Milenianews.com, Seoul – Korea Selatan akan kembali menerapkan kebijakan kelas tatap muka pada akhir April mendatang. Dua bulan lalu negara yang dijuluki negeri ginseng ini, menjadi negara kedua terparah terdampak virus Corona setelah China.
Orang-orang berbondong-bondong membeli lusinan masker dan pengiriman barang yang dipesan di situs online shop melonjak tinggi. Bahkan jalan-jalan di sana sangat sepi.
Saat ini, Korsel sudah semakin pulih dari virus yang bermula dari Wuhan, China tersebut. Kehidupan disana berangsur kembali normal.
Baca Juga : Pendidikan RI Sepuluh Besar Terbawah Dunia, Mendikbud Siap Lakukan Terobosan
Keluhan siswa dan guru terhadap penerapan pembelajaran secara daring di Korea Selatan
Sampai sekarang, pembelajaran di semua jenjang pendidikan di sana masih dilakukan secara daring.
“Saya telah memikirkan tentang, apakah pemerintah dapat memberikan solusi yang lebih baik dari ini. Tetapi ini terasa seperti pilihan terbaik untuk saat ini,” kata Jang Eun-Ki, seorang siswa Sekolah Menengah Wonjong dikutip Arrahmah, Kamis (16/4).
Ia pun menyadari bahwa keputusan mengadakan pembelajaran secara daring menjadi langkah yang paling tepat dari pemerintah.”Rasanya seperti itu adalah keputusan yang tak terelakkan untuk mengambil kelas online (daring, red)”.
Pembelajaran di Korsel yang dilakukan secara daring, diurutkan berdasarkan usia. Per-minggunya dilakukan jadwal waktu yang berbeda dari masing-masing jenjang pendidikan.
Meski sebagai negara maju yang tingkat penggunaan internetnya paling besar di dunia, perpindahan pembelajaran kelas daring juga memicu emosi campur aduk dari siswanya. Sementara itu, sekitar 170.000 siswa di Korsel tidak memiliki ponsel sebagai penunjangnya.
“Sangat melelahkan untuk mengikuti penundaan yang tak terduga dan perubahan jadwal,” keluh Jang.
“Banyak dari kami, mahasiswa ingin terus belajar secara mandiri di perpustakaan saat sekolah tidak ada, tetapi semua perpustakaan ditutup”.
Tidak hanya dirasakan siswa-sisiwinya saja, para guru di sekolah negeri dan swasta pun merasa khawatir akan peralihan kelas menjadi daring ini.
“Saya pikir pemerintah dan sekolah telah melakukan yang terbaik dalam hal mengatasi COVID-19 semampu mereka. Tetapi para profesor tidak memiliki pelatihan teknologi [untuk menyelenggarakan kelas daring],” kata Noh, yang salah satu tenaga pengajar di akademi swasta di Seoul.
Baca Juga : Ketahui! Prodi Kampus yang banyak Dibutuhkan Dunia Industri
“Sudah, beberapa siswa tidak dapat mengikuti kelas atau menandai kehadiran mereka karena masalah teknis. Yang lainnya tidak bisa menyerahkan file tugas atau video mereka”.
“Saya khawatir bagaimana kita akan mengatasi masalah teknis di tingkat sekolah dasar,” katanya.
“Anak-anak kecil tidak bisa mengetik atau mencari cara untuk masuk, dan orang tua mereka tidak bisa bersama mereka setiap hari, setiap saat”. (Ikok)