak mampu mengikat tanah secara mendalam maupun menyimpan air dalam jumlah besar, sehingga meningkatkan risiko longsor di daerah perbukitan.
Kerusakan habitat akibat eksploitasi hutan juga berdampak serius pada satwa liar. Banyak hewan kehilangan tempat hidupnya, terserang penyakit, hingga menjadi korban perburuan ilegal. Ketika banjir terjadi, mereka berusaha menyelamatkan diri hingga masuk ke permukiman warga, dan tidak sedikit yang akhirnya mati. Kerakusan dan kelalaian manusia inilah yang membuat bencana semakin tidak terkendali.
Baca juga: Banjir Sumatra dan Penebangan Hutan: Tinjauan Ontologi Lingkungan
Refleksi filsafat ilmu atas bencana
Melalui ketiga aspek filsafat ilmu—epistemologi, ontologi, dan aksiologi—kita memperoleh gambaran utuh mengenai banjir di wilayah Sumatra dan Aceh. Banjir bukan sekadar akibat curah hujan tinggi, tetapi juga hasil dari cara manusia berpikir, mengelola informasi, dan mengambil keputusan.
Pendekatan filsafat ilmu mendorong kita untuk tidak hanya mencari siapa yang salah, melainkan apa yang dapat diperbaiki secara rasional dan bertanggung jawab. Dengan demikian, analisis filsafat ilmu menunjukkan bahwa bencana banjir merupakan hasil dari pengetahuan yang keliru, struktur realitas yang tidak seimbang, serta nilai-nilai yang diabaikan.
Peristiwa banjir di Sumatra dan Aceh mengajarkan bahwa menjaga kelestarian ekosistem merupakan syarat utama keberlangsungan hidup manusia di masa depan. Banjir bukan hanya tantangan fisik, tetapi juga ujian kesadaran manusia dalam memahami dan menghargai lingkungan tempat ia hidup.
Sebagaimana pepatah mengatakan:
“Jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita.”
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













