News  

Harga Garam Rakyat Anjlok, Petani Garam Merugi

Petani Garam saat menunjukan hasil garam di gudang penyimpanan miliknya

Milenianews.com, Rembang – Nasib petani garam di Kabupaten Rembang sampai saat ini masih memprihatinkan. Hal ini dikarenakan anjloknya harga garam rakyat yang terjadi sejak tahun 2019 lalu sampai sekarang.

Ditengah panen yang melimpah, petani garam tak bisa menikmati hasil penjualannya. Salah satu faktor anjloknya harga garam adalah banyaknya rembesan garam impor dan kuota impor garam kembali naik menjadi 2,9 juta ton yang semula 2,8 juta ton.

Baca Juga : Pemerintah Indonesia akan Percepat Pembuatan Drone UAV

Akibatnya, petani garam rakyat di Kabupaten Rembang mengalami kerugian yang sangat besar pada tahun ini, karena harga jual garam rakyat tahun ini mengalami penurunan drastis dibandingkan tahun lalu.

Kebanyakan Petani Garam  Produksi Sekali Jual

Hasil Produksi Petani Garam Kabupaten Rembang
Foto : Hasil Produksi Petani Garam Kabupaten Rembang

Salah satu petani garam rakyat, Ahmad Sakur menceritakan, ia bersama rekan-rekan petani garam yang lain merasa merugi besar karena anjloknya harga garam saat ini. Harga garam super Rp 400 per kilogram (kg) sedangkan garam biasa Rp 350 per kg.

“Harga Rp 400 per kg itu sudah sampai gudang, dulu waktu panen raya tahun 2019 harga Cuma Rp 250 per kg sudah sampai gudang,” ungkap Sakur saat ditemui di gudang garam miliknya, Minggu (9/2).

Sebelumnya, harga garam rakyat tahun lalu mencapai Rp 1.200 per kg. Sedangkan tahun ini, saat petani ingin menjual garam dengan harga Rp 500 per kg saja tidak laku.

Sakur menambahkan, sebagian para petani garam yang mempunyai tambak garam luas pastinya punya simpanan. Namun berbeda dengan para petani garam skala kecil, karena prinsip mereka sekali panen langsung dijual.

“Ya harapan saya, pemerintah segera membuat patokan harga garam rakyat seperti BULOG, dengan membuat patokan harga garam, nantinya para petani garam tidak dimainkan dengan para tengkulak (penimbun) garam itu,” pintanya.

Hal serupa juga dirasakan oleh petani garam di desa lain. Giyo, warga Desa Dasun Lasem, mengatakan harga jual garam rakyat di tengkulak masih sangat rendah.

Pabrik Produk Petani Garam di Rembang
Foto : Pabrik Produk Petani Garam di Rembang

“Sehingga sampai saat ini banyak para petani garam yang merugi.”

“Kebanyakan petani sini tak sampai nimbun, sewaktu panen langsung jual, dibandingkan harga tahun lalu, tahun ini harga anjlok dan rugi besar, modal juga tidak kembali.”

Baca Juga : Ibu Kota Pindah ke Kalimantan, Inilah 5 Kuliner yang Harus Kamu Cicipi

“Saya jual juga lewat tengkulak mas, harga jual di tengkulak ya masih sama, waktu itu pernah turun lagi, karena di (Desa) Dasun hanya ada dua tengkulak, jadi jika tidak ada tengkulak lain yang masuk, petani ya tidak bisa menjualnya,” pungkasnya. (Minan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *