Milenianews.com, Hokkaido- Guru Besar Pengelolaan Pesisir dan Lautan-IPB University, Prof. Rokhmin Dahuri, diundang sebagai salah satu keynote speaker pada The 10th Annual World Congress of Ocean yang digelar di Hotel Emesia, Sapporo, Hokkaido, Jepang, 9 – 11 Januari 2023. Kongres itu dihadiri oleh sekitar 300 peserta dari 45 negara.
Ada tujuh tema kelautan yg dibahas: (1) Ocean Economy and Maritime Law, (2) Aquaculture and Fisheries, (3) Marine Tourism, (4) Ocean Energy and Mineral, (5) Smart and Green Ports, Shipping, and Shipbuilding, (6) Coastal and Ocean Management, and (7) Ocean Science and Technology.
Prof. Rokhmin menyampaikan keynote speech berjudul “The Development of an Inclusive and Sustainable Aquaculture for Strengthening Global Food Security and Prosperity”.
Keynote speaker lain: (1) Dr. Lauri Railas, University of Helsinki, Finland; (2) Prof. Po-Hsiung Lin, National Taiwan University; (3) Prof. Christoper Dyer, University of New Mexico, USA; (4) Dr. Pia Dahl Hojgaard, Danish Geodata Agency, Denmark; (5) Dr. James Fanshawe, UK MARWG, England; dan (6) Dr. Milicia Stojanovic, Northeastern University, USA.
Prof. Rokhmin mengawali presentasinya dengan menjelaskan definisi aquaqultur (akuakultur). “Akuakultur adalah budidaya (produksi) ikan bersirip, krustasea, moluska, invertebrata, alga, tumbuhan, dan organisme lain melalui penetasan dan/atau pemeliharaan dalam ekosistem perairan,” kata Prof Rokhmin mengutip Parker (1998).
Ia menyebutkan, adapun peran dan fungsi akuakultur terdiri dari konvensional dan non-konvensional. Peran dan fungsi akuakultur konvensional memberikan: (1) protein hewani termasuk ikan bersirip, krustasea, moluska, dan beberapa invertebrata; (2) rumput laut; (3) ikan hias dan biota air lainnya; dan (4) perhiasan seperti tiram mutiara dan organisme air lainnya.
“Sedangkan peran dan fungsi akuakultur non-konvensional (yang sudah ada saat ini maupun di masa depan): (1) pakan berbasis alga; (2) produk farmasi dan kosmetika dari senyawa bioaktif mikroalga, makroalga (rumput laut), dan organisme akuatik lainnya; (3) bahan baku yang berasal dari biota perairan untuk berbagai jenis industri seperti kertas, film, dan lukisan; (4) biofuel dari mikroalga, makroalga, dan biota air lainnya; (5) wisata berbasis perikanan budidaya; dan (6) penyerap karbon yang mengurangi pemanasan global,” ujar Prof Rokhmin yang juga ketua umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI).
Prof Rokhmin, yang juga merupakan Penasehat Menteri KP 2020 – 2024, mengemukakan, peran akukultur makin penting saat ini dan di masa depan. “Populasi dunia yang terus meningkat dan pendapatannya (daya beli) naik secara dramatis meningkatkan permintaan manusia akan makanan, energi, produk farmasi, mineral, dan komoditas lain (sumber daya alam) dan produk. Selain itu, meningkatnya kesadaran masyarakat bahwa ikan dan makanan laut lebih sehat dan lebih baik dari daging merah membuat permintaan ikan dan makanan laut juga semakin meningkat,” ujarnya memberikan alasan.
Dalam konteks sektor penghasil pangan (pertanian, peternakan, budidaya perairan, dan perikanan tangkap), kata Rokhmin, hanya akuakultur yang masih memiliki ruang besar untuk mengembangkan produksinya. “Sederhananya, karena tingkat pemanfaatan (produksi) budidaya, khususnya di lingkungan laut (budidaya laut) dan pesisir (budidaya air payau), jauh lebih rendah dari total potensi produksinya. Sementara itu, produksi perikanan tangkap dunia mengalami stagnasi (leveling-of), sekitar 90 juta ton/tahun, sejak pertengahan tahun 1980,” paparnya, mengutip data FAO (2018).
Apalagi, ia menambahkan, pengembangan peternakan dan pertanian juga terkendala oleh alih fungsi lahan pertanian menjadi penggunaan lahan lain, polusi, degradasi lingkungan ekosistem darat, dan konflik sosial. “Akuakultur bukanlah ‘roket science’ dan bukan bisnis padat modal sehingga akuakultur pada dasarnya adalah bisnis yang bisa dijalankan oleh kebanyakan orang, dan aik untuk mengatasi pengangguran,” ujar Rokhmin yang juga ketua DPP PDIP Bidang Kelautan dan Perikanan.
Menguntungkan
Rokhmin menjelaskan, secara umum, investasi dan bisnis akuakultur menguntungkan, dan sebagian besar terletak di laut, pesisir, pulau kecil, dan pedesaan. “Akuakultur baik untuk mengentaskan kemiskinan, memperkuat ketahanan pangan, dan mengurangi kesenjangan pembangunan daerah antara perkotaan dan pedesaan. Dalam kasus Indonesia adalah antara Pulau Jawa vs Pulau Luar,” ujarnya.
Rokhmin menyebutkan sejumlah keunggulan akuakultur. Mengutip data FAO (1998), akuakultur tidak hanya menghasilkan ikan bersirip, krustasea, moluska, dan rumput laut; tetapi juga invertebrata, dan flora dan fauna lainnya.
“Akuakultur sebenarnya merupakan sektor pembangunan yang tidak hanya menghasilkan komoditas pangan sebagai sumber protein hewani (misalnya ikan bersirip, krustasea, dan moluska), tetapi juga: (1) komoditas pangan sebagai sumber mineral, vitamin, dan karbohidrat (beras dan tanaman pangan); (2) komoditas (misalnya invertebrata, alga mikro, dan alga makro) sebagai sumber bahan baku (senyawa bioaktif) untuk makanan dan minuman fungsional, industri farmasi, pengecatan, dan industri lainnya; (3) komoditas sebagai sumber bahan bakar nabati (misalnya ganggang mikro); (4) komoditas perhiasan; dan komoditas lainnya untuk berbagai kegunaan lainnya,” papar Prof Rokhmin Dahuri.