Kondisi Sekolah Menyedihkan, Tak Layak, Tapi Siswa/inya Semangat Bersekolah, Kapan Pendidikan Dasar di Indonesia Akan Merata?

Masalah keamanan dan pencurian

Sekolah ini juga mengalami masalah keamanan. Tidak adanya satpam, membuat fasilitas yang ada seringkali dicuri, mulai dari printer, kipas angin, hingga kabel listrik. Bahkan, pagar sekolah pun pernah dicuri.

“Ini baru saja kejadian minggu lalu (di bulan September 2024), kabel tuh dicuri, lewat jendela guru yang dibobol. Sampingnya itu sawah, makanya bisa lewat situ,” tambah Mursiddah menjelaskan.

Meski demikian, sekolah tidak melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib. Mereka hanya menerima kenyataan bahwa barang-barang tersebut hilang.

“Udah ya hilang aja. Nggak ada lapor sana sini. Karena ini kan yayasan juga, ya nggak lapor polisi, udah dibiarin aja, mau gimana lagi,” ungkap Mursiddah dengan pasrah.

Menurunnya minat siswa dan dana operasional

Banyaknya fasilitas yang rusak dan hilang berdampak langsung pada minat orang tua untuk menyekolahkan anak mereka di MI & MTs Al-Fitriyah. Dalam lima tahun terakhir, jumlah siswa menurun drastis karena banyak orang tua yang lebih memilih menyekolahkan anaknya di SD Negeri yang fasilitasnya jauh lebih baik dan gratis.

“Awalnya sekolah akan digusur karena susah dapet murid, dikarenakan kebanyakan siswa ingin sekolah gratis. Selama dua tahun belakangan jarang ada siswa yang mendaftar di sekolah ini. Rata-rata orang tua siswa terlebih dahulu melihat bangunan dan infrastruktur sekolah sehingga kami sulit mendapatkan siswa,” jelas Khoerudin.

Akibat dari menurunnya jumlah siswa, dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang diterima sekolah juga semakin sedikit, yang berarti semakin terbatas pula fasilitas yang bisa disediakan oleh pihak sekolah.

Kualitas pengajaran dan kebutuhan literasi

Kebutuhan literasi di sekolah ini sangat mendesak. Tidak ada perpustakaan yang dapat menyediakan buku-buku fiksi atau non-fiksi. Sehingga kegiatan literasi membaca tidak dapat dilakukan. Begitu pula dalam hal numerasi, dan potensi penerapan program inovasi untuk mendukung pengajaran masih sangat terbatas.

Dalam segi pengajaran, MI & MTs Al-Fitriyah juga menghadapi banyak kendala. MTs hanya memiliki 10 orang guru, sehingga setiap guru harus mengajar lebih dari satu mata pelajaran. Metode pengajaran di sekolah ini masih sangat tradisional, yaitu menggunakan papan tulis dan tanpa adanya praktik, terutama untuk mata pelajaran IPA yang hanya diajarkan sebatas teori karena tidak adanya laboratorium.

Situasi serupa juga terjadi di MI. Keterbatasan ruang dan jumlah siswa memaksa beberapa kelas harus digabung.

“Minimal murid dalam satu kelas itu 15 orang, jadi dalam satu ruangan kita gabung dua kelas,” jelas Khoerudin. Meskipun demikian, materi pelajaran tetap diberikan sesuai tingkatan kelas.

Selain itu, guru di MI juga sangat terbatas. Saat ini hanya ada 6 tenaga pengajar. Menurut Khoerudin, mencari guru untuk mengajar di sekolah ini sangat sulit, terutama karena gajinya yang kecil. “Apalagi jika mencari guru lelaki itu sangat susah,” tambahnya.

Permintaan bantuan kepada pemerintah sudah sering dilakukan, namun hingga saat ini belum ada tanggapan yang serius.

Keterlibatan komunitas sekolah

Partisipasi orang tua dalam kegiatan sekolah juga sangat minim. Meskipun pihak sekolah sudah membuat grup WhatsApp untuk berkomunikasi dengan orang tua, hanya beberapa orang saja yang aktif. Sebagian besar orang tua kurang terlibat dalam proses belajar anak mereka.

“Yang sering merespons hanya 3-4 orang saja, dan orangnya hanya itu-itu saja,” ungkap Mursiddah.

Namun, hubungan antara sekolah dan masyarakat setempat cukup baik. Warga sering membantu dalam pembangunan fasilitas sekolah, seperti mushola yang sedang dalam proses pembangunan. UKS yang dulu sempat ada, hingga warga setempat yang mau dititipkan beberapa fasilitas sekolah di rumah mereka.

Selain itu, pihak sekolah pun bisa untuk menghubungkan mahasiswa BSI Explore dengan masyarakat desa agar program yang diinisiasi oleh mahasiswa UBSI dapat terintegrasi dengan baik.

Kondisi ekonomi dan sosial siswa

Sebagian besar siswa MI & MTs Al-Fitriyah berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Orang tua siswa umumnya bekerja sebagai buruh, sehingga kesulitan untuk membayar infak sebesar Rp 30.000 per bulan untuk MTs.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *