Simalakama Kuliah Online

Mata Akademisi

Mata Akademisi, Milenianews.com – Himbauan Presiden RI untuk mengurangi interaksi, sudah mulai diterapkan pada 15 Maret 2020 silam. Tak hanya di pemerintahan, namun juga bidang pendidikan, mulai dari tingakatan PAUD, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi yang memaksa kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online (daring).

“Dengan kondisi saat ini, saatnya kita kerja dari rumah, belajar dari rumah, ibadah di rumah, inilah saatnya bekerja bersama-sama saling tolong-menolong dan bersatu padu, gotong royong,” kata Jokowi melalui video yang disiarkan langsung Sekretariat Presiden di Istana Kepresidenan Bogor, Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/3).

Seiring berjalannya waktu, beberapa perguruan tinggi yang menerapkan kuliah daring dianggap belum memenuhi kriteria terkait efektifitas kuliah daring dibandingkan dengan kelas tatap muka.

Ada beberapa yang dianggap masalah dari diberlakukannya kebijakan kuliah daring. Pertama, Terkendala Kouta data internet. Kedua, Tugas-tugas yang terlalu banyak. Ketiga, tidak mendapatkan fasilitas sarana dan prasarana.

Baca Juga : Tanggap Covid-19 : Kuliah Daring, Mahasiswa bisa apa?

Sebenarnya kuliah daring ini sudah lama di lakukan oleh sistem pendidikan Finlandia. Kita saja yang terlalu membesarkan masalah. Finlandia dikenal dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia.

Salah satu mahasiswi yang kuliah di Finlandia melalui pertukaran pelajar, ia mengungkapkan, “Jika kuliah selalu identik dengan mahasiwa dan dosen, di sini saya menemukan jenis mata kuliah yang sama sekali tidak memiliki face-to-face proses antara dosen dan mahasiswa yaitu self-study, reading circles dan online course.”

“Pada jenis-jenis mata kuliah seperti ini, mahasiswa hanya diberikan daftar buku dan artikel yang harus dibaca dan memilih jadwal untuk mengikuti ujian elektronik secara online yang dilakukan di dalam laboratorium komputer.”

“Model ujiannya juga beragam, tidak hanya dalam format written exam, essay dan e-exam, tetapi juga learning diary. Learning diary dapat dikatakan sebagai jurnal mahasiswa selama mengikuti mata kuliah dan akan dinilai sebagai tugas akhir untuk menyelesaikan mata kuliah tersebut.”

Dari segi informasi dan teknologi, setiap mahasiswa diberikan e-mail dengan domain universitas. Hal ini sangat penting karena dosen dan teman sekelas tidak perlu lagi menanyakan e-mail address satu persatu tetapi cukup dengan mengetahui nama lengkap dan kemudian langsung mengirimkan e-mail.

Seluruh bahan kuliah baik yang telah diberikan di kelas maupun bahan bacaan tambahan, akan di upload oleh dosen ke dalam sebuah website yang disebut dengan Moodle.

Dari cerita diatas, jangan memperlihatkan seolah-olah kita kaget karena kuliah secara daring. Kuliah online sudah lama diterapkan di Eropa sana. Toh, di kampus juga agaknya tidak begitu efektif mahasiswa menuntut ilmu. Masuk kelas duduk diam ABSEN lalu pulang atau nongkrong di kantin main game bersama.

Jika di bandingkan dengan mengurangi biaya transportasi, pakaian dan tenaga ke kampus. Lalu juga lebih fleksibel serta bisa dimana saja. Artinya sebanding dan mungkin lebih hemat biaya.

Jadi teringat Ki Hajar Dewantara, bapak Pendidikan Indonesia itu berujar, “Setiap orang adalah guru setiap tempat adalah sekolah.” Jadi dimanapun kita bisa “sekolah”, bukan di ruang kelas atau ruang kuliah saja.

Baca Juga : Wabah Corona Paksa Masyarakat Siap Hadapi Era “5.0 Society”

Tapi memang kita harus sama-sama memikirkan kekurangan dari kuliah online dan bisa mencontoh Finlandia dan mengembangkannya lagi.

Dan akhirnya yang terpenting dari semuanya untuk saat ini adalah bagaimana spirit mahasiswa tetap ada dan tetap berusaha tekun untuk menuntut ilmu. Ruang kelas ataupun ruang online ini hanya persoalan metode yang berbeda. Persoalan biaya semua mengeluarkan biaya. Baik online maupun ruang kelas. Tidak ada yang saling memanfaatkan.

Penulis : Muh Akbar Hamsah Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Fakultas Hukum Tata Negara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *