Anda Mahasiswa? Ini Tips Jitu Lulus Tepat Waktu 

Dosen Konselor IPB University, Dr. Ranti Wiliasih memberikan tips tiga strategi lulus tepat waktu. (Foto: Dok IPB University)

Milenianews.com, Bogor– Dosen Konselor IPB University, Dr.  Ranti Wiliasih, membagikan strategi ampuh agar mahasiswa dapat menyelesaikan studi tepat waktu. Dalam wawancara tertulis di Bogor, Jumat  (15/8/2025), ia mengajak mahasiswa agar menggunakan kerangka berpikir The 7 Habits of Highly Effective People, program yang telah diajarkan kepada mahasiswa baru IPB sejak 2019.

“Jika rekan-rekan mahasiswa ingin lulus tepat waktu, jadikan kelulusan sebagai tujuan utama dari kegiatan perkuliahan,” tegas Dr.  Ranti. Ia menyarankan mahasiswa untuk menuliskan tujuan tersebut.

Bahkan, lanjutnya, “Kalau perlu, mahasiswa bisa cosplay, berfoto menggunakan toga kelulusan ‘Ini saya 4 tahun ke depan’. Letakkan foto itu di kamar, di meja belajar. Dengan begitu, kita akan tetap ingat akan lulus tepat waktu dan selanjutnya akan mengatur langkah dan strategi sesuai dengan tujuan tersebut.

Tujuan ini bisa juga dibagikan kepada orang-orang terdekat. “Ketika terlupa atau lalai dengan tujuan kita, maka akan ada orang-orang yang mengingatkan akan tujuan yang sudah ditetapkan,” sebutnya.

Tiga Strategi Lulus Tepat Waktu

Dr Ranti menjelaskan tiga strategi praktis yang bisa dilakukan mahasiswa.

Pertama, hitung matematis beban studi. Mahasiswa harus mengetahui total satuan kredit semester (SKS) yang diperlukan untuk lulus dan membaginya sesuai target waktu kelulusan. Misalnya, jika syarat lulus 150 SKS untuk 8 semester, maka setiap semester harus mengambil 21–24 SKS.

“Penetapan tersebut juga berarti ada target capaian nilai yang harus dilampaui sehingga dapat mencapai 24 SKS per semesternya. Jadi kita tahu, berapa minimal nilai per mata kuliah sehingga tercapai IPK yang kita targetkan,” pesannya.

Kedua, tetapkan target nilai dan pemahaman komponen penilaian. “Untuk mencapai nilai yang baik, mahasiswa tidak boleh melewatkan komponen penilaian seperti ujian, tugas, praktikum, dan keaktifan,” jelasnya. “Jangan menganggap remeh bobot penilaian kecil, karena bisa jadi itu menjadi penentu kelulusan,” ujarnya.

Ketiga, susun agenda mingguan. Dr.  Ranti menekankan pentingnya menjadwalkan aktivitas penting sebelum minggu dimulai, termasuk jadwal ibadah, kuliah, pengerjaan tugas, organisasi, keluarga, dan waktu pribadi.

“Agenda yang sudah disusun kita simpan di handphone atau notebook. Jadi kalau ada kegiatan lain yang tidak penting dapat dilakukan di luar jam yang sudah diagendakan. Perencanaan ini sangat penting karena jika gagal merencanakan berarti kita sedang merencanakan kegagalan,” tegasnya.

Tugas Akhir: Final Boss

Menurut Dr.  Ranti, fase tugas akhir ibarat “final boss atau raja terakhir”, masa-masa tersulit karena bergantung pada kedisiplinan individual. Namun menurutnya, “Yang paling penting adalah tetap kompak dengan tim bimbingan agar bisa saling menyemangati dan tidak tertinggal timing untuk lulus tepat waktu.”

Ia memperingatkan bahaya kehilangan kebersamaan dengan teman sebimbingan yang dapat menyebabkan keengganan ke kampus karena rasa malu dan takut bertemu pembimbing. Kondisi ini bahkan bisa berujung pada stres dan keputusan tidak menyelesaikan kuliah.

Organisasi: Penunjang atau Penghambat?

Menanggapi kekhawatiran mahasiswa tentang kegiatan organisasi, Dr. Ranti menegaskan bahwa organisasi justru penting untuk melatih soft skill seperti kemampuan kerja sama dan problem solving.

“Banyak mahasiswa yang lebih cepat mendapat pekerjaan karena memiliki soft skill baik melalui pengalaman organisasi,” ungkapnya. Namun, ia mengingatkan agar tidak berlebihan hingga mengabaikan tugas utama, yaitu menyelesaikan perkuliahan.

“Sesuaikan juga dengan waktu, minat, dan kemampuan diri. Pintar-pintar memilih organisasi yang dapat menjawab kebutuhan diri sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai,” tambahnya.

Bahaya Menjadi “Kupu-Kupu”

Dr.  Ranti juga memperingatkan bahaya menjadi mahasiswa tipe “kupu-kupu” (kuliah pulang-kuliah pulang). “Kebanyakan mahasiswa setelah sampai rumah atau kost hanya tidur, sedangkan jika di kampus, kita dapat mengerjakan lebih banyak hal baik terkait dengan tugas-tugas kuliah maupun mengerjakan hobi,” ujarnya.

Menurutnya, ada empat kerugian mahasiswa “kupu-kupu”: tidak memiliki koneksi pertemanan, kehilangan nilai lebih sebagai mahasiswa, terlewat informasi penting seperti magang, dan menjadi tidak produktif.

“Ingat pepatah ‘1.000 teman masih kurang’. Informasi magang dan peluang lainnya hanya didapat ketika kita memiliki banyak teman dan aktif di kampus,” pesannya.

Bahaya Judol dan Pinjol

Tak lupa, ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menghindari judi online (Judol) dan pinjaman online (Pinjol).  Pasalnya, dua hal ini bisa menjadi masalah besar yang mengganggu perkuliahan dan kehidupan mahasiswa.

“Banyak yang awalnya iseng main judol, awalnya menang setelah itu makin ketagihan dan buntutnya jadi kalah. Setelah kalah, penasaran lalu pinjam uang sana-sini, termasuk pinjol. Akhirnya, ini menjadi masalah yang dapat menguras mental dan energi untuk membereskannya dan bisa sangat menghambat dalam proses kelulusan tepat waktu,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *