Milenianews.com, Jakarta– Menjelang Maghrib pada Jumat, 13 Maret 2026, suasana di Auditorium Ki Hajar Dewantara, SMP Bakti Mulya 400 perlahan dipenuhi para pimpinan sekolah Bakti Mulya 400 Jakarta, Cibubur dan Depok dan tamu-tamu kehormatan. Di luar, matahari perlahan turun menuju ufuk barat. Itulah suasana Iftar Gathering Bakti Mulya 400 bertema “Fasting and Mental Wellbeing”.
Acara yang berlangsung pukul 16.00 hingga 18.30 WIB itu menghadirkan dua pembicara: Dr. H. Sutrisno Muslimin, M.Si., CEO Bakti Mulya 400, dan Prof. Dr. Rusmin Tumanggor, M.A., Guru Besar Antropologi Medis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Keduanya berbicara dari dua sudut pandang unik—kepemimpinan pendidikan dan kesehatan manusia—sekaligus mempertemukan satu makna: puasa adalah jalan pembentukan manusia yang utuh.
Sekolah yang Bertumbuh dari Semangat
Dalam sambutannya, Sutrisno Muslimin membuka pertemuan itu dengan kabar menggembirakan. Di tengah dinamika dunia pendidikan yang semakin kompetitif, Sekolah Bakti Mulya 400 justru menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.
Penerimaan siswa baru untuk tahun pelajaran 2026/2027 di seluruh unit—Jakarta, Cibubur, dan Depok—nampak akan terpenuhi dengan cepat. Jika tren ini terus berlanjut, jumlah siswa pada tahun ajaran mendatang diperkirakan akan mencapai sekitar 2.000 siswa.
“Ini bukan sekadar angka,” kata Sutrisno. “Ini adalah hasil dari kerja kolektif seluruh guru yang bekerja dengan semangat, berpikir positif, dan memberikan kontribusi terbaik bagi sekolah,” ujarnya menambahkan.

Namun bagi Sutrisno, pertumbuhan lembaga pendidikan tidak hanya diukur dari jumlah siswa. Lebih penting adalah kualitas manusia yang membangunnya. Karena itu ia mengingatkan para pimpinan guru tentang tiga hal penting yang harus terus dijaga.
Pertama, membangun komunitas yang semakin dekat kepada Tuhan. Ramadhan, menurutnya, adalah momentum untuk memperkuat spiritualitas. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter.
“Guru yang saleh akan membawa dampak pada kualitas kerjanya,” ujarnya.
Kedua, kemampuan beradaptasi dengan perubahan. Dunia pendidikan hari ini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan masa lalu. Perkembangan teknologi dan arus informasi global telah mengubah cara manusia belajar, berpikir, dan bekerja. Dalam situasi seperti ini, guru tidak lagi cukup hanya mengandalkan metode lama atau pengetahuan yang diperoleh bertahun-tahun silam. Kemampuan beradaptasi bukan sekadar mengikuti tren teknologi, tetapi juga kemampuan membuka diri terhadap cara berpikir baru, metode pembelajaran baru, serta tantangan baru.
“Guru yang mampu beradaptasi akan tetap relevan di tengah perubahan, sementara guru yang berhenti belajar akan tertinggal oleh perkembangan zaman,” kata Sutrisno.
Baca Juga : Ramadhan di BM 400: Dari Khatam Al-Qur’an hingga Menguatkan Makna Iman
Ketiga, belajar tanpa henti. Pengetahuan, kata Sutrisno, memiliki masa kadaluwarsa. Apa yang dipelajari kemarin bisa jadi sudah tidak relevan hari ini.
“Apa yang kita pelajari di bangku kuliah dulu, hampir pasti membutuhkan pembaruan sekarang,” katanya.
Pesan itu sederhana, tetapi mendalam: guru yang terus belajar adalah fondasi bagi sekolah yang terus berkembang.
Ketika Lapar Menjadi Jalan Sehat
Pada sesi selanjutnya, Prof. Rusmin Tumanggor mulai menyampaikan tausiyahnya. Ia membuka ceramah dengan sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang singkat namun penuh makna:
“Shūmū taṣiḥḥū.”
Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.
Hadis ini, menurut Rusmin, sering dikutip tetapi jarang direnungkan secara mendalam. Padahal kalimat sederhana itu membuka pemahaman luas tentang puasa sebagai sistem kesehatan manusia yang menyeluruh.
Puasa, katanya, bukan hanya ibadah ritual. Ia adalah latihan besar bagi manusia untuk menata tubuh, jiwa, masyarakat, dan spiritualitasnya.
Dari situlah muncul gagasan tentang empat jalan kesehatan dalam puasa: kesehatan fisik, mental, sosial, dan spiritual.

Tubuh yang Belajar Beristirahat
Dalam kehidupan modern, tubuh manusia jarang mendapatkan kesempatan untuk berhenti. Sistem pencernaan—lambung, usus, hati, dan ginjal—bekerja hampir sepanjang hari memproses makanan yang masuk tanpa jeda.
Puasa menghadirkan sesuatu yang langka: jeda biologis.
Sejak Subuh hingga Magrib, sistem pencernaan berhenti menerima asupan makanan. Lambung tidak bekerja sekeras biasanya. Usus tidak sibuk memproses nutrisi. Tubuh memasuki fase penyesuaian yang memberi kesempatan bagi organ-organ tersebut untuk memulihkan diri.
Rusmin mengibaratkannya seperti mesin pabrik. Mesin yang telah bekerja lama tidak bisa dipaksa terus beroperasi tanpa henti. Pada titik tertentu, mesin itu harus dimatikan untuk overhaul, perbaikan besar agar kembali optimal.
“Begitulah tubuh manusia saat berpuasa,” kata Rusmin.
Sel-sel tubuh mengalami proses peremajaan. Metabolisme yang semula tidak teratur mulai menata diri kembali. Bahkan bakteri dan virus yang biasanya berkembang dari pola makan berlebihan tidak mendapatkan kondisi ideal untuk berkembang.
“Tubuh manusia sebenarnya lebih kuat dan lebih bijaksana daripada yang kita bayangkan,” kata Rusmin.
Jiwa yang Belajar Menahan Diri
Namun puasa tidak berhenti pada tubuh. Ia juga memasuki wilayah yang jauh lebih kompleks: jiwa manusia.
Menurut Rusmin Tumanggor, kesehatan mental manusia ditopang oleh berbagai unsur: pikiran, emosi, naluri, motivasi, hingga kemampuan mengambil keputusan.
Puasa melatih semua unsur itu melalui satu kata kunci: pengendalian diri. “Orang yang berpuasa tidak hanya menahan lapar. Ia juga menahan amarah, menjaga kata-kata, dan mengendalikan dorongan emosional,” ujarnya.
Di bulan Ramadhan, manusia seolah diajak memperlambat hidupnya.
Lebih banyak membaca Al-Qur’an. Lebih banyak merenung. Lebih banyak bersabar.
Dalam proses itu, jiwa belajar menghadapi tekanan hidup—kecemasan, konflik batin, bahkan stres—dengan cara yang lebih tenang.
Puasa menjadi latihan psikologis tahunan yang membentuk ketahanan mental manusia.
Masyarakat yang Belajar Peduli
Dimensi berikutnya adalah kesehatan sosial.
Setiap Ramadhan, pemandangan yang sama selalu muncul: orang-orang berkumpul di masjid untuk shalat Tarawih, keluarga berbuka bersama, dan masyarakat berbagi makanan kepada yang membutuhkan.
Di situlah puasa memperbaiki hubungan manusia dengan sesamanya.
Ramadhan menghadirkan berbagai mekanisme sosial yang memperkuat solidaritas: sedekah, zakat, dan kebiasaan saling memaafkan.
Puasa juga mengingatkan manusia untuk menjaga kehalalan rezeki—menjauhi praktik yang merugikan orang lain seperti korupsi atau manipulasi.
Ketika nilai-nilai itu dijalankan bersama, masyarakat menjadi lebih hangat. Hubungan antarwarga tidak lagi sekadar formal, melainkan dipenuhi rasa saling peduli.
Jiwa yang Mendekat kepada Tuhan
Di balik semua dimensi itu, terdapat satu dimensi yang paling dalam: spiritualitas.
Spiritualitas adalah keadaan ketika manusia menemukan makna hidup melalui hubungannya dengan Tuhan, dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta.
Puasa menjadi jalan menuju pengalaman tersebut.
Selama Ramadhan, umat Islam memperbanyak ibadah: shalat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, hingga melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
“Aktivitas itu bukan sekadar ritual. Ia adalah sarana untuk menenangkan hati dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta,” kata Rusmin.
Ketika seseorang membayar zakat atau bersedekah, ia juga merasakan kelegaan batin. Harta yang selama ini melekat pada dirinya berubah menjadi sarana berbagi.
Perasaan itu sederhana, tetapi dalam: rasa damai karena hidup terasa lebih bermakna.
Latihan Tahunan untuk Menjadi Manusia Utuh
Ketika azan Magrib akhirnya berkumandang di auditorium, para peserta berbuka puasa bersama. Gelas air putih dan kurma menjadi penutup dari rangkaian diskusi tentang makna puasa yang lebih luas.
Pada akhirnya, puasa bukan sekadar ritual yang datang setahun sekali. Ia adalah latihan tahunan bagi manusia.
Puasa melatih tubuh untuk hidup lebih sehat. Melatih jiwa untuk lebih sabar. Melatih masyarakat untuk lebih peduli. Dan melatih manusia untuk kembali mengingat Tuhannya.
Setiap Ramadhan memberi kesempatan baru bagi manusia untuk memperbaiki diri.
Pertanyaannya sederhana—tetapi tidak mudah dijawab: setelah Ramadhan berlalu, apakah pelajaran itu masih akan bertahan?
Jika jawabannya ya, maka puasa bukan lagi sekadar ibadah musiman. Ia menjadi jalan pembentukan manusia seutuhnya—manusia yang sehat tubuhnya, matang jiwanya, hangat hubungannya dengan sesama, dan dekat dengan Tuhannya.
Dan mungkin di situlah makna terdalam dari sabda Nabi yang sederhana itu:
Berpuasalah, niscaya kamu akan sehat.













