Kurikulum itu Memudahkan: Bangkitkan Semangat Guru dan Tingkatkan Literasi Melalui Implementasi Kurikulum Merdeka

Suasana kegiatan Pelatihan Implementasi Kurikulum Merdeka, bertempat  di SD Negeri 03 Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jumat  (11/10/2024). Kegiatan ini merupakan Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Prodi PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Terbuka. (Foto: Dok UT)

Milenianews.com, Bogor– “Sebutkan satu kata yang muncul pertamakali dalam pikiran Bapak/Ibu ketika mendengar kata Kurikulum,”  demikian pertanyaan pembuka yang disampaikan kepada peserta Pelatihan Implementasi Kurikulum Merdeka, bertempat  di SD Negeri 03 Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jumat  (11/10/2024). Kegiatan ini merupakan Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Prodi PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Terbuka.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka sebagai upaya mewujudkan pendidikan yang lebih inklusif dan menekankan pada pengembangan potensi peserta didik secara optimal. Ini merupakan kelanjutan dari kerjasama FKIP UT dengan desa Tegal yang telah berlansung di tahun ke dua, pada tahun ketiga nanti kami akan mempersiapkan secara mendalam dan menemukan ide apa lagi yang dibutuhkan guru SD di desa ini”, ungkap Monika Handayani, selaku ketua Tim PKM Prodi PGSD UT, dalam rilis yang diterima Milenianews.com.

Kegiatan yang bertema “Implementasi PKM Nasional Pemberdayaan Guru dan Orang Tua untuk Meningkatkan Literasi dan Parenting dalam Implementasi Kurikulum Merdeka” didukung oleh tim Abdimas FKIP UT, yaitu: Novi Eka Putri, Saddam Fathurahman, Apri Kasman, dan Dony Darma Sagita. Peserta terdiri guru beberapa sekolah di lingkungan gugus Kecamatan Kemang.

“Horor, rumit, pusing, ribet, berubah lagi”, demikan beberapa jawaban spontan dari peserta terkait pertanyaan di atas.  Hal yang menarik dari jawaban ini adalah kurikulum sebagai alat (tools) semestinya memudahkan  guru menjalankan tugas sehingga mereka mampu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara, –sebagaimana amanat Pasal 1 ayat (1) UUSPN No.20 tahun 2003– justeru dirasakan sebaliknya oleh guru.

“Keberadaan kurikulum membuat materi pelajaran yang tadinya rumit dan sulit dipelajari siswa menjadi sederhana dan mudah dipelajari (learnable). Materi yang abstrak dan sulit diukur ketercapaiannya menjadi dapat dicapai (achievable), terukur (measurable), dan/atau dapat dilihat ketercapaiannya (observable). Bahan-bahan pelajaran yang tadinya sulit diajarkan menjadi lebih praktis (teachable), kita  bisa bayangkan apa yang akan terjadi di ruang kelas ketika alam bawah sadar guru menyimpan pikiran bahwa kurikulum itu horror, ribet,  rumit dan memberatkan?”,  ungkap Zulfikri Anas, dosen PGSD FKIP Universitas Terbuka yang hadir sebagai nara sumber.

Zulfikri Anas, dosen PGSD FKIP Universitas Terbuka hadir sebagai nara sumber.

Lebih lanjut, Zulfikri menekankan bahwa kesadaran  terhadap peran kurikulum sebagai alat bantu yang memudahkan guru dan agar guru lebih memiliki waktu yang cukup untuk mendampingi peserta didik sehingga setiap anak tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya menjadi “ruh” dan semangat Kurikulum Merdeka. “Hal ini dilakukan pemerintah terhadap keluhan guru terkait kerumitan kurikulum yang dirasakan guru selama ini,” ujarnya.

Oleh karena itu,  kata Zulfikri, agar kurikulum tidak menjadi beban bagi guru, ada dua hal mendasar yang dilakukan dalam pengembangan Kurikulum Merdeka. Pertama, mengurangi materi di masing-masing mata pelajaran dan fokus ke materi esensial, yaitu materi pelajaran yang benar-benar dibutuhkan oleh peserta didik dan bermanfaat jangka Panjang.

Kedua, menyederhanakan administrasi terutama terkait Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP cukup satu lembar saja yang memuat tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran untuk mencapai tujuan, dan asesmen untuk memastikan apakah tujuan tercapai atau belum. “Hal ini sesuai dengan amanat  permendikbud Nomor 16 tahun 2022 tentang Standar Proses pada PADUDASMEN,” ujar Zulfikri.

Demikian juga halnya dalam pelaksanaan pembelajaran. Selama ini guru lebih banyak terkuras energinya untuk mengejar ketuntasan materi kurikulum dan penyiapan administrasi.

“Hal ini berdampak pada kemampuan atau kompetensi sebagai pencapaian hasil belajar siswa. Sehingga, tidak jarang terjadi, semua materi kurikulum tuntas disampaikan oleh guru, namun hanya sebagian kecil siswa yang memahami,” paparnya.

Hal ini yang menyebabkan terjadinya kesenjangan antara perkembangan siswa dengan kemampuan yang dimiliki. Sangat banyak terjadi, anak yang sudah tamat SD namun kemapuan literasi dan numerasinya masih setara dengan anak kelas 2 SD. “Ini salah satu dampak dari target penyampaian materi  kurikulum 100% yang dipaksakan,” kata Zulfikri.

Terkait dengan itu, dalam Permendikbud No. 12 tahun 2024 tentang Kurikulum Merdeka dinyatakan empat karakteristik pembelajaran, yaitu (1) memanfaatkan Penilaian atau asesmen pada awal, proses, dan akhir pembelajaran untuk memahami kebutuhan belajar dan perkembangan proses belajar yang telah ditempuh Peserta Didik; (2) menggunakan pemahaman tentang kebutuhan dan posisi Peserta Didik untuk melakukan penyesuaian pembelajaran; (3) “memprioritaskan terjadinya kemajuan belajar Peserta Didik dibandingkan cakupan dan ketuntasan muatan Kurikulum yang diberikan; dan (4) mengacu pada refleksi atas kemajuan belajar Peserta Didik yang dilakukan secara kolaboratif dengan Pendidik lain.

Dalam diskusi terungkap bahwa selama ini sebagian guru sudah menerapkan pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik dan memberikan pelayanan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Salah satu peserta menceritakan pengalamannya menghadapi anak yang mengalami kesulitan dalam membaca, kepada anak yang bersangkutan guru menggunakan cara yang berbeda dengan anak yang lain. “Alhamdulillah anak itu akhirnya bisa membaca, dan bahkan di luar dugaan, tiba-tiba dia juga lancar menulis dan berhitung”, ungkap salah seorang peserta.

Baca Juga : Workshop Pendidikan: Sosialisasi Kurikulum Merdeka di Gorontalo Bersama Komisi X DPR RI

“Hari ini, kami mendapat pencerahan tentang Kurikulum Merdeka yang sebenarnya, ternyata tidak sulit dan menyenangkan bagi siswa, serta membahagiakan guru. Bagi kami yang berada di desa,  kegiatan seperti ini sangat bermanfaat, perlu sering dilakukan mengingat  posisi kami di desa, dan jauh dari akses informasi”, ungkap Yulia Syamsidar M.Pd, sebagai kepala sekolah SDN 03 Tegal, Kemang, Bogor.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sany, M.Pd. Pengawas SD Gugus Tegal, Kemang, Bogor.  “Sayang sekali waktunya sangat terbatas, dan kami akan merancang kegiatan tindak lanjut dari kegiatan ini, harapannya ada kelanjutan dari PGSD Universitas terbuka”, tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *