Oleh: Dea Affriyanti
Ditikam oleh panah milik dewa tangisan alam
Dalam perang ribuan ganendra yang dipenuhi ekawira
Aku yang mencoba membersamai disaat masa kelam
Nyatanya kalah cerdas dengan dia yang gemar mengira
Sedari dulu sudah dipasang rambu-rambu
Sedari sajak ini masih terlihat abu-abu
Sepertinya kamu memang pecandu sabu
Hingga lupa akan aku yang menjamumu dengan langkah seribu
Tong yang terisi penuh harapan penuh aryasatya
Bilik kamar yang menua karena kau yang terlalu gila anjali
Maka kuburlah semua retorika bahwa kita adalah abisatya
Agar tak celaka karena aku yang terus berusaha mengadili
Permohonanku semakin menggelegar seisi alam
Kesetiaanku semakin meninjau rasa kekurangan
Izinkan aku hidup dengan akhiran salam
Dan menapaki penerimaan tanpa adanya keasingan