Milenianews.com, Cilegon—Pakar pendidikan Tjutju Herawati, M.Pd. membagikan kiat membangun komunikasi efektif dan kemandirian anak di era digital. Materi tersebut ia sampaikan pada seminar parenting yang diadakan dalam rangka peresmian gedung KB-TK Bosowa Al Azhar Cilegon, di Sekolah Bosowa Al Azhar Cilegon (BAC), Cilegon, Senin (4/3/2024).
Tjutju Herawati mengawali materinya dengan menjelaskan makna komunikasi efektif. “Komunikasi efektif adalah komunikasi yang mampu mencapai tujuan yang diinginkan oleh pengirim pesan. Komunikasi efektif juga berarti komunikasi yang mampu membangun hubungan yang baik antara pengirim dan penerima pesan,” kata Tjutju Herawati.
Pakar Pendidikan yang akrab dipanggil Hera itu menyebutkan beberapa ciri komunikasi efektif. Yakni, jelas, ringkas, akurat, tepat, efisien, sopan, dan empati.
Ia lalu menyajikan tips meningkatkan komunikasi efektif, khususnya orang tua kepada anak:
- Perhatikan audiens.
- Gunakan bahasa yang mudah dimengerti.
- Sampaikan pesan dengan jelas dan ringkas.
- Menjadi contoh yang baik.
- Gunakan bahasa tubuh yang positif.
- Menjadi pendengar yang baik.
- Memberikan umpan balik yang konstruktif.
Menurut Hera, komunikasi efektif itu mengandung banyak manfaat. Yakni, meningkatkan pemahaman; membangun hubungan yang baik; dan meningkatkan kerja sama. “Selain itu, menyelesaikan masalah, dan mencapai tujuan bersama,” ujarnya seperti dikutip dalam rilis yang diterima Milenianews.com.
Kemandirian
Hera kemudian mengupas hal terkait kemandirian. Ia menjabarkan, kemandirian adalah kemampuan untuk berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.
Kemandirian dapat diartikan sebagai kemampuan untuk :
- Mengurus diri sendiri.
- Membuat keputusan sendiri.
- Mencari nafkah sendiri.
- Menjadi pembelajar mandiri.
- Berkontribusi kepada Masyarakat.
Hera menyebutkan beberapa manfaat kemandirian. “Yakni, meningkatkan rasa percaya diri; mengembangkan rasa tanggung jawab; membuat seseorang lebih kuat dan Tangguh; dan membuka peluang untuk mencapai kesuksesan dalam hidup,” tuturnya.
Tak lupa ia pun memberikan tips cara mengembangkan kemandirian sebaga berikut:
- Belajar untuk melakukan berbagai hal sendiri sejak kecil.
- Diberi kesempatan untuk membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas konsekuensinya.
- Didorong untuk menjadi pembelajar mandiri dan terus mengembangkan diri.
- Diberi kesempatan untuk berkontribusi kepada masyarakat dan membantu orang lain.
Kemandirian pada Anak Usia Dini
Secara khusus, Hera juga membahas tentang kemandirian pada anak usia dini. “Kemandirian pada anak usia dini adalah kemampuan anak untuk melakukan berbagai hal sendiri tanpa bergantung pada orang lain; seperti : makan sendiri, memakai sepatu sendiri, membersihkan kamarnya sendiri, menyelesaikan tugas sehari-hari sendiri,” kata Hera.
Ia menambahkan, kemandirian pada anak usia dini membantu anak untuk :
- Mengembangkan rasa percaya diri dan self-esteem.
- Belajar bertanggung jawab atas tindakan mereka.
- Mengembangkan keterampilan motorik dan kognitif.
- Bersiap untuk memasuki sekolah dan kehidupan yang lebih mandiri.
Hera lalu membagikan tips mengembangkan kemandirian anak usaha ini:
- Mulailah dengan hal-hal kecil.
- Berikan instruksi yang jelas dan ringkas.
- Berikan kesempatan untuk menyelesaikan tugas.
- Berikan pujian dan dorongan.
- Bersabarlah.
Ia pun menyebutkan cara membangun resiliensi kemandirian anak usia dini di era digital:
- Berikan kesempatan kepada anak untuk belajar mandiri.
- Ajarkan anak tentang cara menggunakan teknologi dengan bijak.
- Bantu anak untuk mengembangkan keterampilan sosial dan emosional.
- Menjadi contoh yang baik bagi anak.
Adapun contoh aktivitas yang membangun resiliensi kemandirian anak usia dini adalah:
- Bermain permainan yang melatih kemandirian, seperti : puzzle atau permainan papan.
- Membaca buku cerita tentang karakter yang tangguh.
- Melakukan kegiatan kreatif, seperti : menggambar atau bermain peran.
- Bermain di luar ruangan.
Hambatan Orang Tua
Diakui oleh Hera, masih banyak orang tua yang mengalami hambatan dalam membangun resiliensi pada kemandirian anak usia dini. Yakni:
- Kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang resiliensi.
- Ketakutan dan kecemasan orang tua.
- Kurangnya waktu dan kesabaran.
- Ekspektasi yang tidak realistis.
- Tidak-konsisten dalam pengasuhan.
Baca Juga : Kadis Pendidikan Kota Cilegon Apresiasi Sekolah Bosowa Al Azhar Cilegon
Ia pun memberikan tips dalam menerapkan pola asuh kepada anak sebagai berikut:
- Kenali anak dengan baik.
- Berikan cinta dan kasih sayang.
- Berikan dukungan dan bimbingan.
- Jadilah panutan yang baik.
- Bersabarlah.
Di akhir penyampaian materinya, Hera memberikan tipsnya terkait upaya membangun komunikasi efektif dan kemandirian anak di era digital saat ini. “Kuncinya adalah sabar, syukur, ikhlas, dan berfikir positif. Komunikasi efektif dan kemandirian membangun generasi yang kuat di masa depan,” ujar Tjutju Herawati.