Bebal Komunikasi di Panggung Geopolitik: Retorika Trump tentang Venezuela, Iran, dan Greenland serta Analisis Reaksi Rusia dan China

geopolitik

Mata Akademisi, Milenianews.com – “Bebal komunikasi” dapat dipahami sebagai kondisi ketika seorang aktor terus menggunakan bahasa yang keras, simplifikatif, dan sarat klaim sepihak, sembari menolak refleksi kritis, mengabaikan sudut pandang lawan bicara, serta menutup kemungkinan koreksi diri.

Dalam situasi ini, komunikasi tidak lagi menjadi ruang pertemuan setara antar-subjek, melainkan berubah menjadi alat untuk menundukkan, mengarahkan, atau memanipulasi pihak lain sesuai kepentingan sendiri. Lawan komunikasi direduksi menjadi objek yang dapat diatur dan diinstruksikan.

Dalam konteks geopolitik, bebal komunikasi termanifestasi dalam retorika Presiden Donald Trump ketika berbicara tentang Venezuela, Iran, dan Greenland. Negara-negara tersebut diposisikan terutama sebagai masalah keamanan, ladang sumber daya, atau aset strategis yang harus “diambil alih”, bukan sebagai komunitas politik yang memiliki hak menentukan nasib sendiri.

Baca juga: Bebal Komunikasi: Ketika Pikiran Menolak Diajak Berbicara

Pola ini menandai pergeseran dari komunikasi yang berorientasi pada pemahaman bersama—sebagaimana ideal dalam teori tindakan komunikatif—ke arah komunikasi sebagai instrumen dominasi politik. Reaksi Rusia dan China terhadap kebijakan serta retorika Trump memperlihatkan bagaimana bebal komunikasi di tingkat satu aktor memicu produksi kontra-wacana dan pertarungan legitimasi di panggung global.

Venezuela: kedaulatan yang direduksi menjadi ladang minyak

Dalam kasus Venezuela, Trump mempresentasikan operasi militer penangkapan Nicolás Maduro sebagai solusi tegas atas krisis narkotika, migrasi, dan kekacauan politik. Ia kemudian menarasikan bahwa Amerika Serikat akan “menjalankan” pemerintahan Venezuela hingga tercipta transisi yang “aman dan tertib”, sembari membuka jalan bagi investasi besar-besaran perusahaan minyak AS.

Venezuela direduksi menjadi cadangan minyak dan ladang bisnis. Rakyat, institusi, serta sejarah politiknya tersubordinasi di bawah wacana “stabilisasi”, “keamanan”, dan “keuntungan” bagi perusahaan Amerika.

Di sini, bebal komunikasi terendus dengan jelas. Alih-alih menjadikan Venezuela sebagai subjek dialog multilateralisme, Trump memosisikannya sebagai objek rekayasa dan eksploitasi. Bahasa berfungsi sebagai alat pembenaran bagi tindakan koersif yang melampaui batas kedaulatan negara.

Iran: ancaman militer dan instrumentalisasi protes

Dalam relasi dengan Iran, pola serupa muncul dalam bentuk ancaman terbuka dan glorifikasi kekerasan militer. Trump mengingatkan publik bahwa “terakhir kali saya meledakkan mereka” melalui serangan pesawat B-2 terhadap fasilitas nuklir Iran, sembari mengancam tindakan lanjutan jika Teheran terus menembaki demonstran.

Di sisi lain, ia mengirim pesan “help is on its way” kepada para demonstran Iran, mendorong mereka untuk “mengambil alih institusi”, sambil mengelaborasi opsi intervensi militer, siber, dan operasi lainnya.

Dukungan terhadap demonstran bercampur dengan logika kalkulatif. Protes diposisikan sebagai momentum strategis untuk “menggulingkan rezim” dan memperkuat posisi tawar Amerika Serikat terhadap program nuklir Iran.

Bebal komunikasi tampak dalam cara Trump memaknai krisis: bukan sebagai tragedi kemanusiaan yang menuntut empati, negosiasi, dan penahanan diri, melainkan sebagai peluang strategis. Bahasa ancaman, ultimatum, dan klaim sepihak menggantikan dialog yang etis dan berorientasi pada perdamaian.

Greenland: kedaulatan dijadikan real estat strategis

Pada isu Greenland, bahasa Trump bergerak ke arah lain, namun tetap berada dalam pola yang sama. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat “membutuhkan” Greenland dan akan “melakukan sesuatu” terhadap pulau tersebut “whether they like it or not”, dengan dalih mencegah Rusia dan China menguasai kawasan Arktik.

Kedaulatan Denmark dan hak rakyat Greenland direduksi menjadi variabel sekunder di bawah narasi kepemilikan strategis. Negara berdaulat diperlakukan layaknya properti yang dapat dinegosiasikan, dibeli, bahkan diambil alih melalui “cara mudah” atau “cara sulit”.

Gaya ini memperlihatkan bebal komunikasi dalam bentuk ketumpulan sensitivitas etis terhadap subjek kolektif—bangsa, sejarah, dan identitas—karena seluruh percakapan dipaksa masuk ke dalam logika kepemilikan dan keamanan sepihak.

Reaksi Rusia dan China: kontra-narasi kedaulatan

Di Venezuela, Rusia secara resmi mengecam operasi penangkapan Maduro sebagai pelanggaran kedaulatan, namun kemudian memilih meredakan retorika dan menyesuaikan diri dengan realitas baru. Konfrontasi langsung dengan Washington dinilai berisiko melemahkan kalkulasi Rusia di Ukraina dan kawasan lain.

China, sebaliknya, mengutuk keras operasi tersebut sebagai bentuk toppling government yang melanggar hukum internasional. Beijing menuntut agar Amerika Serikat menghentikan campur tangan dalam urusan internal Caracas, sembari menggunakan momen ini untuk mengkritik hegemoni AS di belahan Barat.

Kedua negara memanfaatkan retorika Trump sebagai bukti tindakan sewenang-wenang Washington. Namun, di balik bahasa hukum internasional yang mereka gunakan, tersimpan kepentingan finansial dan strategis atas Venezuela yang ingin mereka lindungi.

Bebal komunikasi dan politik hegemonik global

Dalam krisis Iran, Rusia dan China kembali menyusun kontra-wacana atas ancaman Trump. Rusia memperingatkan bahwa serangan militer AS akan membawa “konsekuensi bencana” bagi Timur Tengah dan menuduh Washington memanfaatkan protes sebagai dalih perubahan rezim.

Baca juga: Strategi Komunikasi Dan Difusi Inovasi Pada Masa Pandemi Covid-19 Di Indonesia

China menegaskan penolakannya terhadap “campur tangan asing” serta menyalahkan sanksi sepihak AS sebagai pemicu instabilitas, sambil menampilkan diri sebagai pembela kedaulatan Iran.

Pada isu Greenland, China menolak dijadikan kambing hitam atas agresivitas AS di Arktik, sementara Rusia memilih “diam yang strategis”, melihat potensi melemahnya kohesi NATO tanpa perlu bertindak langsung.

Jika dibaca melalui kacamata teori tindakan komunikatif, retorika Trump dalam ketiga kasus tersebut berada pada kutub tindakan strategis. Bahasa digunakan untuk mengontrol dan menekan, bukan untuk mencapai pemahaman bersama. Reaksi Rusia dan China memang mengkritik bebal komunikasi tersebut, tetapi mereka pun tetap beroperasi dalam logika persaingan hegemonik, di mana komunikasi sering kali menjadi alat legitimasi kekuasaan, bukan sarana dialog emansipatoris.

Penulis: Saepullah, Dosen Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *