Guru Honorer di Pandeglang Tinggal di Toilet SD Tempatnya Mengajar

Milenianews.com, Pandeglang – Seorang guru honorer Sekolah Dasar (SD) di pandeglang Banten, patut mendapat perhatian dari semua pihak, terutama pemerintah.

Nining (44) yang sudah mengabdi selama 15 tahun sebagai guru honorer di SDN Karyabuana 3, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten terpaksa harus tinggal di toilet sekolah.

Nining adalah salah satu dari banyak kisah guru honorer yang memiliki nasib memprihatinkan.

Rumah yang ditempatinya hanya berukuran 3×6 meter. Tepat sebelah toilet guru dan siswa, disekolah tempat ia mengajar.

Ia tinggal bersama suaminya, Eby (43). Dalam ruangan yang sempit itu, disekat dengan triplek. 

Baca Juga ; Bali Diguncang Gempa, Aktivitas Bandara Ngurah Rai tetap Normal

Bagian depan dipakai untuk ruang tamu dan warung sedangkan bagian belakang untuk tempat tidur.

Lebih miris, letak tempat tidurnya tepat disamping toilet. Bau pesing menjadi aroma yang telah bersahabat dengannya.

“Dua tahun (tinggal di sini), WC (gabung) tempat masak, kalau tidur di samping WC,” kata Nining, dikutip dari Liputan6.com.

Untuk menghidari bau pesing, Nining dan suaminya harus rutin membersihkan toilet. Sementara toiletnya pun sudah lama tak direnovasi.

Di rumahnya tak terlalu banyak peralatan elektronik, hanya rice cooker dan televisi tabung 14 inci. “Listrik kami menyambung dengan sekolah,” ujarnya.

Rumahnya Sudah Roboh

Keadaan tersebut harus dirasakannya akibat rumahnya sudah roboh sejak dua tahun lalu, karena rapuh. Diakuinya, ia bersama suaminya tak sanggup membangun kembali rumahnya karena tak punya biaya.

Bahkan penghasilan sebagai guru honorer tak sanggup untuk menambah biaya tersebut, terlebih Eby hanya seorang buruh serabutan.

Sehari-hari mereka membuka warung jajanan di sekolah untuk menyambung hidup dan membiayai kedua anak mereka sekolah.

“Anak dua, sekolah di MTs kelas dua yang kedua, yang pertama sudah lulus enggak dilanjutkan kuliah. Anak harus sekolah terus, saya semangat jadi guru honorer untuk biaya sekolah (anak),” paparnya.

Penghasilan per bulan menjadi guru honorer hanya 350 ribu rupiah per bulan. “Itupun dibayarkan setiap tiga bulan sekali,” katanya.

Uang itu dipakai untuk biaya sekolah anak sulungnya hingga lulus SMA. Kini, si sulung merantau ke Jakarta untuk bekerja.

Ia juga masih punya tanggungan anak kedua yang masih duduk di Mts.

Sebelumnya ia sempat pernah kuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) namun hanya sampai semester 4.

Gelar sarjananya, diraih dengan melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka kelas jauh di kecamatan Cibaliung. 

Harapannya ia ingin diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, harapan tersebut pupus karena usianya yang telah melampaui ketentuan.

Akan Dibangunkan Rumah

Ia mengaku putus asa karena tak ada kebijakan dari pemerintah untuk tenaga kerja honorer sepertinya.

“Putus asa memang, karena usia sudah tua, bagaimana selanjutnya kalau enggak ada perhatian dari pemerintah,” kata dia.

Menurut Sekretaris Camat Cigeulis, Encep Hadikusuma, menyebut, sebenarnya lokasi sekolah tak boleh ditempati baik oleh komite maupun kepala sekolah.

“Namanya WC mengganggu juga. Terpaksa mengizinkan dengan direnovasi, tambah ruang,” kata Encep.

Pihaknya, katanya, akan dibangunkan rumah di lahan kosong di belakang sekolah. 

“Kami sepakat dibikinkan rumah, kebetulan mereka memiliki tempat, kami bangun layak huni. Secepatnya dalam lima hari selesai. Swadaya, iuran,” kata Encep.

Sumber : Dream.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *