Judul : Literasi Finansial: Biaya Hidup Itu Murah, yang Mahal Itu Biaya Pamer
Penulis : Syarifudin Yunus, dkk.
ISBN : 978-602-56811-3-5
Penerbit : Pustaka Anagram
Tebal : 180 halaman
Milenianews.com, Ngobrolin Buku- Uang itu cukup untuk hidup. Tapi uang tidak akan pernah cukup untuk gaya hidup. Maka biaya hidup itu murah, yang mahal biaya pamer. Pesan itulah yang mau disampaikan buku “Literasi Finansial: Biaya Hidup Itu Murah, yang Mahal Itu Biaya Pamer” karya Syarifudin Yunus, dkk. sebagai kumpulan karya jurnalisme data bersama mahasiswa Semester VII Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Indraprasta PGRI tahun 2022/2023. Buku ini mengajak pembacanya untuk berhat-hati dalam memperlakukan uang. Karena dalam hidup, tidak ada hal yang bisa membentuk kebiasaan selain uang.
Buku Literasi Finansial setebal 180 halaman terbitan Pustaka Anagram ini menegaskan uang bukanlah segalanya, bukan pula satu-satunya jawaban. Uang adalah hamba yang baik, namun mampu menjadi tuan yang buruk bagi siapapun. Maka sikap bijak dalam mengelola uang menjadi sangat penting. Literasi finansial sangat diperlukan untuk tata kelola uang secara pribadi. Biaya hidup itu murah, yang mahal itu biaya pamer. Untuk apa pamer? Karena pamer adalah ide yang bodoh untuk sebuah kemenangan dan arogansi dalam hidup.
Banyak orang selalu mengeluh penghasilannya kurang dan tidak bisa menutupi kebutuhan hidup. Padahal, yang terjadi adalah mereka tidak bisa mengatur keuangannya. Fakta menunjukkan 1 dari 2 orang di Indonesia hanya berorinetasi pada tujuan keuangan jangka pendek, di samping memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Seperti yang terjadi pada kaum milenial, di buku ini, dinyatakan 9 dari 10 kaum milenial terancam “bangkrut” di hari tua. Akibat gandrung pada gaya hidup, dan sikap konsumerisme ditambah hobi nongkrong di kafe-kafe. Gaya hidup dan biaya pamer itulah yang jadi sebab penyakit “dompet tipis” melanda kaum milenial. Dalam hal keuangan, kaum milenial lebih suka menghabiskan uang untuk mendapatkan pengalaman tertentu dibandingkan menabung atau menambah aset. Maka membangun kesadaran pentingnya literasi finansial di masyarakat jadi kian mendesak.
Kelebihan buku Literasi Finansial ini, antara lain: 1) penyajian isi yang berdasarkan fakta dan data lapangan, 2) gaya bahasa yang sederhana dan lugas, dan 3) disusun dari perspektif finansial kalangan milenial atau mahasiswa. Sementara kekurangannya terletak pada 1) jenis kertas “bookpaper” yang kurang memadai dan 2) tata bahasa yang belum sesuai kaidah penulisan.
Terlepas dari itu semua, setidaknya buku “Literasi Finansial: Biaya Hidup Itu Murah, yang Mahal Itu Biaya Pamer” ingin mengingatkan pembaca bahwa sekecil apapun uang yang dimiliki pasti akan cukup untuk bertahan hidup. Namun sebanyak apa pun uang yang dimiliki tidak akan pernah cukup untuk gaya hidup. Karena gaya hidup kian mahal bila mengikuti keinginan tapi uang akan cukup bila disesuaikan kebutuhan. Berjuang memenuhi tuntutan gaya hidup yang diinginkan tentu akan mengeluarkan biaya yang mahal. Maka sebagai solusi, literasi finansial mengajak siapapun untuk 1) membuat tujuan keuangan, 2) mengelola uang atas dasar kebutuhan, bukan keinginan, dan 3) mulailah untuk menabung sedini mungkin.
Ternyata benar. Biaya hidup itu murah, yang mahal itu biaya pamer. Jadi, “hiduplah sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan”. Salam literasi.
Peresensi : Ilham Bahrul Ulum, Relawan TBM Lentera Pustaka dan Alumni Unindra