Milenianews.com – Di tengah riuhnya kawasan Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, Mohammad Nuzulan Firdaus (25) menatap layar laptopnya yang dipenuhi draf skripsi. Sesekali, ia membuka tab peramban lain untuk mengurus pekerjaannya sebagai anak magang di salah satu portal berita nasional.
Secara fisik, pemuda yang akrab disapa Nuzul ini terlihat melebur sempurna dengan ritme serba cepat khas pekerja ibu kota dan sekitarnya. Namun, ada jangkar tak kasatmata yang menambatkan separuh hatinya sejauh lebih dari 2.000 kilometer ke arah timur: Pulau Banggai, Sulawesi Tengah.
Bagi Nuzul, jarak itu bukan sekadar rentang geografis. Itu adalah garis batas antara tanggung jawab masa kini dan kerinduan yang harus ia tahan rapat-rapat. Biaya transportasi yang meroket dan waktu tempuh yang panjang membuat kepulangan bukanlah rutinitas baginya. Terakhir kali ia menghirup udara rumah adalah tahun 2023. Memasuki tahun 2026 ini, siklus pulangnya bisa berjarak dua, tiga, atau bahkan empat tahun sekali.
Baca juga: Tak Punya Harta, Tapi Punya Tekad: Ridan Buktikan Pendidikan Bisa Ubah Nasib
Berawal dari janji suci untuk almarhum ayah
Perjalanan panjang Nuzul dimulai jauh sebelum ia mengenal pusingnya menyusun skripsi. Tahun 2013, saat usianya masih belasan, ia melangkah keluar dari rumah. Bukan sekadar dorongan ego masa muda, melainkan demi melunasi janji murni yang pernah ia ucapkan kepada almarhum ayahnya.
“Dulu waktu SD, saya ingin sekali bersekolah di SMA boarding school Budi Utomo di Jawa Timur. Itu janji saya,” kenangnya, Rabu (11/3).
Langkah pertama di tahun 2013 itu ternyata menjadi tiket keberangkatan yang terus memperpanjang rutenya. Dari Jawa Timur, ia melanjutkan pengabdiannya ke Yogyakarta sebagai pengajar di Pondok Pesantren Mahasiswa Royan, hingga akhirnya melabuhkan jangkar akademisnya di sebuah perguruan tinggi swasta di Tangerang Selatan. Tanpa sadar, Nuzul telah menghabiskan separuh usianya di tanah rantau.
Pergeseran makna “rumah” dan kultur Timur yang keras
Berada jauh dari keluarga dalam waktu yang sangat lama perlahan menggeser definisi kata “rumah” di kepala Nuzul. Rumah yang dulunya terbayang sebagai tempat paling nyaman untuk merebahkan punggung yang lelah, kini kerap berubah wujud menjadi ruang gema bagi ekspektasi.
“Perasaan di mana saya bisa pulang untuk melepas lelah kini berubah menjadi sebuah beban, terutama ketika muncul pertanyaan berulang, ‘Kapan pulang?’,” tuturnya pelan.
Pergulatan batin ini makin kompleks jika mengingat akar budaya tempat ia dibesarkan. Nuzul lahir dari keluarga konservatif yang kental dengan kultur Indonesia Timur. Di sana, ketegasan dan perintah yang diucapkan dengan nada tinggi adalah hal lumrah, sebuah bahasa keseharian yang kadang menguji nyali.
Setelah bertahun-tahun hidup dengan ritme dan budaya kompromis di Pulau Jawa, Nuzul mengaku harus terus mengatur ulang mentalnya setiap kali berhadapan dengan keluarganya. “Mengkondisikan diri untuk bisa menerima bahwa (nada keras) itu adalah bagian dari diri saya yang sempat terpisah dan harus saya lepaskan kembali… Jika diingat, kadang kondisinya memang sangat mencekam,” akunya.
Ketegasan itu juga mewujud dalam tugas-tugas keluarga yang tidak terduga. Suatu waktu, ibunya yang kini menjadi single parent memerintahkannya untuk menyampaikan kabar sensitif kepada kakaknya, bahwa tanah warisan mereka telah diwakafkan untuk masjid setempat. Di usianya yang masih muda, ia harus memikul kecanggungan luar biasa untuk menjadi “penyambung lidah” keluarga. Untungnya, sang kakak menerima hal tersebut dengan lapang dada.
Baca juga: Kisah Inspiratif Wiwil, Seorang Gadis Desa yang Sukses Kuliah S3 dengan Beasiswa
Tinggal di rumah itu tidak gratis, dibayar dengan waktu dan pengabdian
Banyak Gen Z mengira bahwa menetap di rumah orang tua berarti mengamankan isi dompet. Bagi Nuzul, premis itu tidak berlaku. Meski tak ada tagihan sewa kos, bayaran yang harus diserahkan saat tinggal bersama ibunya adalah sesuatu yang tak kalah berharga: waktu dan kebebasan mutlak.
“Karena saya dibesarkan oleh single parent, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia. Bayaran yang harus saya berikan di rumah adalah pengabdian sepenuhnya, bagaimana saya harus mengatur jadwal untuk antar-jemput ibu dan melakukan segala macam bentuk perintahnya,” jelas Nuzul.
Kondisi tersebut bukan berarti rumah menghambat ambisinya. Nuzul menyadari, faktor utama yang memaksanya bertahan di perantauan adalah realitas struktural. Di Banggai, lapangan pekerjaan profesional sangat terbatas. Ia melihat langsung bagaimana teman-teman sebayanya di kampung halaman harus rela bekerja sebagai honorer dengan upah jauh di bawah UMR. Merantau, pada akhirnya, adalah jalan paling rasional untuk menyelamatkan masa depan kariernya.
Cara berbakti dari kejauhan: Bukan soal tuntutan, tapi kesadaran
Kini, dengan penghasilannya sendiri, Nuzul memiliki siasat untuk tetap “hadir” di tengah keluarganya. Menariknya, sang ibu tidak pernah meminta sepeser pun uang dari jerih payahnya. Namun, kedewasaan Nuzul justru menuntunnya pada rasa tanggung jawab yang lebih murni.
Ia menyisihkan pendapatannya untuk menabung dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Sisanya, ia alokasikan untuk membelikan barang-barang yang hanya bisa didapatkan di Jakarta untuk dikirim ke Banggai. “Bukan karena ibu meminta uang, tapi ini kewajiban saya sendiri untuk memberikan sebagian dari hasil pendapatan saya,” tegasnya.
Rasa bersalah karena membiarkan ibunya menua sendirian sering kali menyergap di tengah malam. Namun, di tahun 2026 ini, Nuzul menemukan obatnya: komunikasi. Seiring bertambahnya usia, ia memastikan untuk menelepon ibunya hampir setiap hari.
Baca juga: Kisah Inspiratif Anak Pedagang Asongan Menembus Batas Berkat Beasiswa, Bisa Kuliah Sampai S3
Menemukan diri sendiri di antara jarak
Jika waktu bisa diputar dan rumah di Banggai berubah menjadi tempat yang ideal untuk karier dan ketenangannya, Nuzul menjawab tanpa ragu: ia akan memilih untuk tetap tinggal.
Namun, separuh hidup yang dihabiskan dalam jarak telah memberinya sesuatu yang tak mungkin ia pelajari jika ia tak pernah pergi. “Jarak yang begitu besar antara saya dengan rumah membuat saya lebih bisa mengintrospeksi dan menerima diri saya sendiri. Saya bisa menyimpulkan bahwa jaraklah yang menimbulkan hasrat dan kerinduan itu.”
Dari sudut indekosnya di Tangerang Selatan, Nuzul menitipkan satu pesan bagi generasi sebayanya yang mungkin juga sedang lelah di tanah seberang.
“Jangan beranggapan bahwa jauh dari rumah dan sulit pulang berarti tak ada lagi tempat bercerita,” pungkasnya. “Yakinlah, rumah itu pasti akan selalu ada bagi mereka yang mau bersuara walau terpisah jarak. Sebisa mungkin, aturlah waktu untuk pulang. Jadi, berceritalah dan pulanglah.”
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













