Milenianews.com – Gila sih, dunia pariwisata lagi booming parah! Tiap minggu ada aja spot baru yang mendadak viral dan bikin kita gatel pengen langsung checkout tiket untuk pergi kesana. Tapi nih ya, di balik feed Instagram yang kelihatannya fun dan aesthetic itu, realitanya lagi keras banget. Standar kerja makin tinggi, persaingan makin ketat, dan kalau modal skill setengah-setengah doang, ya siap-siap aja kegulung. Banyak yang pengen terjun ke industri ini, tapi ternyata belum punya pelampung yang pas buat bertahan. Akhirnya muncul pertanyaan: ini tuh sebenernya peluang emas, atau malah jebakan kalau kita masuk tanpa persiapan?
Baca juga: Kemenpar Resmi Luncurkan Jurnal Tentang Pariwisata Berkelanjutan
Plot twist-nya, sering banget orang mikir: ‘Ah, gue kan hobi jalan-jalan, pasti cocok lah kerja di bidang pariwisata’. Padahal kenyataannya, industri ini butuh lebih dari sekadar hobi. Butuh adaptasi secepat kilat, paham seluk-beluk industri sedalam itu, dan punya mental yang siap banting setir kapan aja. Nggak heran kalau akhirnya banyak yang mikir dua kali: mau lanjut serius, atau mending jadi penikmat dari luar aja?
Wisatanya estetik, kerjanya hardcore: Peluang emas atau jebakan?
Lonjakan wisata bukan cuma bikin destinasi penuh, tapi juga bikin persaingan makin ketat. Industri pariwisata sekarang jalan bareng tren digital, sustainability, dan experience-based tourism. Pelaku industri nggak cuma nyari orang yang ramah dan suka jalan-jalan, tapi juga yang paham strategi, data, dan perilaku wisatawan. Mereka pengen orang yang bisa mikir cepat, ambil keputusan, dan ngasih pengalaman yang berkesan.
Di sisi lain, banyak yang masuk tanpa gambaran jelas soal realita lapangan. Ekspektasi ketemu kenyataan sering bentrok. Jam kerja fleksibel tapi padat, tuntutan kreativitas datang terus, dan tekanan target nggak bisa dihindari. Tanpa bekal yang tepat, semangat bisa cepat habis bahkan sebelum karier mulai naik.
Makanya, pariwisata hari ini bukan soal ikut tren, tapi soal kesiapan. Mereka yang paham arah industri bakal melangkah lebih stabil dibanding yang cuma modal nekat. Di titik ini, pendidikan dan lingkungan belajar mulai punya peran penting buat nentuin siapa yang bertahan dan siapa yang gugur di tengah jalan.
Modal “Suka” aja nggak cukup! Ini rahasia survive di industri pariwisata
Suka jalan-jalan emang bisa jadi pintu masuk yang seru banget, tapi jujur aja, cuma skill yang bakal bikin tetap bertahan di industri ini. Dunia pariwisata itu nggak cuma soal foto-foto estetik, tapi nuntut buat punya skill komunikasi, manajemen, dan pemahaman budaya yang benar-benar oke. Kamu kudu paham gimana caranya ngelola pengalaman wisata orang lain, bukan cuma jadi kaum yang sekadar menikmati doang. Kalau nggak punya value itu, siap-siap aja peluang kerja yang bagus lewat gitu aja di depan mata.
Selain urusan skill teknis, mental juga bakal ikut diuji. Perlu diingat, industri ini tuh geraknya sat-set dan berubah terus. Tren bisa naik-turun dalam hitungan bulan doang. Makanya, mereka yang mau terus belajar dan fast learner bakal tetap relevan di industri, sedangkan yang cuma jalan di tempat pasti bakal ketinggalan jauh. Di sinilah banyak orang mulai sadar: hobi itu perlu dikasih arah dan strategi biar bisa jadi masa depan yang beneran menghasilkan.
Intinya, persiapan yang matang bakal bikin kamu lebih siap ngadepin segala tekanan dan perubahan yang ada. Dengan paham “medan” industrinya dari awal, kamu nggak bakal cuma jadi follower yang ikut arus doang. Kamu bisa baca arah tren dan pinter ambil posisi yang tepat. Itu yang bakal bikin perjalanan karier kamu terasa lebih masuk akal dan nggak gampang tumbang di tengah jalan.
Bukan cuma modal healing, ini cara biar kamu nggak kaget pas terjun ke dunia pariwisata
Di tengah industri yang makin kompleks, jalur pendidikan tuh bisa jadi “safe space” buat kamu belajar banyak hal sebelum bener-bener terjun ke lapangan. Nah, di Yogyakarta yang kita semua tahu emang pusatnya budaya dan destinasi wisata, Program Studi (Prodi) Pariwisata UBSI (Universitas Bina Sarana Informatika) kampus Yogyakarta hadir buat mendekatkan langsung sama realita industrinya. Lingkungan di sini tuh beneran ngasih gambaran nyata soal gimana cara kerja dunia pariwisata dari berbagai sudut pandang.
Asiknya lagi, di sini belajar tuh nggak cuma dengerin teori yang ngebosenin di kelas. Mahasiswa diajak buat bener-bener paham dinamika industri, gimana pola pikir wisatawan, sampai tantangan di lapangan yang sebenernya tuh kayak gimana. Kamu bakal belajar ngelihat pariwisata sebagai sebuah sistem yang utuh, bukan cuma sekadar tempat wisata doang. Pendekatan kayak gini yang bikin pemahaman kamu jadi lebih up-to-date dan sesuai sama apa yang dibutuhin zaman sekarang.
Apalagi dengan ekosistem pariwisata Jogja yang emang lagi “hidup” banget, proses belajar kamu bakal terasa lebih nyata alias kontekstual. Apa yang kamu pelajari di kelas bisa langsung kamu liat buktinya di sekitar. Dari situ, mental dan skill bakal tumbuh barengan, jadi langkah kamu pas masuk ke dunia kerja nanti bakal kerasa lebih terarah, realistis, dan nggak kagok lagi!
Wajar banget kalau kamu ngerasa bingung di tengah ramainya dunia pariwisata, tapi yang bakal bikin kamu beda adalah gimana cara kamu nyiapin diri sebelum bener-bener terjun. Industri ini geraknya super sat-set dan nggak bakal nungguin orang yang cuma setengah-setengah. Nah, lewat Prodi Pariwisata UBSI kampus Yogyakarta, kamu dikasih safe space buat paham industri ini dari dalam bukan cuma sekadar teori atau cerita doang. Di sini, kamu bakal belajar kalau pariwisata itu bukan cuma soal healing atau destinasi viral, tapi tentang strategi dan gimana caranya bertahan buat jangka panjang. Sekarang pilihannya ada di tangan kamu: mau tetap jadi penonton yang cuma liatin tren lewat, atau mulai siapin diri buat jadi pemain utama di dalamnya? Kuliah…? BSI Aja !!
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.













