Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner
Milenianews.com – Roti paratha yang baru diangkat dari wajan tersaji cepat di hadapan, ditemani kuah kari kentang yang masih panas. Saya suka ini, karena martabak Palembang rasanya mirip dengan paratha. Paratha adalah roti pipih khas Asia Selatan—Bangladesh, Sri Lanka, dan India—terbuat dari gandum yang dicampur air dan minyak, lalu dipanggang di atas tawa, wajan datar.
Paratha paling sederhana adalah plain, tanpa isian. Namun ada juga paratha berisi telur, daging cincang, atau ayam. Untuk rasa manis, isinya bisa gula, cokelat, atau susu. Ada pula paratha tanpa isian tetapi berbumbu kuat, dikenal sebagai spicy masala paratha.
Tersaji pula chai panas—teh Dhaka dengan aroma khas. Chai adalah teh susu dengan tambahan rempah yang membuat rasanya hangat dan manis. Dibanding chai India, versi Dhaka lebih kental, tetapi aroma rempahnya lebih ringan. Penjual chai mudah ditemui di setiap sudut jalan karena minuman ini digemari semua kalangan.
Baca juga: Dulu Hanya Membaca dan Menonton, Kini Hadir di Riuhnya Dhaka
Roti egg paratha dan chai panas ini menjadi menu sarapan agak siang saya di sebuah warung mahasiswa, tepat di depan gerbang kampus AIUB, American International University–Bangladesh. Saya sedang menghadiri konferensi di UIUB dan sengaja keluar kampus saat jeda acara. Saya ingin meresapi kehidupan warung mahasiswa Bangladesh—apa bedanya dengan warung kampus di Jakarta?
AIUB adalah universitas swasta terkemuka di Bangladesh. Bahasa pengantarnya Inggris dan mahasiswanya datang dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Kampus ini berada di lingkungan padat; akses masuknya menyatu dengan jalan perkampungan yang dipenuhi mobil, becak, dan bajaj. Namun begitu melewati gerbang kampus, suasana langsung berubah. Gedung-gedung modern berdiri rapi, taman tertata, dan lingkungan kampus terasa terawat.
Untuk benar-benar merasakan keseharian mahasiswa, justru perlu keluar dari gerbang utama. Di sana berjajar kios dan warung makan dengan bangku rendah sederhana. Sekitar pukul 10 pagi, masih banyak mahasiswa sarapan, sebagian lainnya sekadar duduk dan mengobrol. Suasananya akrab dan merakyat—tak jauh berbeda dengan warung informal di luar kampus Jakarta.
Stasiun sentral, simbol kebangkitan

Saya menuju stasiun sentral Dhaka, Kamlapur Railway Station—pusat pergerakan kereta api utama Bangladesh. Dari sini, kereta melayani banyak kota lain di seluruh negeri. Bangunan stasiun ini jelas dirancang untuk iklim panas dan lembap. Ruangnya terbuka dan luas, memungkinkan pergerakan massa yang besar, meski tetap dipenuhi pedagang informal di setiap sudut.
Lebih tua dari Indonesia, sejarah perkeretaapian Bangladesh sudah dimulai sejak 1862 pada masa kolonial Inggris. Awalnya, kereta api berfungsi mengangkut hasil bumi, terutama goni, menuju pelabuhan. Perkembangannya berlanjut hingga Perang Dunia II, lalu melambat saat kawasan ini memasuki masa perjuangan kemerdekaan. Bangladesh baru benar-benar berdiri sebagai negara merdeka pada 1971, setelah berpisah dari Pakistan.
Stasiun Kamlapur memiliki desain modernis yang khas: struktur beton menyerupai kelopak bunga teratai. Fungsional, adaptif terhadap iklim tropis, dan mengutamakan sirkulasi udara. Stasiun ini diresmikan pada 1968 dan dirancang oleh arsitek lokal ternama, Muzharul Islam. Bangunan ini menjadi simbol kebangkitan Bangladesh—penanda ambisi nasional untuk membangun identitas, konektivitas, dan kemajuan.
Di tengah hiruk-pikuk stasiun, saya mampir ke kios kecil yang menjual chai dan gorengan. Di Bangladesh, teh—atau chai—jauh lebih populer daripada kopi. Saya pun tidak mencari kopi; memang hampir tidak ada kios kopi di stasiun ini.
Chai Dhaka, minuman semua penduduk

Chai bukan sekadar minuman teh. Ia adalah identitas nasional, minuman semua lapisan masyarakat. Di Dhaka, kedai chai bisa ditemukan setiap 100 meter. Masyarakat mengenal budaya adda—kebiasaan berkumpul, mengobrol tanpa batas waktu, membahas apa saja: politik, kriket, film. Budaya ini nyaris mustahil tanpa cangkir-cangkir kecil berisi chai.
Chai Bangladesh berbeda dengan teh di Jakarta. Rasanya jauh lebih kental dan selalu disajikan dengan susu. Teh tanpa susu hampir tidak dikenal; jika meminta teh pahit, orang akan heran.
Chai dimasak dari bubuk teh hitam yang direbus lama hingga warnanya pekat. Saat disajikan, teh dituangkan ke poci, dicampur susu kental, lalu disajikan dalam cangkir kecil. Poci biasanya diletakkan kembali di atas kompor kecil agar tetap panas.
Di jalanan, chai dijual sebagai street food. Disajikan dalam gelas kaca mungil atau cangkir keramik kecil—cukup untuk memberi dorongan energi. Uniknya, penjual menuangkan teh dari jarak tinggi untuk menciptakan buih di permukaan.
Di restoran, variasinya lebih banyak. Ada lebu cha—teh hitam manis tanpa susu dengan perasan jeruk nipis. Ada masala chai yang direbus bersama jahe, kapulaga, dan kayu manis. Versi paling mewah adalah malai cha, dengan lapisan krim susu yang membuat rasanya lembut dan kaya.
Street food Dhaka, seperti di YouTube-YouTube

Saya memesan alu chop dari gerobak pinggir jalan yang ramai. Alu chop adalah perkedel ala Dhaka, terbuat dari kentang tumbuk yang dibumbui masala, bawang goreng, dan potongan cabai.
Pedagang mengambil selembar kertas bekas, menjepit tiga alu chop panas yang masih meneteskan minyak, menaburkan bumbu—mungkin garam atau rempah—lalu menusukkan tusuk gigi sebagai alat makan. Saya menepi di pinggir jalan kota tua Dhaka yang berdebu, dengan suara klakson bus sesekali menempel di telinga.
Gigitan pertama terasa renyah, kulit tepungnya pecah di lidah. Isian kentangnya gurih, rempahnya dominan, dengan sentuhan pedas. Ini bukan Pasar Senen—urusan gorengan di Dhaka jauh lebih seru.
Baca juga: Taj Mahal Bukan Sekadar Simbol Cinta, tapi juga Pesona Sejarah yang Memikat
Saya lanjut ke gerobak sebelah, membeli jhal muri. Kudapan ini terbuat dari beras yang digoreng hingga mengembang dan renyah, lalu dicampur tomat, bawang merah, cabai hijau, daun ketumbar, dan kacang tanah goreng. Pedagang menyajikannya dalam kerucut kertas koran—siap santap sambil berdiri di trotoar. Rasanya pedas, gurih, segar, dan meledak di mulut.
Menjelajahi street food Dhaka sore hari memang menyenangkan. Jika sebelumnya hanya melihatnya di TikTok, Instagram, atau YouTube, pengalaman ini seperti mimpi yang jadi nyata. Gerobak-gerobak sederhana, catnya pudar, kuali besar penuh minyak panas, dan proses memasak yang terbuka sepenuhnya di hadapan pembeli.
Namun, untuk perut Jakarta, ada baiknya berjaga-jaga. Bawa hand sanitizer, obat seperti Norit atau Diapet, dan tisu basah. Hindari minuman dingin dengan es batu; pilih air kemasan atau minuman botol. Untuk rasa, pilih less spicy—jangan ekstrem, tapi jangan pula tanpa pedas. Dan yang terpenting, pilih gerobak yang ramai. Artinya makanan selalu panas dan perputarannya cepat.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.









