UIN Ar-Raniry Gelar ICOSOPP 2025, Soroti Ekonomi Kreatif Berbasis Nilai Islam

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh menggelar The 4th International Conference on Shariah-Oriented Public Policy in Islamic Economic System (ICOSOPP) 2025, tanggal 26-27 November 2025 di Aula SBSN UIN Ar-Raniry dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry. (Foto: Dok UIN Ar-Raniry)

Milenianews.com, Banda Aceh— Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry Banda Aceh menggelar The 4th International Conference on Shariah-Oriented Public Policy in Islamic Economic System (ICOSOPP) 2025 dengan mengusung tema “Empowering the Creative Economy Through Islamic Values: Innovations, Ethics, and Sustainable Development Goals.”

Konferensi internasional yang berlangsung selama dua hari, 26-27 November 2025 di Aula SBSN UIN Ar-Raniry dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry itu  menghadirkan peneliti, akademisi, dan praktisi dari Indonesia, Malaysia, Singapura, hingga Pakistan. Tahun ini, panitia menerima 109 makalah dari berbagai perguruan tinggi di Asia Tenggara.

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof.  Dr.  Mujiburrahman M.Ag secara resmi membuka konferensi dan menekankan pentingnya integrasi nilai syariah dalam inovasi ekonomi kreatif.

“Membangun ekonomi kreatif yang sesuai syariah memerlukan integrasi prinsip-prinsip etika Islam dengan inovasi modern untuk membuka peluang pasar global yang luas, terutama pasar halal yang sedang berkembang pesat pada berbagai negara di dunia,” ujarnya.

Ia menegaskan lima prinsip utama ekonomi kreatif syariah yakni tauhidullah, keadilan, larangan riba dan gharar, kejujuran serta amanah, dan produk yang halal serta baik.

“Prinsip-prinsip inilah yang menjadi landasan diskusi dan kajian para peserta ICOSOPP tahun ini, dengan harapan hasil-hasil diskusi dapat memperkuat model ekonomi kreatif yang etis, inovatif, dan berkelanjutan bagi masyarakat Muslim global,” kata Mujiburrahman.

Sementara Dekan FEBI UIN Ar-Raniry, Prof.  Dr.  Hafas Furqani MEc, menyebut tema ekonomi kreatif dipilih karena relevan dengan arah kebijakan nasional. Pemerintah Indonesia tengah mendorong sektor ekonomi kreatif sebagai kekuatan baru perekonomian, yang tahun ini menghasilkan sekitar Rp  749 triliun.

“Dunia bergerak dari resource-based economy, ke knowledge-based economy, dan kini menuju creative-based economy,” kata Hafas.

Menurutnya, kreativitas generasi muda, teknologi digital, dan perkembangan kecerdasan buatan menjadi katalis yang mengubah lanskap ekonomi global. Karena itu, forum seperti ICOSOPP penting untuk memperkuat riset dan diskursus akademik terkait ekonomi dan keuangan syariah.

ICOSOPP pertama digelar pada 2015 bekerja sama dengan Islamic Research and Training Institute (IRTI), Arab Saudi. Setelah jeda beberapa tahun, konferensi dilanjutkan kembali pada 2023 dan 2024 sebelum hadir dalam edisi keempat tahun ini.

“Ini adalah forum bersama untuk berbagi gagasan dan penelitian terkait ekonomi dan keuangan syariah. Kami berkomitmen menjaga tradisi akademik ini,” kata Prof Hafas.

Ketua Panitia ICOSOPP 2025, Dr.  Nevi Hasnita M.Ag menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta. “Tahun ini kami menerima 109 makalah dari Thailand, Malaysia, Singapura, Pakistan, hingga berbagai wilayah Indonesia. Ini menunjukkan semakin kuatnya jejaring akademik di kawasan,” ujarnya.

Baca Juga : UIN Ar-Raniry Gelar Workshop Pemeringkatan Internasional untuk Perkuat Langkah Menuju World Class University

Nevi berharap konferensi ini menghasilkan kajian berbasis bukti yang dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) sesuai kerangka Maqāsid al-Sharī‘ah.

Pada sesi seminar internasional menghadirkan tiga pembicara yakni Assoc. Prof. Muhammad Shahrul Ifwat bin Ishak (UNISZA Malaysia) membahas pemberdayaan pemuda Muslim dalam keuangan sosial dan ekonomi halal.

Kemudian, Ir.  H Putu Rahwidhiyasa MBA (KNEKS) memaparkan model bisnis syariah dan peran sertifikasi halal di sektor kreatif dan terakhir Dr.  Mohd Khairi Ismail (UiTM Terengganu) yang fokus pada ekonomi digital, teknologi baru, dan inovasi etis.

“Hari kedua berisi tiga sesi paralel yang membahas isu-isu ekonomi kreatif, keuangan sosial, perbankan syariah, filantropi, hingga pariwisata halal,” kata Nevi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *