Milenianews.com, Bogor– Jaringan Bosowa School akan memperkuat program Parent Teacher Learning Program (PTLP) atau parenting di jaringan sekolah yang berada di Bosowa School, yakni Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) Bogor, Bosowa Al-Azhar Cilegon (BAC), Sekolah Alam Bosowa Makassar, dan Bosowa School Makassar (BSM).
Untuk keperluan tersebut, Bosowa School merekrut pakar Model Pendidikan Sentra atau Beyond Centers and Circle Time (BCCT), Tjutju Herawati S.Pd. untuk ditugaskan di bagian Curriculum and Literasi Bosowa School. Tjutju merupakan satu dari tiga guru pertama yang belajar BCCT(Beyond Centers and Circle Time) langsung di Creative School Florida, Amerika Serikat, bersama Pamela Phelps PhD (penemu dan pengembang konsep BCCT). Bosowa School merupakan jaringan sekolah yang menerapkan Model Pendidikan Sentra (BCCT).
“Tugas saya di Bosowa School terutama fokus pada pendidikan orang tua, yakni Parent Teacher Learning Program (PTLP). Masyarakat sering menyebutnya parenting. Kemudian kita akan buat program untuk membuat jembatan bagaimana hubungan antara rumah dengan sekolah, sehingga pendidikan anak bisa seoptimal mungkin,” kata Tjutju Herawati, Selasa (4/4/2023).
Ia menambahkan, PTLP merupakan program belajar bagi guru dan orang tua. Di dalamnya berhubungan dengan kurikulum itu sendiri, berhubungan dengan tahapan perkembangan, serta dukungan-dukungan untuk anak-anak dan orang tua di rumah, agar hasil pendidikan lebih optimal.
“Di negara-negara maju, PTLP sudah diterapkan yang diistilahkan sekarang dengan parenting. Bahwa ternyata orang tua juga perlu sekolah,” ujarnya.
“Kita ingin menghilangkan image selama ini, bahwa orang tua hanya nitip anak saja ke sekolah. Bilamana orang tua hanya menyerahkan anak dan mau tahu beres saja dari sekolah, maka itu tidak akan baik hasilnya. Maka bila kita buat kerja sama, belajar bersama — orang tua, guru dan anak. Kerja sama itu akan menjadi menghasilkan ikatan yang sangat bermakna,” tegasnya.
Pelatihan Buat Orang Tua
Salah satu kegiatan parenting atau PTLP adalah mengadakan pelatihan buat orang tua di sekolah dengan berbagai sesi sesuai kebutuhan kekikinian dan inovasi-inovasi di bidang pendidikan. “Lalu bagaimana dengan di rumah? Justru implementasi dari hasil pelatihan itu adalah di rumah. Bagaimana interaksi positif orang tua dengan anak, itu akan tampil juga di sekolah,” ujarnya.

Menurut Tjutju, parenting ini sesungguhnya harusnya untuk semua level, dari KB-TK sampai SMA. “Namun dari kenyataannya, kita lihat bahwa orang tua dari jenjang prasekolah dan SD lebih merasa punya kebutuhan, sehingga perlu lebih intensif,” ujarnya..
Untuk kendala-kendala yang dihadapi anak-anak di SMP dan SMA, kadang orang tua sudah memandang ‘mereka sudah bisa sendiri, dan bisa dilepas. “Tapi kita juga harus bijak bahwa anak-anak SMP dan SMA masih membutuhkan kita. Justru pendampingan kita sebagai teman, sebagai orang yang bisa diajak berbicara tentang keluh-kesahnya. Apalagi remaja bergaul banyak sekali di jalan, kita harus selektif memperhatikan pergaulan mereka, dan harus tahu pergaulan mereka,” kata dia.
Tjutju menyebutkan, di Indonesia masih sedikit sekolah yang menerapkan PTLP. “Kesadaran untuk parenting, kesadaran untuk pendidikan orang tua dan guru itu memang masih belum banyak. Justru dari orang-orang yang sudah menyadari-lah bahwa itu akan lahir program-program unggulan, program-program yang akan sangat membantu negara. Bahwa bila ketahanan keluarga sudah kuat, maka masyarakat dan negara pun akan kuat,” paparnya.
Salah satu tugas lain Tjutju Herawati di Bosowa School adalah di bidang literasi. Menurutnya, penguasaan literasi sangat penting. Apalagi literasi merupakan salah satu pilar di Bosowa School.
“Anak-anak yang berkembang literasinya, mereka sudah bisa menulis, mereka punya tulisan-tulisan hasil pengalaman belajar, misalnya pengalaman selama pandemi, atau pengalaman mereka selama di sekolah, itu bisa dituangkan dalam bentuk tulisan. Baik berupa karya sendiri ataupun antologi bersama. Itu bisa bekerja sama dengan penerbit. Kita publikasikan dalam bentuk buku yang ber-ISBN. Selain jurnal-jurnal yang berasal dari penelitian kelas (PTK), atau hasil penelitian,” tuturnya.
Kembangkan Bakat dan Minat Anak
Tjutju menegaskan, dengan pendididikan SENTRA, orang tua dan guru memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengembangkan bakat dan minat mereka. Ini dapat dilakukan oleh orang tua yang mengerti tahapan perkembangan. Salah satu poin di PTLP adalah perkembangan anak.
“Ketika kita membangun seluruh aspek perkembangan anak secara holistik-integratif (utuh), justru anak nantinya akan menemukan saya punya kekuatan di sini,” ujarnya.
Tjutju Herawati S.Pd. bersama salah seorang siswa KB-TK Bosowa Bina Insani (BBI) Bogor. (Foto: Dok Bosowa School)
Salah satunya di bidang literasi. Mereka yang sudah terbiasa menulis sejak kecil, biasa membuat jurnal, — jurnal itu ‘kan bertahap dari Toddler sampai SMA — anak yang sudah kuat literasinya sejak dini, dia akan menghasilkan karya-karya yang bermutu.
“Intinya bukan diarahkan oleh orang dewasa (orang tua dan guru), tapi yang penting adalah mereka menemukan pengetahuan, dirinya, memahami kekuatan yang mereka punya. Dan itulah yang akan terus mereka terus fokus,” tuturnya.
Misalnya, seorang anak sejak KB-TK senang membangun balok, nantinya kuliah di arsitek dan itu berdasar pengalaman ia menemukan dirinya pada waktu KB-TK dulu. “Hal yang harus kita sadari adalah semua anak Allah berikan potensi yang khusus dan unik,” ujar Tjutju Herawati.