Lebih Baik Menyesal karena Menolak daripada Kelelahan karena Mengiyakan

say no

Mata Akademisi, Milenianews.com – Pernah nggak, masih terjaga tengah malam sambil menggaruk kepala karena harus menyelesaikan tugas tambahan yang sebenarnya nggak ingin diambil sejak awal? Rasa kesal itu sering kali bukan tertuju pada orang yang meminta bantuan, melainkan pada diri sendiri—karena gagal mengucapkan satu kata sederhana: tidak.

Banyak orang tumbuh dengan kecenderungan menjadi people-pleaser. Takut dicap egois, tidak kooperatif, atau mengecewakan orang lain. Padahal, setiap kali mengatakan “ya” pada sesuatu yang tidak diinginkan atau bukan prioritas, pada saat yang sama sedang mengatakan “tidak” pada diri sendiri—pada waktu istirahat, fokus, dan kesehatan mental. Kebiasaan mengiyakan inilah yang perlahan berubah menjadi sumber stres kronis.

Baca juga: Berhenti Mencari Kambing Hitam, Jadikan Kesalahan Kunci Kedewasaan Berpikir

Rasa bersalah sesaat setelah menolak sebenarnya hanyalah harga kecil untuk menjaga kewarasan dan energi. Menetapkan batasan bukanlah bentuk keegoisan, melainkan tindakan perlindungan diri yang mendasar dan perlu.

Tiga kerusakan mental akibat “ya” yang berlebihan

Kata “ya” yang tidak tulus bukan hanya mencuri waktu, tapi juga menggerogoti kondisi mental secara perlahan.

1. Energi yang Terfragmentasi

Setiap komitmen tambahan adalah potongan kecil dari energi yang tercecer. Fokus terpecah, peran terus berganti. Dua jam yang seharusnya dipakai untuk menulis atau beristirahat justru habis untuk memenuhi permintaan orang lain. Akhirnya, pekerjaan utama tertunda dan waktu istirahat makin terkikis.

2. Resentment atau Kemarahan Terpendam

Ini dampak paling beracun. Muncul rasa kesal pada diri sendiri karena tidak berani menolak, lalu secara tidak sadar juga menyimpan amarah pada orang yang meminta bantuan. Perasaan ini menumpuk menjadi stres tak kasatmata—mudah tersinggung, cepat lelah secara emosional, dan suasana hati jadi tidak stabil. Ini tanda jelas bahwa batasan pribadi sudah terinjak.

3. Kehilangan Kendali atas Hidup

Terlalu sering menerima tuntutan dari luar berarti membiarkan orang lain mengatur jadwal dan prioritas hidup. Hidup jadi reaktif, bukan proaktif. Tujuan pribadi—belajar hal baru, olahraga, membaca, atau sekadar bernapas—terus tertunda karena tidak pernah ada energi yang tersisa.

Tiga cara elegan mengucapkan “tidak”

Menolak tidak harus kasar. Kuncinya jelas, jujur, dan ringkas.

1. Tunda Jawaban dengan Sadar

Hindari jawaban spontan. Ambil waktu untuk berpikir. Misalnya, “Makasih sudah menghubungi. Lagi perlu cek jadwal dan prioritas dulu, nanti aku kabari.” Cara ini mengurangi tekanan dan memberi ruang untuk keputusan yang lebih rasional.

2. Tolak Permintaan, Bukan Orangnya

Pisahkan hubungan personal dari tugas yang diminta. Contohnya, “Aku menghargai kepercayaannya, tapi saat ini belum bisa berkomitmen karena fokus di prioritas lain.” Tak perlu penjelasan panjang—semakin panjang alasan, semakin besar celah untuk dibujuk.

3. Tawarkan Alternatif yang Masuk Akal

Jika memungkinkan, beri solusi parsial tanpa mengorbankan waktu sendiri. Misalnya, “Aku nggak bisa hadir di rapatnya, tapi bisa kirim rangkuman poin penting.” Dukungan tetap ada, batasan tetap terjaga.

Baca juga: Capek Mulu Padahal Baru 20-an? Bisa Jadi Kamu Burnout!

Mengatakan “tidak” adalah investasi harian untuk kualitas hidup, bukan penolakan terhadap orang lain. Kelelahan mental dan burnout adalah harga yang jauh lebih mahal dibanding rasa tidak enak sesaat setelah menetapkan batasan.

Mungkin terasa canggung di awal. Tapi perlahan, energi dan fokus akan kembali. Waktu dan tenaga adalah aset paling berharga—dan keduanya layak dilindungi.

Kapan terakhir kali bilang “ya” padahal sebenarnya ingin berkata “tidak”?

Penulis: Shofwan Fuad Abdussalim, Mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah IAI SEBI

Profil Singkat: Seorang pembelajar mahasiswa yang percaya bahwa kesuksesan harus selalu didasari keberlanjutan. Selain berkutat dengan buku, ia juga aktif di beberapa organisasi kampus.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *