Suzhou: Kota Kanal, Taman, dan Waktu yang Berjalan Pelan

suzhou

Milenianews.com – Pingjiang Road—inilah Suzhou yang sebenarnya. Dulunya adalah jalan setapak yang menjadi satu kesatuan dengan kanal utama. Jalan darat dan jalan kanal yang sejajar ini tidak berubah sejak Dinasti Song, delapan ratus tahun lalu. Di sini, sepanjang 1,6 kilometer, waktu seolah berhenti berdetak. Kedai kopi modern menyajikan latte, toko oleh-oleh menawarkan selendang sutra; di sisi lain berdiri dinding putih yang memudar oleh usia ratusan tahun, tangga batu yang lumutan, dan seorang gadis berpakaian tradisional dengan payung, sedang bergaya untuk difoto.

Saya mengikuti ajakan untuk berwisata ke kota Suzhou. Katanya, jika jenuh dengan kemacetan dan kepadatan Jakarta, serta sudah merasa cukup melihat kemilau Shanghai, pergilah ke Suzhou. Kota yang hanya berjarak sekitar 100 kilometer dari Shanghai ini dapat ditempuh dengan kereta cepat—seperti Jakarta ke Bandung—belum 30 menit sudah sampai. Begitu turun, langsung terasa bedanya. Kota ini tidak menyambut dengan stasiun megah atau gegap gempita gedung pencakar langit. Suzhou menyambut dengan taman, kanal, dan kedamaian. Bisik air kanal mengalir tenang di antara rumah-rumah putih beratap hitam. Jembatan batu dari masa lalu tampak penuh cerita. Di sinilah Tiongkok menampakkan wajahnya yang halus dan puitis.

Suzhou adalah rumah bagi taman-taman cantik yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Jika taman kota di banyak belahan dunia dibangun terbuka dan luas, maka di Suzhou, kota itu sendiri menjadi taman—dengan detail di setiap sudut. Penempatan batu, bangunan, jembatan, dan setapak seolah sarat filosofi dan pertimbangan mendalam. Berdiri di sebuah jendela berukir di coffee shop sambil memandang jalan, serasa ikut berada di dalam taman. Setiap berbelok di tikungan jalan setapak, pemandangan berubah total, tetap dengan wajah ratusan tahun lalu yang magis dan anggun.

Baca juga: Shanghai ke Beijing, Melaju di Rel 300 Kilometer per Jam

Kanal dengan perahu yang hening

kapal perahu

Langkah pertama memasuki Pingjiang Road serasa memasuki lorong waktu. Semua berjalan kaki. Jalan batu lurus yang sempit sejajar dengan kanal, airnya mengalir pelan, satu frekuensi dengan ritme langkah perempuan dan remaja yang mengenakan pakaian tradisional. Dalam ketenangan air, bayangan bangunan khas Jiangnan tampak utuh—rumah-rumah Dinasti Song dengan dinding putih dan atap gelap. Kawasan ini berhasil mempertahankan struktur asli masa Song, tertata rapi dan tetap estetis.

Perahu kayu sesekali melintas menelusuri kanal. Pengemudinya mengenakan pakaian tradisional, sementara di dalamnya para turis tampak cerah. Lagu nyanyian lokal terdengar semilir dari perahu, berpadu dengan suara dayung yang membelah air. Naik perahu terasa seperti berpindah suasana; perahu kecil membuat dunia mengecil. Ketika perahu bergerak perlahan, rumah-rumah tua tampak lebih dekat. Jendela terbuka setengah, pot tanaman menggantung rendah seolah hendak menyentuh kanal. Saat jembatan batu melengkung lewat di atas kepala, cahaya meredup sejenak, lalu terang kembali.

Pengemudi perahu mendayung perlahan, berirama tanpa ketergesaan. Gerakan dayungnya terasa meditatif, hemat tenaga, seolah menyatu dengan ketenangan permukaan air. Tak banyak kata diucapkan, penumpang pun hanya sesekali berbisik. Dalam keheningan itulah Suzhou berbicara.

Jalan batu, banyak kios tapi tetap tak berisik

kios

Pingjiang Road bukan hanya tentang kanal. Jalan batu yang sejajar kanal ini, di sisi berseberangan, dipenuhi kios dan rumah-rumah. Di sini batas antara hunian dan ruang komersial menjadi kabur. Suasana belanja terasa hangat dan personal. Tidak ada papan merek besar atau iklan mencolok yang mengganggu mata. Setiap kios memiliki pintu kecil yang terbuka lebar, seolah etalase kenangan. Bangunan tua menyimpan cerita masing-masing.

Saya masuk ke sebuah kios suvenir. Di depan terpajang kartu pos bergambar kanal dan taman, kipas sutra, serta pembatas buku dari kain sutra. Aroma kayu cendana dari kipas bercampur dengan udara lembap kanal, menyapa hidung dengan lembut. Ada toko buku dengan sudut baca tersembunyi, nyaris tak terlihat dari jalan. Kios lain memajang perhiasan batu giok berdampingan dengan ilustrasi perempuan tempo dulu yang mengenakannya. Di sudut lain, penjual kue beras osmanthus mengukus dagangannya dalam bambu—mirip kue putu dengan ukuran berbeda.

Tak ada teriakan, pengeras suara, atau musik yang memekakkan telinga. Hanya pajangan dan asap putih yang perlahan keluar dari pemanas, menebarkan aroma harum seolah berbisik, “Di sini ada kue enak.”

Di satu kios, saya berhenti sejenak. Seorang perajin kaligrafi menulis aksara Tionghoa dengan kuas. Tangannya lincah menari di atas kertas hitam dengan tinta emas. Pemesannya menunggu dengan takzim. Dua gadis remaja mengenakan busana tradisional merah menyala, masing-masing memegang payung serasi. Mungkin mereka memesan tulisan untuk kekasih, atau puisi cinta. Menariknya, banyak kios dan ruang pajang di sini merupakan perpanjangan ruang keluarga, sehingga pengunjung tak hanya menikmati dagangan, tetapi juga suasana rumah dan cerita yang hidup.

Umbi lotus, banyak manfaat

umbi lotus

Potongannya tipis dan rapi, berbentuk lingkaran krem dengan rongga simetris seperti renda. Tampilannya menarik. Potongan umbi tersiram cairan bening yang membasahi teksturnya. Inilah umbi lotus rebus, makanan penutup setelah makan siang saya di sebuah restoran di Pingjiang, Suzhou. Gigitan pertama terasa renyah dengan sentuhan rempah, sedikit cuka, dan manis ringan. Umbi lotus sendiri memiliki rasa netral. Hidangan ini terasa sehat dan berkelas, sulit ditemui di sembarang tempat, apalagi di Jakarta. Lotus merupakan tumbuhan subtropis; ia tumbuh di daerah tropis, tetapi umbinya tidak berkembang optimal.

Baca juga: Taipei: Dari Taipei 101 hingga Stinky Tofu, Kota Modern Penuh Warna

Dalam pengobatan Tiongkok, umbi lotus dipercaya memiliki banyak manfaat: menenangkan pikiran, menyejukkan tubuh, dan berfungsi sebagai antioksidan alami. Umbi ini kaya serat, membantu kerja usus, dan memberi rasa kenyang lebih lama. Penelitian juga menemukan kandungan zat besi dan tembaga yang berperan dalam pembentukan sel darah merah dan pencegahan anemia. Rasanya yang netral cocok untuk salad dingin, tumisan, hidangan manis, maupun manisan.

Negara-negara Asia Timur merupakan konsumen umbi lotus: Jepang, Korea, Taiwan, dan terutama Tiongkok. Dalam jumlah terbatas, umbi ini juga ditemukan di Thailand, Vietnam, dan India bagian timur. Dalam kisah istana, umbi lotus kerap muncul dalam cerita Ratu Cixi dari Dinasti Qing. Sang ratu dikenal sangat teliti soal makanan dan percaya bahwa apa yang dikonsumsi menentukan kejernihan pikiran, kebugaran, dan umur panjang. Umbi lotus—dalam sup bening, tumisan ringan, atau rebusan gula batu—menjadi menu favoritnya. Konon, umur panjang dan kedudukannya yang kuat dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi umbi lotus.

Saya pun menikmati umbi lotus ini—sayangnya hanya di Suzhou. Kalau di Rawamangun, ke mana saya harus mencarinya?

Kontributor: Dr. Ir. Wahyu Saidi, MSc, seorang Entrepreneur, Peminat dan Penikmat Kuliner

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *