Milenianews.com, Mata Akademisi – Peristiwa banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatra, khususnya Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada November 2025, kembali menyadarkan manusia akan rapuhnya relasi antara manusia dan alam. Bencana ini tidak hanya menimbulkan kerugian material serta korban jiwa, tetapi juga memunculkan pertanyaan filosofis tentang bagaimana manusia memahami alam dan posisinya dalam tatanan semesta.
Apakah peristiwa tersebut sekadar kebetulan alamiah, atau justru menjadi cerminan kegagalan manusia dalam membaca dan mematuhi hukum-hukum alam yang telah ditetapkan?
Fenomena Alam dalam Perspektif Filsafat Ilmu
Dalam perspektif filsafat ilmu, fenomena alam tidak dapat dilepaskan dari kerangka berpikir ilmiah yang rasional, empiris, dan kausal. Ilmu alam berangkat dari asumsi bahwa alam memiliki keteraturan dan bekerja berdasarkan hukum sebab-akibat yang dapat diamati dan dianalisis.
Namun, dalam pandangan Al-Qur’an, alam tidak hanya dipahami sebagai realitas fisik semata. Alam juga merupakan ayat kauniyah, yakni tanda-tanda kebesaran Allah yang mengandung makna dan pesan moral. Manusia ditempatkan sebagai khalifah di bumi, sehingga relasi manusia dan alam memiliki dimensi tanggung jawab yang bersifat etis dan spiritual.
Oleh karena itu, memahami fenomena banjir dan longsor menuntut integrasi antara ilmu alam dan nilai-nilai wahyu yang terkandung dalam Al-Qur’an.
Ontologi: Hakikat Banjir dan Longsor sebagai Realitas Alam
Dalam filsafat ilmu, dimensi ontologi membahas hakikat realitas yang menjadi objek kajian. Secara ontologis, banjir dan longsor merupakan fenomena alam yang nyata dan objektif, bukan peristiwa metafisik atau kebetulan tanpa sebab.
Kejadian ini berkaitan langsung dengan kondisi fisik alam, seperti curah hujan, struktur tanah, tutupan hutan, serta sistem hidrologi. Dengan demikian, bencana tersebut merupakan bagian dari realitas alam yang tunduk pada hukum keteraturan dan keseimbangan.
Epistemologi: Pengetahuan Ilmiah tentang Bencana
Dimensi epistemologi membahas bagaimana pengetahuan diperoleh dan apa dasar kebenarannya. Dalam ilmu alam, pengetahuan tentang banjir dan longsor diperoleh melalui metode ilmiah yang menekankan observasi, pengukuran, serta analisis data.
Pendekatan ini sejalan dengan empirisme yang mengandalkan pengalaman inderawi, serta rasionalisme yang menggunakan akal untuk menemukan pola dan hukum alam. Melalui pendekatan epistemologis, banjir dan longsor dapat dijelaskan sebagai akibat dari interaksi kompleks antara faktor alam dan aktivitas manusia.
Aksiologi: Dimensi Etis dalam Ilmu Alam
Aksiologi menyoroti nilai, tujuan, dan implikasi etis dari ilmu pengetahuan. Ilmu alam tidak bersifat bebas nilai (value-free), karena penerapannya selalu berdampak pada kehidupan manusia dan kelestarian lingkungan.
Pengetahuan tentang penyebab banjir dan longsor seharusnya diarahkan pada upaya pencegahan, mitigasi, dan perbaikan lingkungan. Ilmu yang digunakan semata-mata untuk eksploitasi alam demi keuntungan justru akan memperparah krisis ekologi.
Baca juga: Qirā’at QS. Al-Ahzab: 33 dan Ruang Karir Perempuan dalam Perspektif Matan Syatibi
Kerusakan Ekosistem dan Pola Bencana Berulang
Hatma Suryatmojo, peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi Daerah Aliran Sungai, menyatakan bahwa banjir dan longsor bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Fenomena ini merupakan bagian dari pola berulang bencana hidrometeorologi yang meningkat dalam dua dekade terakhir.
Kombinasi curah hujan tinggi, kerusakan ekosistem hutan di hulu DAS, deforestasi masif seperti penebangan liar, pembukaan kebun, serta pertambangan emas menjadi faktor utama. Kondisi tersebut menyebabkan hilangnya daerah resapan air dan melemahkan kemampuan hutan dalam menahan hujan ekstrem, sehingga meningkatkan risiko longsor.
Alam sebagai Sistem yang Memiliki Batas
Alam memiliki daya dukung dan daya tampung yang terbatas dalam menghadapi cuaca ekstrem. Kapasitas ini sangat bergantung pada kelestarian lingkungannya. Ketika kerusakan melampaui ambang batas, bencana menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan.
Ilmu alam memandang alam sebagai sistem yang tunduk pada hukum kausalitas. Ketika keseimbangan sistem ini terganggu oleh ulah manusia, maka bencana muncul sebagai bentuk reaksi alamiah.
Ontologi Al-Qur’an: Alam sebagai Ayat Kauniyah
Al-Qur’an memperluas pemahaman ontologis dengan menempatkan alam sebagai ciptaan Allah yang sarat makna. Alam tidak hanya “ada”, tetapi juga “bermakna” bagi manusia yang mau berpikir dan merenung.
Sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran ayat 190, penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang berakal (ulul albab).
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
Kerusakan Alam sebagai Akibat Ulah Manusia
Secara epistemologis, Al-Qur’an berfungsi sebagai wahyu yang melengkapi pengetahuan empiris. Dalam QS. Ar-Rum ayat 41 ditegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan akibat dari perbuatan manusia.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Menurut Al-Ashfahani, al-fasad berarti keluarnya sesuatu dari keseimbangan. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa alam raya ibarat satu tubuh yang utuh, di mana setiap bagian saling memengaruhi.
Manusia sebagai Khalifah dan Amanah Etis
Hubungan manusia dan alam menuntut kesadaran akan keseimbangan. Ketika aktivitas manusia melampaui batas, alam akan menunjukkan reaksinya. Banjir dan longsor bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga cerminan krisis moral dan spiritual manusia.
Al-Qur’an memberikan dasar aksiologis yang kuat melalui konsep khalifah fi al-ardh. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 30 disebutkan bahwa manusia diberi amanah sebagai pengelola bumi.
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ
Integrasi Ilmu dan Wahyu dalam Membaca Bencana
Ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa bencana bukan sekadar hukuman, melainkan peringatan agar manusia melakukan introspeksi dan kembali pada prinsip keseimbangan. Al-Qur’an tidak menafikan penjelasan ilmiah, tetapi justru memperdalamnya dengan dimensi moral dan spiritual.
Banjir dan longsor di Sumatra merupakan fenomena kompleks yang menuntut pendekatan multidimensional. Integrasi antara ilmu alam dan Al-Qur’an mengajarkan bahwa memahami bencana tidak cukup hanya dengan membaca data dan hukum alam, tetapi juga memerlukan kesadaran etis dan tanggung jawab spiritual.
Dengan kesadaran tersebut, manusia diharapkan mampu mengelola alam secara bijak sebagai amanah Tuhan bagi generasi kini dan mendatang.
Penulis: Zelinda Sri Wardatul Ummah, Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













