SD Bina Insani Gelar Puncak P5 Rekayasa dan Teknologi

SD Bina Insani menggelar acara Puncak P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Rekayasa dan Teknologi, di lapangan SD Bina Insani, Bogor, Selasa (28/5/2024). (Foto: Dok SBBI)

Milenianews.com, Bogor—SD Bina Insani menggelar acara Puncak P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Rekayasa dan Teknologi. Kegiatan tersebut digelar di lapangan SD Bina Insani, Bogor, Selasa (28/5/2024).

Acara tersebut dihadiri oleh PIC Bosowa School Eko Ariyanto, Pengawas Pembina Kecamatan  Tanah Sareal Dinas Pendidikan Kota Bogor  Siti Nur Hamidah MPd, para anggota tim Akademik Bosowa School,  kepala sekolah di lingkungan Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI), para guru SD Bina Insani, dan para murid SD Bina Insani.

“Kegiatan  Puncak P5 ini  merupakan dari aksi nyata karakter profil pelajar Pancasila yakni: beriman, bertakwa kepada Tuhan yanag Maha Esa, Berkebhinekaan global, Gotong royong, Mandiri, Bernalar kritis, dan Kreatif,” kata Kepala SD Bina Insani, Dra. Eka Rafikah dalam rilis yang diterima Milenianews.com.

Ia menambahkan, hal ini tak bisa dipungkiri bahwa mempelajari berbagai hal di luar kelas dapat membantu peserta didik berkembang dengan lebih baik. “Mempelajari hal-hal di kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan kepekaan dan kepedulian peserta didik terhadap lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Hal ini sesuai dengan gagasan tentang pentingnya mempelajari hal-hal di luar kelas pernah disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa “… perlulah anak-anak (Taman Siswa) kita dekatkan hidupnya kepada perikehidupan rakyat, agar supaya mereka tidak hanya memiliki ‘pengetahuan’ saja tentang hidup rakyatnya, akan tetapi juga dapat ‘mengalaminya’ sendiri, dan kemudian tidak hidup berpisahan dengan rakyatnya.”

Eka menambahkan,  Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan salah satu sarana untuk mencapai berbagai target dalam Profil Pelajar Pancasila. Dalam praktiknya, projek tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk “mengalami pengetahuan’ sebagai sebuah proses penguatan karakter sekaligus bentuk belajar secara nyata dari lingkungan sosialnya.

“P5 adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitar peserta didik. P5 menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis projek (project-based learning) yang berbeda dengan pembelajaran berbasis proyek dalam program intrakurikuler di dalam kelas,” paparnya.

Puncak P5 semester 2 Tahun Pelajaran 2023/2024 ini SD Bina Insani mengambil tema “Rekayasa dan Teknologi Untuk NKRI”. Di tema ini peserta didik menyelesaikan proyek yang berhubungan dengan rekayasa dan teknologi. Peserta didik melakukan eksperimen mengenai teknologi dasar dan sederhana sesuai dengan tahap perkembangan mereka.

“Semoga dengan kegiatan ini peserta didik dapat merancang dan mengembangkan teknologi untuk negeri tercinta Indonesia dengan memanfaatkan barang-barang tidak terpakai, dan memanfaatkakan sumber daya alam yang tersedia selain minyak bumi untuk menciptakan energi yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan sehari-hari dengan bijak,” kata Eka Rafikah.

Ketua Panitia Puncak P5, Hj. Mariyatul Qiptiyah, S.Pd. menyampaikan kegiatan ini diikuti oleh kelas 1-6 dengan penjelasan sebagai berikut:

Kelas 1        : REMORANA ( rekayasa mobil dan perahu sederhana )

Kelas 2        : Mobil tenaga angin

Kelas 3       : Campaign Hemat energi: tenaga listrik, air dg membuat filterisasi, bahan

bakar fosil, biodiesel dan solar

Kelas 4        : Hidroponik

Kelas 5        : Mobil tenaga air

Kelas 6        : Vacum cleaner sederhana

“Pesan yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah, pertama, membangun karakter  dan profil pelajar pancasila(gotong royong, kreatif dan bernalar kritis); kedua, membangun karakter yang mampu merancang dan  menciptakan teknologi sederhana dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Hj. Mariyatul Qiptiyah, S.Pd.

“Setelah melihat stand pameran P5,  Pengawas Pembina Kecamatan  Tanah Sareal Dinas Pendidikan Kota Bogor, Siti Nur Hamidah MPd sangat antusias.  Karena   SD Bina Insani melalui Projek P5 sudah berhasil menanamkan konsep teknologi sejak dini,” ungkap Qiptiyah.

Ia menambahkan, “Bu Siti Nur Hamidah juga minta rekaman pembuatan proses filterisasi air untuk dijadikan arsip bisa diterapkan ke daerah yang bermasalah dengan  air keruh.”

Dinilai Tim Juri

Karya para peserta Puncak P5 (perwakilan kelas)   itu dinilai oleh Tim Juri, yakni Head Curriculum Bosowa School, Lies Rachmawati, dan Asisten Head Curriculum Bosowa School, Tjutju Herawati.

“Yang kami lakukan bukan memeringkat (juara 1,  dan seterusnya), karena jenis karya yang ditampilkan oleh tiap-tiap kelas berbeda-beda.  Jadi, lebih tepatnya yang kami lakukan adalah memberikan apresiasi.   Kita melihat ini karya kreatif dan  karya inovatif siswa. Tim Juri memberikan apresiasi dalam  enam katagori, seperti ter-kreatif, ter-inovatif, ter-heboh, ter-kompak  dan lain-lain,” kata Lies.

Ia menambahkan, “Di luar  dari itu, yang kita lihat memang anak-anak mendapatkan pembelajaran secara holistik. Tidak hanya akademis saja,  tapi juga dari penguatan karakter sesuai tujuan P5. Apalagi yang dipilih kali ini adalah tentang rekayasa dan teknologi.”

Ia menjelaskan, proses persiapan Puncak P5 itu  sudah berlangsung sekitar tiga  bulan.  Para siswa dibimbing oleh guru. Mereka  mendapatkan pendalaman pengetahuan tentang bagaimana membuat rancang proses invatif dari teknologi itu; kemudian bagaimana anak-anak bisa bijak dalam penggunaan teknologi, atau  etika yang bijaksana dalam penggunaan teknoloi. Karena teknologi  itu ibarat pisau bermata dua, bisa positif bisa negatif.

Tim Juri, kata Lies, senang karena para siswa perwakilan tiap-tiap kelas itu  bisa menjelaskan karya yang mereka pamerkan dengan baik. Mereka bahkan menujuk juru bicara.

“Misalnya kelas 1 membuat kendaraan dengan energi angin. Juru bicara mereka  tahu cara kerjanya,  cara bergeraknya.  Mereka bisa menjelaskan dengan baik,” ujarnya.

Lalu, siapa yang memutuskan jenis karya apa yang akan dibuat: milih guru atau siswa? Diawali mereka melihat tontonan, tayangan, gambar. Lalu mereka berembuk milih minat tertentu. Mereka juga harus tahu prinsip kerjanya.

“Dari hasil karya para siswa yang mewakili kelasnya masing-masing  itu kita melihat ternyata anak-anak happy dengan pembelajaran berbasis proyek. Melalui karya-karya tersebut, mereka mengopitmalkan daya kritis, kreativitas,  dan inovasi. Harapannya, mereka  kelak  punya rancangan-rancangan yang lebih  hebat lagi,” tutur Lies Rachmawati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *