Milenianews.com, Jakarta- Buku merupakan jendela dunia. Pepatah ini amat bagus, tapi sayang realisasinya dalam kehidupan kurang dihayati berbagai pihak.
“Bagaimana tidak? Dunia perbukuan kita kian lesu. Nyaris banyak yang kurang peduli dengan keadaan ini. Dunia penerbitan buku seolah dianggap sebagai industri mencari keuntungan semata. Padahal di sisi lain, dunia perbukuan menjadi salah satu tonggak kemajuan anak bangsa,” ungkap Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Esa Unggul, Arifin S. Harahap.
Menurut dia, bagi dosen, menulis buku itu amat penting. Buku menjadi sumber referensi bagi dunia pendidikan. Sekalipun buku itu belum sempurna betul, paling tidak guru atau dosen telah menungkan gagasan dan pola berpikirnya. “Namun sayang, pengadaan dunia buku pendidikan kian lesu karena secara materi tak banyak memberi keuntungan,” ujarnya.
Bentuk Idealisme Guru
Arifin menegaskan, menulis buku itu adalah satu bentuk idealisme guru atau dosen untuk dunia pendidikan. “Mengapa idealisme? Jangan berharap mendapat sesuatu yang lebih dari buku pendidikan. Oplag dan jumlah penjualannya tak akan banyak. Paling banyak diterbitkan 2.000 eksemplar karena sasarannya terbatas, dan minat belinya juga amat miris,” paparnya.
Tinggal hitung saja dari 2.000 eksemplar itu. Kalau laku semua dengan harga Rp 50 ribu, misalnya, penulis hanya mendapatkan 10 peresen atau sekitar 10 juta. Tapi buku itu biadanya baru habis terjual bertahun-tahun, karena minat beli masyarakat untuk dunia pendidikan amat lesu. “Nah, wajar pengadaan buku dunia pendidikan kian lesu. Sangat langka buku baru terbit,” ujarnya.
Baca Juga :Buku “Membangun Budaya Literasi dan Taman Bacaan-TBM Edutaiment” Diluncurkan
Arifin menambahkan, bukan hanya lesu sebetulnya, penerbit buku juga banyak yang tutup, terutama sejak masa pandemi. “Dunia buku pendidikan amat lesu dan mempritankan. Banyak penerbit buku gulung tikar. Bukan hanya masa pandemi, tapi juga sebelumnya,” ungkapnya.
Ada yang menyarankan, penerbit bisa beralih ke dunia digital. “Mungkin bisa saja dicoba, tapi ini pun belum kita tahu juga. Jangan-jangan begitu buka dunia digital bukan buku yang dibaca malah tergoda dengan konten lainnya. Jadi, sulit memang kalau dunia pendidikan tidak keras mewajibkan murid dan mahasiswa untuk membaca buku ” tambah Arifin.
Berbeda dengan penulis novel. Oplag-nya bisa mencapai ribuan, puluhan atau ratusan ribu eksemplar. Bahkan kalau disadur dan diterjemahkan ke bahasa asing lebih fantastis lagi. “Itulah sebabnya penulis novel itu banyak sukses dan hidup mapan,” kata Arifin.
Tapi bagi guru dan dosen, ujarnya, menulis buku itu bukan untuk mencari materi, tapi pertaruhan idealisme semata. Tak da penulis buku dunia pendidikan yang kaya. Mungkin itu juga sebabnya, penulis buku dunia pendidikan amat langka. Kalau pun ada yang menulis mungkin terpaksa, untuk cari angka kredit atau KUM. Tapi, cara ini sudah bagus untuk memotivasi menulis buku. Mungkin perlu cara lain lagi yang lebih bagus untuk mengembangkan dunia pendidikan kita, yakni memberi reword bagi dosen yang berhasil menerbitkan buku.
“Jadi, idealnya pola pikir dan gagasan guru dan dosen itu dituangkan dalam bentuk buku. Buku itu dapat dibaca siswa, mahasiswa dan kalangan umum untuk mengembangkan pengetahuan. Dengan demikian, ilmu pun akan menyebar dan berkembang,” katanya.
Lembaga Pendidikan Ambil Peran
Menurutnya, lembaga pendidikan sebenarnya bisa ambil peran soal lesunya dunia perbukuan. Bagi guru dan dosen, idealnya diberi penghargaan atau hadiah bila ada yang mampu menerbitkan buku. Tapi dengan ketentuan buku yang diterbitkan harus penerbit yang terpercaya. Mungkin secara tidak langsung guru dan dosen yang menerbitkan buku bisa membuat image positif bagi lembaganya. Tapi, sayang, lembaga pendidikan belum semua peduli soal ini mungkin karena berbagai keterbatasan.
Baca Juga : Ngobrol Literasi Penerbit Irfani: Menulis merupakan Sebuah Proses Panjang
Setiap guru dan dosen pasti punya kapasitas menulis buku. Ilmu sudah mengakar di kepala mereka. Hampir setiap hari disampaikan kepada murid dan mahasiswanya. Tinggal menuangkan dalam bentuk tulisan, seperti buku. Namun sayang, masih banyak ragu dengan kemampuan mereka menulis buku. Padahal, menulis buku itu bisa dipelajari.
Menurutnya, semua memang berawal dari tidak bisa menjadi bisa, asal mau mencoba, tekun dan patang menyerah. Manfaat menulis buku amat banyak. Buku menjadi salah satu media pengembangan ilmu.
“Buku cenderung bertahan lama, ketimbang hanya pernyataan yang cenderung hanya menguasai ruang. Tapi menulis buku, bisa menguasai ruang dan waktu,” ujar Arifin S. Harahap.