Milenianews.com, Bekasi – Gelaran roadshow seminar nasional BSI Digination 2020 berlanjut. Setelah sukses pada BSI Digination 2019, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), tak pernah absen untuk selalu berkontribusi di dunia teknologi, terutama dalam upaya digitalisasi.
Salah satunya, dengan menggelar Seminar Nasional BSI Digination yang bertajuk ‘Era Digital : Tantangan dan Peluang Generasi Milenial’.
Seminar ini ditujukkan untuk para siswa siswi sekolah menengah atas guna persiapkan bekal untuk menghadapi era digital.
Seminar digelar di UBSI Bekasi, jl. Cut Mutia No.88, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Bekasi, Jawa Barat pada Kamis (20/2), dengan mendatangkan dua pembicara. Mereka adalah Achmad Baroqah Pohan selaku Head of Manager Communication BSI Group dan Andhika Wijaya Kurniawan selaku CEO & Founder AWK Academy International & Pakar Digital Marketing.
Baca Juga : Prodi Perhotelan UBSI Siap Gelar Seminar Nasional Digitalisasi Perhotelan
Sebagai kampus besar berbasis IT di Indonesia, UBSI selalu menciptakan terobosan-terobosan yang diterapkan di kampus untuk meningkatkan pelayanan bagi mahasiswa.
Tak hanya itu, pelayanan tersebut juga diberikan untuk orang tua mahasiswa. UBSI sudah membuat aplikasi M-Parents. Dengan aplikasi itu, orang tua bisa tahu kegiatan yang dijalani anaknya di kampus, hanya dengan membuka M-Parents di ponselnya.
Rektor UBSI, Dr. Mochamad Wahyudi, M.M, M.Kom, M.Pd mengatakan, UBSI selalu memberikan inovasi dalam dunia pendidikan.
Selain itu, dengan seminar yang selalu diadakan UBSI, terutama BSI Digination, menjadi tempat untuk mengedukasi generasi milenial agar siap menghadapi tantangan dan peluang di era sekarang.
“Sekarang era nya digitalisasi, UBSI terus meningkatkan pelayanan kualitas untuk mahasiswanya. Kami juga berupaya dalam memberi tempat atau sarana bagi kaum milenial, terutama anak SMA agar siap menjalani persaingan ketat di era industri sekarang,” katanya, saat ditemui usai acara, Kamis (19/2).
Peran Generasi Milenial
Foto : Achmad Baroqah Pohan saat memberi materi di acara Seminar BSI Digination 2020 di Bekasi.
Achmad Baroqah Pohan yang akrab disapa Oka, menjadi pemateri pertama menjelaskan tentang generasi milenial dan beberapa perubahan yang terjadi di era milenial ini.
Seperti, bertransformasinya kegiatan bisnis konvensional berubah menjadi toko online yang memudahkan orang-orang dalam membeli barang.
“Sekarang internet menjadi kebutuhan primer yang banyak digunakan generasi milenial,” katanya saat memaparkan materi.
Internet saat ini, sering dipakai untuk layanan pesan instan, sosial media, nonton video dan streaming dan mencari data juga informasi yang dibutuhkan.
“Ada 4 hal yang menjadi perhatian generasi milenial dalam menggunakan internet, pertama untuk menggunakan layanan pesan instan, sosial media, lihat video maupun streaming dan mencari data dan informasi,” tambahnya.
Internet memang menjadi tempat yang paling efektif untuk mendapatkan informasi dengan cepat dan mudah. Namun, beberapa informasi tersebut tidak semuanya memiliki sumber yang bisa dipercaya.
Atas dasar tersebut, masih banyak terjadi kasus pembulian dan maraknya berita bohong (hoax). Hal tersebut mudah sekali terjadi karena masyarakat sekarang sangat terbuka dan mudah dalam memperoleh informasi.
Seperti kita tahu, kasus-kasus penyebaran hoax sering terjadi bahkan dilakukan oleh beberapa orang yang berpengaruh. Sebut saja contohnya kasus Ratna Sarumpaet yang menyebarkan hoax oleh dirinya sendiri dalam pertarungan politik pemilihan presiden waktu lalu.
Ia mengunggah foto wajahnya yang terlihat lebam dan menuliskan bahwa dirinya dikeroyok sampai menuduh saingan paslon yang dibelanya sebagai pelaku. Namun terungkap, kasus tersebut hanyalah hoax dan luka lebam itu efek dari operasi kulit wajah yang dijalaninya.
Ber-internetlah dengan Cerdas
Foto : Achmad Baroqah Pohan saat memberi materi di acara Seminar BSI Digination 2020 di UBSI kampus Bekasi, pada Kamis (20/2).
Oka memberi pesan agar generasi milenial menggunakan internet dengan cerdas, dengan memanfaatkan internet secara baik dalam arti tepat guna, aman sesuai etika, budaya dan norma yang berlaku.
Ada 6 indikator yang masuk dalam kriteria Cerdas dalam berinternet menurut Oka. Pertama Searching, dengan mencari informasi dalam bentuk tulisan maupun gambar untuk pengetahuan.
Kedua Game Online, “Main game online bisa menjadi sarana hiburan dan penyegaran pikiran untuk anak,” lanjutnya.
Selain itu, yang harus dimaksimalkan yakni dalam proses Learning, atau sarana pembelajaran yang interaktif untuk berbagai bidang ilmu. Selanjutnya, Collecting sebagai sarana untuk mengoleksi gambar, lagu-lagu dan video.
Kelima, sebagai sarana komunikasi dan terakhir internet bisa menjadi wadah atau tempat menuangkan kreatifitas dan inovasi.
Berbisnis harus Memiliki Tujuan
Foto : Andhika Wijaya Kurniawan, saat memaparkan materi pada seminar BSI Digination 2020 di Bekasi.
Andhika Wijaya Kurniawan menjadi pembicara kedua, mengajak para peserta untuk menjadi seorang digitalpreneuer. Ia pun sempat bercerita pengalamannya yang sudah berbisnis sejak kelas 6 SD (sekolah dasar).
Awalnya ia meminta untuk dibelikan kaset Nintendo pada ayahnya, namun ayahnya memberi jawaban yang membuat Andhika bingung, untuk anak seusianya.
“Kamu boleh beli kaset Nintendo asal pake uang sendiri. Saya langsung melongo saat itu, bayangin kelas 6 SD disuruh begitu. Saat itu juga ia langsung dikasih modal satu buah pensil 2B yang dikasih ayahnya, dan ia jual ke temannya,” papar Andhika.
“Dari sana saya mulai berbisnis, terus meningkat dengan menjualnya 200 rupiah (saat itu) dari harga awal 100 rupiah,” jelasnya. Setelah itu, ia pun terus berjualan sampai ia kuliah.
Barulah pada 2005, ia memulai bisnis pertamanya sebagai general trading, suplier dan ekspor arang ke Cina. Sampai sekarang sudah lebih dari 5 website yang ia kelola, termasuk salah satunya blog pribadinya.
Penulis buku Believe You Can ini memberikan tips untuk merintis bisnis digitalpreneur. “Pertama goal (tujuan) harus jelas, niat, berani ambil risiko, optimis dan konsisten,” ujarnya.
Andhika dari awal memang memilih digitalpreneur, karena baginya, internet bisa mengubah pendapatan dan hidup asal benar caranya dan tekun. Dengan memanfaatkan teknologi juga, akan mengefisienkan tenaga dan waktu yang dikeluarkan dalam berbisnis.
“Keuntungan yang didapat besar jika tahu caranya dan tekun. Ada anak muda, yang berjualan dengan dropshiping, jualan hijab. Penghasilannya, 2 jam 20 juta,” kata Andhika.
Untuk memulai Digitalpreneur, ada beberapa produk yang dijelaskan Andhika, antara lain dropshiping, digital product, digital agency, digital services, online shop, digital seleb dan network marketing.
Pesan Andhika bagi peserta dan kaum milenial yang ingin bertahan di era sekarang harus bisa cari duit sendiri. “Jangan punya mental tempe, mulai usahanya,” tutupnya.
Kedua pembicara mendapat apresiasi yang baik dari peserta. Peserta memberi antusias dengan menanyakan banyak pertanyaan dan sesekali mendapat gemuruh tepuk tangan dari peserta.
Baca Juga : Seminar Nasional “BSI DIGINATION” Akan Hadir di Bekasi
Anggi Putri Pertiwi dari SMK Al-Bahri mengaku senang mengikuti seminar ini karena bisa menambah wawasan. “Jadi disini saya bisa tahu, tantangan dan peluang di era generasi milenial,” katanya saat ditanya usai acara.
Ia pun berharap kedepannya bisa membuka usaha digital karena termotivasi dari paparan pemateri saat seminar.
“Saya jadi termotivasi setelah mengikuti seminar ini, dan ada keinginan menciptakan usaha digital sendiri,” sambungnya.
Sebagai generasi terpelajar, kaum milenial harus pintar memilah dan memilih berita sebelum disebar dan harus bisa memanfaatkan peluang menjadi kesempatan. (Ikok)