Milenianews.com, Jakarta – Salah satu tri dharma perguruan tinggi yang paling memiliki angka kredit yang cukup valuable bagi individu maupun organisasi, yaitu penelitian dan publikasi. Secara individu, hal ini menjadi salah satu kriteria penilaian bagi mereka yang akan mengurus kenaikkan jenjang karier fungsional maupun kepangkatan/golongannya.
Selain itu juga, sebagai dosen yang telah tersertifikasi, mereka memiliki kewajiban untuk melakukan penelitian dan publikasi sebagai salah satu indikator penilaian pada pelaporan Beban Kerja Dosen (BKD) di setiap semesternya.
Baca juga : Dosen S2 UNM Paparkan Etika IT dalam Kuliah Umum Matrikulasi
Lebih lanjut, melalui penelitian dan publikasi ini, keahlian dosen akan semakin terasah. Sehingga bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi pembicara, reviewer, konsultan, penerima hibah, dan kolaborator di bidang yang mereka geluti.
Secara organisasi, penelitian dan publikasi ini memiliki dampak yang signifikan. Di Indonesia, penilaian terkait dengan aspek ini dapat dicek pada masing-masing akun SINTA di setiap Perguruan Tinggi.
Semakin banyak penelitian dan publikasi internasional bereputasi yang berdampak, maka akan semakin meningkatkan skor reputasi Program Studi, Fakultas, maupun Universitasnya.
Sebagai salah satu indikator keberhasilan suatu Perguruan Tinggi, penelitian dan publikasi internasional juga menjadi sarana komunikasi antar masyarakat ilmiah dari berbagai negara yang paling mumpuni.
Melalui publikasi internasional bereputasi ini, dapat menunjukkan posisi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Tanah Air. Selain itu, tentu saja dapat menjadi barometer kontribusi Indonesia bagi perkembangan dunia.
Namun, untuk dapat menembus publikasi internasional bereputasi itu bukanlah hal yang mudah, apalagi cukup banyak jurnal-jurnal internasional bereputasi yang menetapkan biaya article processing and publication charge yang dibutuhkan cukup tinggi. Sehingga diperlukan upaya-upaya jitu yang strategis dan cerdas untuk dapat menaklukkannya.
Salah satu dosen Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya, telah menaklukkan sebagian besar jurnal-jurnal internasional bereputasi kelas wahid dengan berbagai upaya jitu yang strategis dan cerdas.
Ia adalah Dominikus David Biondi Situmorang, S.Pd., M.Pd., M.Si., C.T., C.PS., C.BNLP, seorang dosen muda yang memiliki segudang publikasi internasional bereputasi.
Di usianya yang terbilang masih muda, ia sudah dipercaya untuk menjadi pembicara di berbagai event kampus di Tanah Air, baik dalam skala Nasional maupun Internasional. Ia juga sering kali berbagi tips and tricks untuk dapat tembus ke jurnal-jurnal internasional bereputasi dengan cara-cara strategis dan cerdas, yang selama ini mungkin jarang dan mungkin tidak diketahui oleh sebagian besar dosen di Indonesia.

Hal ini yang membuatnya menerima penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dengan tajuk “The First Indonesian who becomes an Associate Editor of Heliyon Psychology (Elsevier – Scopus Q1)”, pada 3 April 2023 waktu lalu.
Kisahnya juga tergolong cukup unik, karena pada awalnya, di bulan Agustus 2020, David hanya berniat “iseng-iseng saja” melamar sebagai salah satu reviewer ke Heliyon Psychology, dengan maksud agar mendapatkan privilege untuk article publication charge waiver atau publikasi gratis/tanpa biaya di jurnal tersebut.
Tanpa menunggu lama, tim redaksional Heliyon membalas emailnya dengan penerimaan beliau sebagai salah satu Advisory Board di Heliyon Psychology. Sebagai jurnal internasional bereputasi yang di publis oleh Elsevier, Heliyon merupakan salah satu jurnal terkemuka kelas atas yang memiliki Impact Factor (IF) yang cukup tinggi, sehingga memiliki Percentile yang masuk ke dalam kategori Quartile 1 (Q1) berdasarkan indeksasi Scopus.
Baca juga : Antusiasme Wali Murid di Presgo Expo 2023: The Best Banget
Setelah diterima sebagai salah satu Advisory Board, ia langsung menerima pekerjaan sebagai reviewer untuk beberapa artikel. Selain itu juga, di tengah pekerjaannya sebagai reviewer, ia juga melakukan proses submission artikelnya yang berjudul “Perceived parenting styles, thinking styles, and gender on the career decision self-efficacy of adolescents: how & why?” di Heliyon Psychology ini.
Walaupun bekerja sebagai salah satu Advisory Board di jurnal ini, semua proses perjalanan artikel ini sampai dengan terbit ditangani secara objektif dan double-blind oleh Associate Editor dan para reviewers yang lainnya; yang tidak diketahui oleh David. Melalui proses revisi sebanyak 5 kali, akhirnya pada Maret 2021, artikel tersebut berhasil accepted and published, tanpa biaya sepeserpun.
Sampai pada akhir tahun 2021, ia mendapatkan sertifikat penghargaan dari Elsevier, karena telah berhasil me-review sebanyak 19 artikel sejak Agustus 2020. Hal ini yang membuatnya mendapatkan official invitation untuk menjadi Associate Editor di Heliyon Psychology dari salah satu Editorial Team Leader of Heliyon bernama Ms. Fiona Ye, pada April 2022.
Selanjutnya, pada Mei 2022, ia menandatangani surat kontrak resmi dengan Elsevier sebagai Associate Editor di Heliyon Psychology. Sebagai seorang Associate Editor, ia memiliki jobdesk yang hampir serupa dengan Editor-in-Chief, yang mana selain bertugas untuk mencari dan menentukan para reviewers yang kredibel untuk setiap artikel yang masuk, juga dapat mengambil keputusan apakah artikel tersebut need to be revised in minor or major, rejected, atau pun accepted.
Ini merupakan salah satu pencapaian terbesar bagi para akademisi, karena tidak banyak orang yang mendapatkan kesempatan untuk dapat dipercaya dan bekerja di salah satu jurnal dan publisher kelas wahid dunia, dengan pendapatan fee yang cukup tinggi.
Pada Januari 2022, ia mendapatkan official letter dari Dr. Christian Schulz sebagai Lead Editor of Heliyon yang menyatakan sebagai orang pertama dan satu-satunya dari Indonesia yang menjadi Associate Editor di Heliyon Psychology.
Keterangan resmi inilah yang menjadi dasar Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) memberikan penghargaan kepadanya sebagai “The First Indonesian who becomes an Associate Editor of Heliyon Psychology (Elsevier – Scopus Q1)” dengan No. 10903/R.MURI/IV/2023 pada 3 April 2023.
Rekor MURI ini merupakan rekor ke-3 yang berhasil ditorehkan. Sebelumnya, pada tahun 2020, ia juga telah mendapatkan piagam penghargaan dengan No. 9497/R.MURI/VI/2020 atas rekor “Kolaborasi Menyanyi secara Daring oleh Warga Satu Fakultas Terbanyak (Fakultas Pendidikan dan Bahasa, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)” dengan lagu “Doa bagi Bangsa” yang diciptakan olehnya.
Selanjutnya, rekor MURI yang ke-2 ditorehkan pada tahun 2022, dengan No. 1058/R.MURI/III/2022 atas rekor “The First Indonesian whose Article has been Published in the Palliative & Supportive Care – Cambridge University Press (Rapid Tele-Psychotherapy)”.
Baca juga : Dosen Tak Hanya Mengajarkan Mahasiswa di Kampus Saja
Di usianya yang cukup tergolong muda sebagai seorang dosen, David juga memiliki beberapa deretan prestasi lainnya, antara lain menjadi Kabid. Kemahasiswaan (Wadek III) Fakultas Pendidikan dan Bahasa Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, menjadi ranking #1 pada SINTA Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, menjadi salah satu World’s Top 2% Scientists berdasarkan Stanford University ranking (per September 2022), menjadi salah satu International Affiliate yang diundang secara resmi oleh American Psychological Association (APA), menjadi Review Editor di jurnal internasional bereputasi Frontiers in Psychology, dan masih banyak yang lainnya.
Jangan sampai ketinggalan info terkini bagi generasi milenial, segera subscribe channel telegram milenianews di t.me/milenianewscom.