Mata Akademisi, Milenianews.com – Bergerak dan terus berkarya dengan menularkan virus positif kepada sesama adalah upaya pembaharu dari generasi muda yang peduli terhadap lingkungan sekitar. Semangat virus positif yang digaungkan oleh para pegiat literasi yang masih terus aktif menyalakan masa depan bagi Indonesia yang lebih baik.
Lentera Aksara, suatu judul buku yang tepat menggambarkan kisah inspirasi para penggiat literasi dari berbagai daerah di Indonesia terus mengkampanyekan kecintaan buku sebagai sumber pengetahuan yang hakiki, menumbuhkan masyarakat gemar membaca melalui kemasan cara yang unik dan beragam, serta menjadi insan yang bermanfaat bagi sekitarnya.
Baca Juga : Punya Tujuan yang sama Tapi Makna Yang Beda : Social & Physical Distancing
Pengalaman yang diberikan melalui buku ini, merefleksikan kepedulian yang begitu tinggi terhadap literasi tidaklah mudah begitu saja, menyikapi hadirnya para pegiat literasi tentu terbentuk motivasi kuat dengan tingkat melek literasi masyarakat yang masih begitu rendah.
Mempertahankan eksistensi suatu gerakan literasi baik dalam bentuk taman baca masyarakat, gerakan literasi sekolah, maupun bentuk lainnya dibutuhkan komitmen, konsistensi, dan kolaborasi. Ketiga kata kunci tersebut menjadi faktor pendukung pegiat literasi hadir untuk negeri.
Cangarlis
Kang Amrul, ketika bertugas sebagai relawan Sekolah Guru Indonesia di SDN Fitako, Loloda Kepulauan, Halmahera Utara dengan inovasi pembelajaran literasi yang menarik beliau menggagas “Cangarlis”. Cangarlis merupakan singkatan dari membaca – mendengar – menulis.
Model permainan “Cangarlis” diawali dengan aktifitas membaca buku cerita secara bergantian. Sementara yang lainnya mendengarkan temannya yang sedang membacakan ceritanya. Untuk menentukan anak yang membaca buku, beliau menggunakan spidol yang diputar diatas lantai.
Jika spidol berhenti, maka tutup anak botol spidol yang menghadap ke anak tersebut mendapat giliran untuk membaca. Melalui metode ini, kang Amrul ingin memberikan pesan pembelajaran kepada muridnya agar menghormati kepada sesama terutama ketika seseorang sedang membacakan sebuah buku cerita kepada yang lainnya. Pun akhir dari kegiatan tersebut, para murid diberi kebebasan menulis dengan tema bebas.
Inspirasi pegiat literasi berikutnya berasal dari Depok, Jawa Barat. Setia Rahmah adalah pengelola Saung Ilmu dan pengurus dari Komunitas Kubukabuku. Wanita yang berlogat Betawi ini sangat menyukai dunia anak-anak. Kegiatan literasi yang dihelat memberikan warna bagi lingkungan sekitarnya dan anak-anak agar gemar membaca. Konsep yang diterapkan ialah belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar.
Ayo Berpetualang!
Ayo Berpetualang!, tema kegiatan literasi yang diangkat oleh Setia Rahmah, dkk untuk mengisi momen liburan anak-anak ketika musim tahun baru. Berkolaborasi dengan berbagai pihak, juga tak lepas sebagai rangkaian acara yang menarik dengan menghadirkan pendongeng GEPPUK dan Komunitas GERAKIN.
Kegiatan Ayo Berpetualang! ini banyak sekali pesertanya baik dari murid TK s.d SMP. Rangkaian kegiatan literasi yang dilakukan dengan membentuk kelompok kecil yang berkisar 8-10 anak dan diketuai oleh adik yang sudah jenjang SMP.
Ada 5 pos yang harus dilalui oleh masing-masing tim. Setiap pos memiliki keunikan dan tantangan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Adapun kelima pos yang dimaksud, ada Lorong Semangat, Mencari Berita, Lukisan Warna, Bermain Puzzle, dan terakhir Aku Bisa.
Bentuk kegiatan literasi lainnya tidak melulu bersentuhan buku atau kegiatan atraksi berupa menulis. Kisah inspiratif kita jumpai dara cantik asal dari Jakarta ini yang merupakan alumnus Sekolah Guru Indonesia di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Guru, Digugu dan Ditiru
Mella Kurniawati membagikan pengalaman saat dia bertugas di salah satu SDN di Provinsi Sulawesi Barat. Guru, istilah digugu dan ditiru, tentu harus memberikan sebuah teladan yang baik bagi muridnya.
Melihat kondisi di lokasi tempat mengajarnya terutama kesadaran untuk menjaga kebersihan gigi. Menjaga kebersihan gigi bisa dikatakan keadaan yang belum menjadi rutinitas wajib untuk digalakan. Sebagai guru yang peduli akan kebersihan dan memberikan edukasi pentingnya menjaga kebersihan gigi. Mella Kurniawati membuat suatu kegiatan bersama dinamakan sebagai Rabu Sehat Ceria.
Rabu Sehat Ceria ini ditujukkan kepada siswa kelas 4 SD, kelas mengajar yang menjadi tanggung jawab Mella. Bentuk kegiatan tersebut para murid dilatih membersihkan kuku, sikat gigi bersama sampai mengecek kebersihan dan kerapihan rambut.
Baca Juga : Simalakama Kuliah Online
Sisi lain sebagai guru, pendongeng adalah keterampilan dasar yang dikuasai oleh Mella. Beliau mengisahkan suatu cerita kuman dan gigi. Edukasi melalui dongeng membuat para murid terkesima untuk mendengarkannya hingga akhir. Penutup dari Rabu Sehat Ceria, para murid menuliskan kesan yang begitu berharga selama mendapatkan edukasi yang bermanfaat.
Suatu ikhtiar yang digelorakan oleh para penggiat literasi melalui buku ini adalah langkah kecil yang bermanfaat bahwa sesungguhnya gerakan literasi nasional harus terus mewujud, sebagaimana adagium dari Goenawan Mohammad,
“Menjadi Indonesia adalah menjadi manusia yang bersiap memperbaiki keadaan, tetapi bersiap pula untuk melihat bahwa perbaikan itu tidak akan sempurna dan ikhtiar itu tidak akan pernah selesai.”