Milenianews.com, Jakarta – Jepang akhirnya masuk babak baru dalam sejarah politiknya. Sanae Takaichi, politisi konservatif dari Partai Demokrat Liberal (LDP), resmi menjabat sebagai perdana menteri perempuan pertama setelah mengantongi 237 suara di Majelis Rendah. Momen ini langsung jadi sorotan dunia, mengingat politik Jepang sudah lama banget didominasi laki-laki.
Dalam pernyataan resminya di laman Kantor Perdana Menteri Jepang pada 21 Oktober 2025, Takaichi mengatakan, “Saya bertekad membangun ekonomi Jepang yang kuat dan tegas melindungi kepentingan nasional Jepang.” Pernyataan yang langsung nunjukin vibes kepemimpinan tegas ala Takaichi.
Baca juga: Inggris Akan Gunakan Jaringan 5G dari Jepang untuk Gantikan Huawei
Kabinet baru: Bersejarah, tapi minim cewek
Meski Takaichi berhasil mencetak sejarah sebagai PM perempuan pertama, publik Jepang langsung menyoroti komposisi kabinet barunya. Dari 19 kursi menteri, hanya dua perempuan yang ia pilih. Banyak yang merasa ini agak plot twist, karena ekspektasinya PM perempuan = lebih banyak perempuan masuk pemerintahan.
Menanggapi kritik itu, Takaichi merespons lewat pernyataan resmi 21 Oktober 2025, “Saya memilih menteri berdasarkan kemampuan, bukan gender. Kesempatan yang setara adalah prinsip saya.” Meski tetap dibela, analis menilai keputusan tersebut membuat harapan reformasi representasi gender jadi terasa “masih jauh dari kenyataan.”
Fokus pemerintahan: Amankan negeri, pererat aliansi AS
Begitu dilantik, Takaichi langsung tancap gas dengan agenda keamanan dan hubungan luar negeri. Ia menegaskan bahwa kerja sama Jepang–Amerika Serikat akan jadi prioritas utama, terutama di tengah kondisi geopolitik Asia Timur yang makin panas.
Dalam konferensi pers resminya pada 28 Oktober 2025, Takaichi menegaskan, “Japan–U.S. Alliance adalah fondasi diplomasi dan keamanan Jepang… Kami akan meningkatkan kemampuan deterrence dan respons serta membuka babak baru dalam hubungan kedua negara.”
Untuk kebijakan dalam negeri, ia membawa sejumlah rencana besar, mulai dari reformasi sistem jaminan sosial, penanganan inflasi, hingga wacana “back-up capital” agar Jepang lebih siap menghadapi krisis besar.
Riwayat hidup yang Bbkin publik melirik
Meski kini dikenal sebagai politisi konservatif yang tegas, masa muda Takaichi justru punya sisi yang cukup mengejutkan. Media Jepang pernah menyoroti bahwa ia dulu adalah drummer band heavy metal dan penggemar motor gede. Perjalanan dari anak band menuju kursi perdana menteri membuat sosoknya makin menarik perhatian, terutama di kalangan generasi muda.
Baca juga: Sanae Takaichi Jadi PM Perempuan Pertama Jepang, Tapi Dihadang Krisis Koalisi dan Ancaman Politik
Kemenangan Takaichi memang jadi simbol penting bagi representasi perempuan di Jepang. Namun gaya kepemimpinan dan pandangan politiknya yang cenderung konservatif bikin banyak pihak penasaran: apakah kebijakan Jepang bakal bergerak semakin ke kanan?
Dalam pernyataan resminya yang dirilis pada 21 Oktober 2025, ia menutup dengan keyakinan, “Saya percaya pada kekuatan dan vitalitas rakyat Jepang.”
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.








