Dannok: Kota Perbatasan Thailand yang Hidup di Antara Dua Budaya

dannok

Oleh: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Milenianews.com – Saya berada di Dannok. Mungkin banyak yang belum pernah mendengar nama kota ini. Dannok adalah kota kecil di perbatasan Thailand dan Malaysia, tepatnya di Provinsi Songkhla, Thailand Selatan. Kota ini berbatasan langsung dengan Bukit Kayu Hitam di Malaysia. Sebagai kota perbatasan, Dannok sangat sadar akan posisinya yang strategis sebagai pintu gerbang antarnegara. Posisi ini memberi peluang ekonomi besar dengan menarik pengunjung yang melintas dan singgah—baik wisatawan transit maupun mereka yang sengaja datang untuk berbelanja dan mencari hiburan.

Ini memang Thailand, tepatnya Kota Dannok. Jika bicara Thailand, kita sudah akrab dengan Bangkok, Chiang Mai, Phuket, atau Pattaya. Namun Thailand tidak hanya kota-kota itu. Ada Dannok juga.

Sejak 1980-an, Thailand menjadikan pariwisata sebagai sektor ekonomi paling strategis. Pariwisata menjadi sumber devisa utama, bukan hanya dari kunjungan wisatawan, tetapi juga sebagai penggerak sektor lain seperti industri fesyen, agroindustri, kuliner, dan pengembangan sumber daya manusia. Wisata juga dimanfaatkan sebagai alat diplomasi budaya yang memberi keuntungan jangka panjang bagi negara.

Baca juga: Bangkok, Pilihan Paling Masuk Akal untuk Wisata Luar Negeri Pertama

Melihat perkembangan kota-kota lain, pemerintah lokal Dannok menyadari bahwa pariwisata adalah sektor yang paling cepat memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Pariwisata mendorong tumbuhnya hotel, rumah makan, tempat hiburan malam, pusat perbelanjaan, dan industri pendukung lainnya. Arus wisata membuat perputaran uang meningkat, terutama pada akhir pekan dan musim liburan, saat warga Malaysia banyak berkunjung ke Dannok.

Saya memang sengaja datang ke Dannok setelah berkunjung ke Langkawi, pulau wisata di Malaysia. Karena berbatasan langsung, Dannok hanya berjarak sekitar satu jam perjalanan darat dari Langkawi.

Kota Wisata di perbatasan Thailand–Malaysia

terminal feri kuala perlis

Perjalanan menuju Dannok dimulai dari Langkawi. Dari pulau ini, saya harus menuju daratan Semenanjung Malaysia terlebih dahulu. Dari Pelabuhan Kuah Jetty di Langkawi, saya naik feri ke Kuala Perlis.

Dari terminal feri, tersedia banyak pilihan bus menuju Changlun, kota kecil di Malaysia yang menempel langsung dengan perbatasan Thailand. Jaraknya tidak jauh, sekitar 35 kilometer. Ada pilihan naik Grab, tetapi saya memilih bus agar bisa lebih meresapi suasana lokal Malaysia bagian utara.

Perjalanan terasa santai. Bus ber-AC, penumpang tidak padat, mayoritas warga lokal. Saya juga melihat sepasang wisatawan asing ikut dalam perjalanan. Tidak sampai satu jam, bus tiba di Changlun dan langsung menuju Bukit Kayu Hitam. Semua penumpang turun, membawa barang, lalu berjalan kaki menuju Pos Imigrasi Malaysia. Paspor dicap. Kami berjalan lagi sekitar dua ratus meter menuju Pos Imigrasi Thailand. Paspor dicap kembali. Sekarang saya sudah berada di Thailand.

Masuk Dannok: Berbeda, tapi tetap Thailand

kios-kios

Berbeda dengan wilayah Malaysia yang relatif tenang, begitu tiba di Dannok suasana langsung terasa berubah. Lebih ramai, lebih meriah, dan lebih berisik. Saya keluar melewati area parkir kecil, lalu menawar tuk-tuk—becak mesin khas Thailand.

Perjalanan dengan tuk-tuk melewati deretan rumah makan, kafe, kios oleh-oleh, spa, dan hotel-hotel kecil tanpa bintang. Sekitar sepuluh menit kemudian, saya tiba di hotel tempat menginap. Hotelnya sederhana, seukuran dua ruko tiga lantai seperti di Denpasar. Kamar saya berada di lantai dua—bersih, kamar mandi di dalam, dengan teras kecil menghadap jalan utama.

Di lantai dasar hotel terdapat resepsionis dan restoran yang pintunya langsung menghadap jalan, melayani tamu umum. Jalan di depan hotel adalah jalan utama Dannok, pusat aktivitas kota. Ketika malam tiba, kawasan ini menjadi lebih hidup. Musik terdengar dari beberapa kafe. Kios makanan menjual burger, pizza, jus, dan ayam goreng, bercampur dengan toko pakaian dan oleh-oleh.

Dannok memang bukan kota wisata besar seperti Bangkok atau Phuket. Namun sebagai kota perbatasan, Dannok terasa padat dan hidup karena seluruh aktivitas terkonsentrasi di satu kawasan utama. Penduduknya berbicara bahasa Melayu dengan logat Thailand. Geliat wisata mulai terasa sejak sore hari, ketika pertokoan mulai buka dan lampu-lampu dinyalakan.

Saya melihat sentra kuliner halal dan mampir. Masakan Thailand seperti tom yum, pad kra pao, bubur ikan, hingga aneka nasi goreng khas Thailand tersedia di sini—termasuk nasi goreng ala Thailand yang disajikan di dalam nanas.

Terus berjalan, di sebuah persimpangan saya berhenti di gerobak yang menjorok ke jalan. Saya membeli mango sticky rice: ketan hangat disiram santan kental dan potongan mangga manis. Kudapan sederhana, tetapi rasanya mantap.

Wisata malam hari di mini Bangkok

Memasuki malam, jalan utama Dannok semakin ramai. Pengunjung lalu-lalang, pedagang semakin bersemangat menawarkan dagangan. Suasananya mengingatkan pada pasar rakyat di Kemayoran. Lampu neon, papan iklan, dan kios-kios pedagang membuat kota tampak semarak.

Saya menuju night market, pusat keramaian malam Dannok. Ada beberapa jalan kecil di kawasan ini. Saya menyusuri lorong-lorongnya, melihat pedagang menjajakan dagangan di teras rumah atau meja di tepi jalan. Mayoritas menjual makanan, tetapi ada juga kebutuhan sehari-hari dan pernak-pernik oleh-oleh. Semakin malam, pasar semakin sesak. Saya membeli dan mencicipi beberapa camilan manis yang belum pernah saya temui di Jakarta.

Pukul 21.30, perut mulai memberi tanda. Saya masuk ke rumah makan yang tidak terlalu besar, tetapi ramai. Para pegawainya berwajah Melayu-Thai, beberapa mengenakan hijab.

Saya memesan pad kra pao—tumisan daun kemangi dengan daging cincang dan cabai melimpah—disajikan dengan nasi putih panas dan telur mata sapi. Mumpung di Thailand, saya juga memesan ayam bakar khas Thailand. Sepiring paha ayam bakar berwarna keemasan tersaji. Ukurannya lebih besar dari yang biasa saya temui di Jakarta. Dagingnya lembut, kulitnya renyah, dengan aroma asap yang menggoda.

Rasanya saya makan berlebihan malam itu.

Usai makan, saya masih berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke hotel. Seperti Bangkok atau Pattaya, Dannok juga menawarkan kehidupan malam. Bedanya, karena ini kota perbatasan yang lebih kecil, hiburannya terbatas. Tidak ada pertunjukan cabaret ladyboy yang megah atau keramaian tengah malam seperti di Khao San Road. Namun karaoke, kafe dengan musik, dan spa tertutup tetap ada. Pengunjung masih bisa bernyanyi dan menikmati musik hingga lewat tengah malam.

Wisata kuliner Thailand, Melayu, dan Muslim

masjid dannok

Buddha adalah agama mayoritas di Thailand, sementara Islam menjadi agama terbesar kedua. Secara nasional, penganut Islam sekitar lima persen. Namun di Dannok—kota Thailand Selatan yang berbatasan dengan Malaysia—jumlah penduduk Muslim lebih besar, diperkirakan sekitar 30 persen.

Baca juga: Penang: Ketika Sejarah Disajikan di Setiap Meja Makan

Saya mampir ke Masjid Darul Aman Dannok, sekitar 300 meter dari hotel. Masjid ini berada di kawasan pertokoan dan permukiman Muslim. Arsitekturnya sederhana dan fungsional, dengan atap bertingkat khas masjid Thailand Selatan, dicat warna putih gading. Ruang salat bersih, terang, dan terawat, dengan jendela besar di kiri-kanan bangunan. Halamannya luas dan tampak sering digunakan untuk aktivitas keagamaan masyarakat setempat.

Usai salat, saya makan di rumah makan di sebelah masjid. Saya memesan nasi putih dengan tom yam gai—tom yam ayam. Di dinding terdapat tulisan halal dan kaligrafi Al-Qur’an. Ayamnya tentu disembelih sesuai aturan.

Di Dannok, percampuran budaya terasa nyata. Mata uang resmi adalah baht Thailand, tetapi ringgit Malaysia juga diterima. Etniknya didominasi Melayu-Thai—wajah Melayu dengan sorot mata Thailand. Percakapan bisa dilakukan dalam bahasa Melayu, kadang dipadu bahasa Indonesia, meski sesekali harus saling menebak maksud.

Dannok mungkin kecil, tetapi sebagai kota perbatasan, ia hidup—bergerak di antara dua negara, dua budaya, dan dua dunia.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *