Milenianews.com, Cibubur — Suasana Ramadhan terasa hangat di lingkungan Sekolah Bakti Mulya 400 Cibubur pada Jumat, 6 Maret 2026. Para pimpinan sekolah, kepala unit, guru, dan staf berkumpul dalam kegiatan Community Iftar Dinner di Infinity Hall. Acara ini bukan sekadar buka puasa bersama, melainkan juga ruang refleksi spiritual bagi civitas akademika sekolah.
Sejak pukul 15.30, para peserta mulai berdatangan. Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Eka Fitriyanti, S.S. selaku pembawa. Selanjutnya pembacaan Al-Qur’an Juz 30 dan doa khatmil Qur’an yang dipimpin oleh Imron Nasihin, Lc. Pembacaan Al-Qur’an tersebut menjadi bagian dari tradisi yang telah dibangun di lingkungan Bakti Mulya 400 selama ini.

Chief Executive Officer Bakti Mulya 400, Dr. H. Sutrisno Muslimin, M.Si., dalam sambutannya menjelaskan bahwa pembacaan Al-Qur’an selama Ramadhan merupakan upaya membudayakan khatam Al-Qur’an di kalangan guru dan karyawan.
“Empat tahun lalu kita mulai membangun tradisi membaca Al-Qur’an sampai tamat di bulan Ramadhan. Saat itu capaian tertinggi di antara guru dan karyawan adalah khatam satu kali dalam bulan tersebut. Namun sekarang di antara guru sudah ada yang mampu mengkhatamkan Al-Qur’an hingga sembilan kali dalam Ramadhan,” ujar Sutrisno.
Menurutnya, tradisi tersebut tidak sekadar aktivitas ritual. Ramadhan, kata dia, harus menjadi momentum untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, sekaligus menjadi sarana pembentukan kepribadian spiritual para pendidik.

“Sebagai guru, kita tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual siswa, tetapi juga harus terus membina kedalaman spiritual kita sendiri. Ini sejalan dengan nilai dasar Bakti Mulya 400 yang menanamkan karakter religius,” kata Sutrisno.
Ia juga menyinggung perkembangan lembaga pendidikan Bakti Mulya 400 yang ada di Jakarta, Cibubur, dan Depok. Menurut dia, pertumbuhan semua unit tersebut menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan masyarakat terhadap sekolah yang mengusung nilai religius, nasionalis, dan internasionalis.
“Nilai-nilai itu kini menjadi kebutuhan pendidikan masa kini. Karena itu kita harus terus meningkatkan kualitas diri, memperkuat kompetensi profesional, dan mengembangkan kapasitas sebagai pendidik,” ujarnya.
Sutrisno menegaskan komitmennya untuk memimpin Bakti Mulya 400 menjadi sekolah besar yang tumbuh melalui kontribusi seluruh civitas akademika.
“Saya berkomitmen memimpin Bakti Mulya 400 menjadi sekolah besar yang dibesarkan oleh seluruh civitas akademikanya,” kata dia.

Menguatkan Makna Iman
Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah Ramadan oleh Prof. Dr. Media Zainul Bahri, M.A., Guru Besar Pemikiran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam ceramahnya, Media mengajak peserta merenungkan kembali makna iman dan Islam dalam perjalanan sejarah umat Muslim.
Ia memaparkan bahwa pada masa awal perkembangan Islam—yakni pada era Nabi Muhammad dan para sahabat—kata iman lebih dominan disebut dibandingkan kata Islam. Dalam kajian yang ia sampaikan, kata iman muncul sekitar 86 persen, sedangkan kata Islam sekitar 14 persen.
“Orang yang beriman diperintahkan untuk menjalankan nilai-nilai moral yang ditegaskan dalam Al-Qur’an,” ujar Media.
Ia kemudian menyebut beberapa contoh ajaran Al-Qur’an yang menekankan kualitas iman, seperti perintah bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya (QS Ali Imran: 102), perintah berpuasa agar menjadi orang bertakwa (QS Al-Baqarah: 183), larangan memakan harta orang lain secara batil (QS An-Nisa: 29), hingga perintah menegakkan keadilan bahkan terhadap diri sendiri (QS An-Nisa: 135).
Baca Juga : Gapai Berkah Ramadhan, Sekolah BM 400 Depok Gelar Bakti Sosial untuk Warga Sekitar
Namun, menurut Media, situasi mulai berubah ketika Islam menyebar luas ke berbagai wilayah Asia, Afrika, dan Eropa sekitar abad ke-11 hingga ke-15. Pada masa itu, kata Islam mulai lebih sering digunakan daripada kata iman. Dalam periode tersebut, kata iman disebut sekitar 40 persen, sedangkan kata Islam mencapai 60 persen.
Perubahan itu semakin terlihat pada era modern, sejak sekitar abad ke-19 hingga sekarang. Dalam periode ini, kata iman hanya disebut sekitar 9 persen, sedangkan kata Islam mencapai 91 persen.
“Identitas Islam kemudian melekat pada banyak aspek kehidupan. Kita mengenal sekolah Islam, rumah sakit Islam, perumahan Islam, busana Muslim, bank Islam, bahkan negara Islam,” kata Media.
Menurut dia, fenomena tersebut berpotensi mendangkalkan makna iman jika tidak diimbangi dengan kualitas spiritual yang kuat.
“Tidak apa-apa menonjolkan identitas. Tapi kualitas iman jangan dilupakan. Iman adalah esensi dan substansi kualitas personal, sedangkan Islam adalah identitas, manifestasi, dan ekspresi personal,” ujarnya.
Media juga mengingatkan bahwa penyimpangan perilaku sering muncul ketika identitas agama tidak disertai kedalaman iman. “Jangan sampai ada orang mengaku Islam tetapi melakukan kekerasan. Membunuh itu jelas diharamkan. Atau mengaku Islam tapi menyebarkan hoaks, padahal berbohong juga dilarang,” katanya.
Ia berpesan agar umat Islam tidak hanya merayakan identitas keislaman, tetapi juga memperkuat kualitas iman dalam kehidupan sehari-hari. “Jangan membanggakan Islam kalau imannya rontok. Jangan sampai kita merayakan Islam, tetapi iman kita justru keok,” ujarnya.
Menurut Media, seorang Muslim yang benar-benar beriman akan tercermin dalam perilaku hidup yang bersih, disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan memiliki integritas.
Khusus kepada para guru, ia menegaskan pentingnya integritas spiritual dalam profesi pendidik. “Kiat utama sebagai pendidik adalah memiliki integritas iman,” kata Media.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama menjelang waktu berbuka puasa yang dipimpin Abdullah Hanif, S.Pd. Para peserta menikmati ta’jil, melaksanakan salat Maghrib berjamaah, dan dilanjutkan dengan makan malam bersama.
Di tengah suasana Ramadhan, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga perjalanan membangun manusia yang beriman, berkarakter, dan berintegritas.













