Niat Nulis Opini tapi Kok Jadi Artikel? Biar Nggak Salah Langkah, Simak Tips Ini

menulis opini

Milenianews.com – Di banyak media, kita sering membaca tulisan yang disebut “opini”. Tapi sebenarnya, apa itu opini? Singkatnya, opini adalah tulisan yang memuat pandangan, sikap, atau pemikiran penulis terhadap suatu isu, disertai alasan dan pertimbangan yang logis. Jadi, yang dibaca bukan cuma apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana penulis memandangnya. Di situlah letak “jiwa” sebuah opini.

Masalahnya, banyak orang ingin menulis opini, tapi yang lahir justru tulisan informatif, ringkasan materi kuliah, atau artikel yang sekadar menjelaskan sesuatu tanpa sikap. Padahal, menulis opini itu bukan cuma soal menyusun paragraf—tapi soal keberanian berpikir dan ketelitian merangkai kata.

Baca juga: Cara Menulis Press Release dengan Kaidah Jurnalistik di Era AI 2026

Biar nggak nyasar lagi, yuk pelan-pelan bahas beberapa hal penting yang sering jadi masalah dalam tulisan opini.

1. Tema itu bebas, tapi jangan sembarangan

Enaknya menulis opini adalah kita bebas memilih tema apa saja. Mau bahas pendidikan? Silakan. Budaya pop? Oke. Media sosial, kesehatan mental, organisasi kampus, bahkan hal-hal sepele tapi menggelitik pun sah-sah saja.

Tapi, kebebasan tema bukan berarti bebas tanpa arah. Banyak penulis yang memilih tema besar, tapi tidak tahu fokusnya mau dibawa ke mana. Tulisan akhirnya cuma mengelilingi isu tanpa benar-benar memegang satu gagasan utama.

Biar nggak melayang:

  • pilih satu tema, lalu persempit jadi fokus yang jelas,
  • putuskan sikap: mendukung, mengkritik, setuju sebagian, atau menawarkan sudut pandang baru.
  • pastikan pembaca bisa menjawab: “Sebenarnya penulis ingin bilang apa?”

Tema boleh luas, tetapi opininya harus tetap tajam.

2. Pembahasan jangan kabur: fokus itu penting

Kadang tulisan opini terasa seperti jalan-jalan tanpa peta. Di awal ngomong A, tiba-tiba pindah ke B, lalu singgah sebentar ke C, dan kembali entah ke mana. Akhirnya, penulis capek, pembaca lebih capek.

Padahal, opini yang baik itu punya arah. Pembahasan mengalir, tapi tetap terikat pada satu benang merah. Setiap paragraf idealnya berkontribusi memperkuat gagasan utama.

Coba cek:

  • Apakah setiap bagian mendukung ide inti?
  • Ada bagian yang cuma mengulang atau sekadar memenuhi jumlah kata?
  • Kalau satu paragraf dihapus, apakah maknanya berubah?

Kalau jawabannya “tidak berubah”, berarti paragraf itu cuma numpang lewat.

3. Jangan takut berpendapat: opini butuh suara pribadi

Ini kesalahan paling klasik: tulisan opini tapi minim opini. Banyak yang malah penuh kutipan tokoh, jurnal, teori, hadis, atau referensi ke sana-sini. Saat dibaca, pembaca jadi bingung, “Ini pendapat penulis atau rangkuman referensi?”

Informasi itu penting. Data juga perlu. Tapi itu semua hanyalah pendukung. Yang paling dicari dari opini adalah cara penulis memandang persoalan.

Dan satu hal penting: opini tidak harus selalu memakai kata “saya” atau “menurut saya”. Tanpa kata itu pun, sikap penulis tetap bisa terasa dari pilihan kalimat, cara bertutur, dan arah argumennya. Sebaliknya, sekadar menambahkan frasa “menurut saya” tidak otomatis membuat sebuah tulisan menjadi opini yang kuat.

Yang paling utama tetap isi pikirannya, bukan sekadar labelnya.

4. Jangan hanya deskriptif dan informatif

Jangan salah kaprah antara opini dan artikel. Banyak naskah yang ditolak bukan karena temanya jelek, tapi karena bentuknya salah. Alih-alih opini, yang muncul adalah:

  • artikel informatif,
  • tulisan deskriptif,
  • atau bahkan terasa seperti makalah akademik.

Tulisan semacam ini biasanya hanya memaparkan fakta dan teori tanpa memperlihatkan sikap penulis. Akibatnya, pembaca selesai membaca tanpa tahu arah pandangan yang ingin disampaikan.

Ciri tulisan yang masih bersifat informatif:

  • hanya menyampaikan data, teori, atau penjelasan,
  • tidak menunjukkan sikap atau posisi penulis,
  • tidak memiliki kalimat penegasan atau argumen pribadi,
  • pembaca tidak menangkap pendirian penulis di akhir tulisan.

Singkatnya, jika sebuah tulisan hanya menyampaikan informasi, itu adalah artikel informatif. Opini baru hadir ketika penulis menyertakan pandangan dan cara memaknai informasi tersebut.

5. Jangan anggap sepele teknis penulisan

Kadang, ide sudah bagus, argumen menarik, tapi… teknis penulisannya berantakan. Typo di mana-mana, tanda baca kacau, kalimatnya panjang tapi tidak jelas, belum sesuai KBBI dan EYD. Sayang banget.

Padahal, kerapian tulisan itu bukan bonus. Itu bentuk tanggung jawab penulis.

Sederhana saja:

  • biasakan membaca ulang tulisan sendiri,
  • rapikan kalimat yang terlalu panjang,
  • hindari pengulangan yang tidak perlu,
  • cek ejaan, tanda baca, dan kesesuaian dengan KBBI serta EYD V.

Kalau pun memakai AI, gunakan secukupnya. Jadikan sebagai alat bantu, bukan mesin yang menulis sepenuhnya untukmu. Pada akhirnya, tulisan opini harus tetap mencerminkan pikiran penulisnya sendiri.

Baca juga: Update Algoritma SEO Google 2026

Last but not least!

Menulis opini itu bukan perkara “bisa ngetik” saja. Ia soal memilih tema dengan sadar, menjaga pembahasan tetap fokus, berani menyuarakan pendapat, tidak terjebak menjadi sekadar artikel informatif, dan tentu saja tetap rapi secara teknis.

Kalau semua itu diperhatikan, opini bukan hanya layak dibaca, tapi juga punya nilai. Dan seperti hal-hal lain dalam hidup: semakin sering dipraktikkan, semakin matang hasilnya. Banyak membaca, banyak mengamati, dan jangan takut menulis. Karena opini tidak akan pernah hidup kalau hanya disimpan di kepala.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *