Milenianews.com–Di tengah derasnya arus informasi digital, disinformasi kini bergerak lebih cepat daripada klarifikasi. Konten palsu dapat menyamar sebagai berita faktual dan menyebar hanya dalam hitungan detik. Di era yang serba terhubung ini, kualitas informasi bukan hanya tanggung jawab jurnalis, melainkan juga kecerdasan teknologi dan kecerdasan masyarakat.
Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis menegaskan bahwa dua pilar utama yang harus diperkuat untuk melawan disinformasi adalah Artificial Intelligence (AI) dan literasi digital. Keduanya memainkan peran berbeda, namun saling melengkapi dalam membangun ekosistem media yang sehat.
AI: Senjata Cerdas untuk Mengurai Kekacauan Informasi
Teknologi AI kini menjadi “detektor kebohongan” yang bekerja tanpa henti di ruang digital. Kapasitasnya mengolah data dalam jumlah masif menjadikannya alat strategis dalam perang melawan hoaks.
1. Mendeteksi Pola Penyebaran Palsu
AI memantau bagaimana sebuah konten menyebar. Jika sebuah postingan mendadak viral lewat akun anonim atau baru dibuat, AI dapat menandainya sebagai bagian dari kampanye manipulatif.
2. Membaca dan Memeriksa Klaim Lewat NLP
Dengan kemampuan Natural Language Processing (NLP), AI bisa membaca, menilai, dan membandingkan klaim di media sosial dengan basis data yang kredibel. Klaim mencurigakan langsung diberi tanda untuk diverifikasi jurnalis.
3. Mengidentifikasi Deepfake
Saat ini, deepfake berkembang begitu cepat, baik foto, audio, maupun video. AI dilatih untuk menemukan kejanggalan kecil yang tak terlihat mata manusia, seperti ketidaksesuaian cahaya atau pola suara.
4. Mempercepat Fact-Checking
Jika dulu pemeriksaan fakta butuh berjam-jam, AI kini mampu menelusuri dokumen resmi, data statistik, hingga rekam jejak digital dalam hitungan menit.

Literasi Digital: Benteng Pertama Masyarakat
Namun AI saja tidak cukup. Teknologi paling canggih pun tetap terbatas apabila pengguna tidak memiliki kemampuan dasar memahami informasi.
Mengapa Literasi Digital Penting?
- Agar Masyarakat Memahami Cara Kerja Algoritma
Mayoritas pengguna tidak sadar bahwa algoritma memprioritaskan konten bernada emosional. Tanpa pemahaman ini, seseorang mudah terjebak dalam bias konfirmasi.
- Kemampuan Verifikasi Dasar
Melek digital berarti mampu mengecek sumber, tanggal unggahan, serta membandingkan informasi antar media terpercaya.
- Membedakan Konten Asli dan Konten AI
Pengguna perlu memahami ciri visual, teks, atau audio yang dihasilkan AI agar tidak mudah tertipu.
- Etika Berinternet
Pengguna dengan etika digital yang baik akan berpikir dua kali sebelum meneruskan informasi meragukan.
Pustakawan Universitas Nusa Mandiri, Ricky Sediawan, menegaskan bahwa literasi digital bukan lagi kebutuhan tambahan, melainkan keharusan.
“AI memang hebat, tetapi masyarakat yang tidak melek digital tetap bisa menjadi korban hoaks. Literasi digital adalah tameng pertama sebelum teknologi bekerja,” ujarnya dalam keterangan tertulis, pada Selasa (9/12).

Kolaborasi: Jurnalis, Teknologi, dan Masyarakat
Perang melawan disinformasi adalah kerja kolektif. Tidak cukup mengandalkan redaksi berita atau platform teknologi saja.
- Media memanfaatkan AI untuk menjaga integritas informasi.
- Platform teknologi bertanggung jawab menyediakan alat deteksi dan kebijakan konten.
- Masyarakat perlu terus meningkatkan kesadaran literasi digital.
Ekosistem informasi hanya akan sehat jika ketiga elemen ini saling terhubung dan saling menguatkan.
Kesimpulan: Dua Pilar, Satu Misi
AI dan literasi digital ibarat dua sisi mata uang. AI mempercepat verifikasi dan memfilter konten, sementara literasi digital memastikan masyarakat mampu menilai kebenaran dengan kritis. Ketika keduanya berjalan seimbang, ruang informasi publik akan lebih bersih, lebih cerdas, dan lebih aman bagi semua.
Dengan komitmen Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis, penguatan literasi digital dan pemanfaatan teknologi AI menjadi langkah nyata untuk menyiapkan masyarakat yang tangguh menghadapi badai disinformasi.













