Artificial Intelligence dan Bahayanya bagi Model Komputasi Manusia

artificial intelligence

Milenianews.com Artificial Intelligence (AI) adalah jawaban dari berbagai prediksi ilmuwan dari abad lalu. Para ilmuwan dari awal abad ke-18 sudah mempercayai bahwa akan datang suatu masa di mana ciptaan manusia akan lebih pintar dari manusia itu sendiri. Namun, mereka belum bisa memprediksi secara spesifik apa ciptaan yang akan melampaui kepintaran manusia itu. Sekarang sudah terjawab, bahwa ciptaan itu adalah Artificial Intelligence.

Meskipun Artificial Intelligence sangat membantu pekerjaan sehari-hari manusia di era modern ini, AI juga memiliki sisi negatif, yakni melemahkan daya pikir kritis manusia, terutama dalam model komputasi otak manusia.

Baca juga: Peran Artificial Intelligence di Masa Mendatang

Model Komputasi Manusia

Model komputasi manusia adalah cara kerja otak dalam mengolah data dan memutuskan keputusan. Dalam kinerjanya, model komputasi manusia memiliki beberapa proses utama, yakni sensory input, persepsi, memori, proses berpikir, dan motor output. Proses-proses ini bekerja sama untuk mengolah data yang diperoleh manusia dari sensory input, yang meliputi mata, telinga, kulit, lidah, dan hidung.

Setelah melewati sistem sensory input, sistem komputasi otak akan memahami dan menginterpretasikan data-data yang diterima. Proses ini disebut persepsi. Kemudian, data-data yang telah diproses akan tersimpan dalam memori jangka pendek dan jangka panjang.

Setelah memori menyimpan data-data tersebut, otak akan menjalankan proses berpikir untuk memutuskan, menyelesaikan permasalahan, dan berinovasi. Proses terakhir adalah motor output, di mana hasil dari proses berpikir diwujudkan dalam bentuk tindakan.

Ketergantungan Manusia pada AI

Dengan kehadiran Artificial Intelligence, manusia cenderung melewati proses-proses yang dikerjakan oleh otak. Biasanya, manusia langsung melakukan motor output tanpa melewati tahapan lainnya. Akibatnya, manusia menjadi bergantung pada AI. Ketergantungan ini dapat menurunkan kapasitas memori manusia karena otak menjadi pasif dalam mengolah data dan mengambil keputusan, yang pada akhirnya melemahkan kemampuan kognitif manusia.

Selain itu, AI dapat memunculkan fenomena yang disebut pemikiran algoritmik, di mana individu yang bergantung pada AI mulai berpikir dengan cara yang lebih terstruktur dan terlalu kaku, mirip dengan cara algoritma AI mengolah data. Hal ini dapat mengakibatkan hilangnya kreativitas manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Pemikiran Algoritmik: Antara Manfaat dan Bahaya

Walaupun pemikiran algoritmik sebenarnya memiliki kelebihan dalam hal sistematika berpikir, seperti menyelesaikan masalah dengan lebih efisien dan efektif, jika dilakukan oleh AI dengan menampilkan informasi yang kurang transparan, manusia berpotensi mengalami pemikiran algoritmik yang menimbulkan beberapa akibat fatal.

Berikut adalah beberapa akibat fatal yang wajib diwaspadai jika Anda sering menggunakan AI:

1. Berkurangnya Kreativitas Manusia

Pemikiran algoritmik biasanya mengikuti tahapan-tahapan sistematis dan prosedural untuk menyelesaikan masalah. Hal ini dapat mengurangi kemampuan manusia untuk mengeksplorasi solusi yang lebih kreatif.

2. Menurunnya Daya Pikir Kritis Manusia

Ketergantungan pada algoritma dapat menyebabkan penurunan kemampuan berpikir kritis. Manusia cenderung terbiasa menerima solusi yang dihasilkan oleh algoritma secara mentah tanpa mempertimbangkan hal-hal lain sesuai realita.

3. Stres dan Overthinking

Proses berpikir algoritmik yang berulang dapat menyebabkan stres, terutama jika manusia terjebak dalam pola pikir tertentu sehingga tidak mampu menemukan solusi yang diinginkan. Pemikiran algoritmik juga dapat menyebabkan individu terjebak dalam overthinking, di mana mereka terus-menerus berpikir setiap langkah tanpa mengambil tindakan. Hal ini dapat menghambat pengambilan keputusan dan membuat manusia tidak yakin tentang tahapan berikutnya.

Baca juga: Artificial Intelligence di Era Revolusi Industri 4.0

4. Berkurangnya Keterampilan Sosial

Ketika manusia terlalu fokus pada pemecahan masalah secara algoritmik, mereka mungkin mengabaikan pentingnya interaksi sosial dan komunikasi dalam tahapan pemecahan masalah. Hal ini dapat mengurangi kemampuan mereka untuk berkolaborasi dengan orang lain.

Secara keseluruhan, meskipun AI memiliki banyak manfaat dalam hal efisiensi dan efektivitas, penting untuk menjaga keseimbangan antara pendekatan model komputasi buatan ini dengan kreativitas dan kemampuan interpersonal agar tidak memperlemah fungsi kognitif manusia.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *