News  

Sosok Gus Sholah, Seorang Kiai, Cendikiawan, Penulis juga Politikus

Sosok Gus Solah

Milenianews.com, Jakarta – Indonesia kembali berduka, setelah kehilangan sosok kiai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Salahuddin Wahid atau Gus Solah.

Adik dari Gus Dur ini, wafat pada Ahad (2/2) kemarin. Cucu Hadratussyeh KH Hasyim Asy’ari itu sempat di rawat di Rumah Sakit di Jakarta dan kritis.

Gus Solah wafat pafa pukul 20.55 WIB. “Gus Sholah baru saja wafat, pada pukul 20.55. Mohon dimaafkan seluruh kesalahan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu,” kata putra Gus Solah, Irfan Wahid.

Baca Juga : Pesan Kiai Said Aqil Siroj untuk Santri

Awal Menjadi Penulis


Foto : Jakarta Globe

Gus Solah merupakan seorang kiai, cendikiawan, penulis juga pernah aktif di dunia politik. Pria lulusan arsitektur Intitut Teknologi Bandung (ITB) ini mulai menulis setelah meninggalkan karirnya di bidang kontraktor.

Ia juga aktif menulis di harian Republika, Kompas, Suara Karya dan yang lainnya. Selain itu, karyanya juga sudah banyak yang di bukukan.

Seperti Negeri di Balik Kabut Sejarah (November 2001), Mendengar Suara Rakyat (September 2001), Menggagas Peran Politik NU (2002), Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia (November 2003), Ikut Membangun Demokrasi, Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (November 2004).

Gus Solah juga sering diminta untuk menulis kata pengantar pada buku yang ditulis penulis lain. Kemampuan menulisnya, juga tak lepas dari kebiasannya membaca sejak usia muda. Kebiasan itu terus dibawa sampai usia tua. 

Bahkan 10 judul buku per bulan bisa ia baca. Waktu untuk membaca buku menurut pengakuan Gus Solah saat sebelum dan sesudah makan sahur, setelah shalat subuh, pagi hari dan sore hari.

Gus Solah Terjun ke Dunia Politik


Foto : Koran memo

Selain aktif menulis, ia juga aktif berorganisasi. Tercatat pernah menjadi ketua MPP ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) periode 2000-2005. Aktifnya di ICMI, mendekatkan Gus Solah pada dunia politik. 

Sejak bergulirnya era reformasi, keterlibatan Gus Solah dalam bidang politik semakin intens. Ia pernah bergabung dengan Partai Kebangkitan Umat (PKU) yang didirikan Kiai Yusuf Hasyim dan menjadi Ketua Dewan Pimpinan Pusat serta Ketua Lajnah Pemenangan Pemilu PKU.

Pada tahun 1999 ia mengundurkan diri dari PKU dan pada Muktamar NU ke-30 di Pondok Pesantresn Lirboyo, Kediri, Gus Solah ikut maju sebagai salah satu kandidat Ketua Umum PBNU. Ia pun terpilih sebagai salah satu ketua PBNU periode 1999-2004.

Di dunia politik, ia terpilih sebagai salah satu anggota Komnas HAM periode 2002-2007. Di komnas HAM, Gus Solah menjadi ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki kasus Kerushan Mei 1998.

Baca Juga : Muslim Milenial Harus Tahu! 5 Penemuan Orang Islam di Sekitar Kita

Menjadi Pengurus Ponpes Tebuireng


Foto : faktualnews.com

Pada 2004 ia memuruskan keluar dari Komnas HAM dan PBNU, untuk sepenuhnya menjadi cawapres. Namun, kala itu pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla yang menang.

Meninggalkan dunia politik, pada 2006, Gus Solah kemudian memimpin Pesantren Tebuireng. Sejak era kepemimpinannya, pesantren itu pun berbenah dan tercatat sebagai salah satu pesantren terbesar di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. (Ikok)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *