Milenianews.com – Ada rasa pedih yang tak terkatakan saat melihat seorang sarjana muda, yang empat tahun lalu penuh mimpi, kini hanya duduk termenung menatap layar ponselnya (pengangguran). Di linimasa media sosial, ia melihat teman-temannya pamer pekerjaan, sementara ia masih berkutat dengan surat lamaran yang tak kunjung berbalas. Fenomena ini bukan cerita satu atau dua orang, tapi jutaan. Tingkat pengangguran terdidik di Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
Dalam empat tahun terakhir, gelombang pengangguran sarjana seolah menjadi “pandemi” baru yang sunyi. Kekecewaan ini melahirkan skeptisisme massal. Opini bahwa “kuliah itu buang-buang waktu” atau “sukses tak butuh gelar” semakin nyaring terdengar. Generasi muda mulai ragu, apakah bangku kuliah masih relevan atau sekadar formalitas mahal yang berujung pada status pengangguran?
Baca juga: Teknologi Saja Tak Cukup: Masa Depan Fintech Indonesia Butuh Pilar Keuangan yang Kuat
Meluruskan Salah Kaprah: Mindset vs Realitas Kampus
Sebelum menyalahkan sistem sepenuhnya, kita perlu bercermin sejenak. Sebuah unggahan viral di Instagram baru-baru ini menohok kesadaran kita tentang topik “Kuliah itu Scam”. Intinya sangat jelas, kekecewaan pasca-lulus sering kali bukan karena institusinya yang salah, tapi karena pola pikir mahasiswa yang keliru sejak awal.
Kuliah bukanlah tiket ajaib menuju kekayaan. Ia hanyalah sebuah fasilitas. Jika tujuannya hanya ijazah, maka rasa tertipu itu pasti ada. Tapi jika tujuannya adalah membangun jejaring, mengasah logika, dan memperkaya skill, kuliah adalah investasi. Yang berbahaya adalah mentalitas “terima beres”, berharap hidup aman hanya karena punya gelar sarjana. Padahal, dunia kerja tidak pernah peduli dengan gelarmu, mereka peduli dengan apa yang bisa kamu lakukan.
Mendeteksi Akar Masalah: Kurikulum yang Tertinggal Jauh

Namun, menyalahkan mahasiswa sepenuhnya juga tidak adil. Ada faktor struktural yang membuat kualitas lulusan kita sering kali tidak “nyambung” dengan dunia kerja. Masalah utamanya adalah kurikulum outdated. Banyak perguruan tinggi yang lambat merespons perubahan zaman.
Disaat industri sudah bicara soal AI, Big Data, dan Fintech, materi kuliah masih berkutat pada teori manajemen abad 20. Reformasi kurikulum perguruan tinggi berjalan lambat seperti siput, sementara industri berlari secepat kilat. Inilah yang menyebabkan kesenjangan skill yang dibutuhkan perusahaan dengan apa yang dimiliki lulusan. Perusahaan butuh praktisi, kampus mencetak teoritis.
Mari kita lihat data kualitatif mengenai ketidaksiapan lulusan menghadapi dunia kerja saat ini:
Analisis Kesenjangan Pendidikan dan Industri
- Metode Pembelajaran
Kampus Konvensional: Satu arah (dosen ceramah), pasif.
Tuntutan Industri: Kolaboratif, problem-solving, aktif. - Materi Teknis
Kampus Konvensional: Umum, luas, tapi dangkal (kulitnya saja).
Tuntutan Industri: Spesifik, mendalam, dan teknis (misal: tools fintech). - Mentalitas Kerja
Kampus Konvensional: Mentalitas murid (menunggu disuruh/diberi tugas).
Tuntutan Industri: Mentalitas owner (inisiatif dan tanggung jawab). - Relevansi Zaman
Kampus Konvensional: Kurikulum diperbarui 4-5 tahun sekali.
Tuntutan Industri: Tren berubah setiap 6 bulan (butuh reskilling cepat).
Baca juga: Mengapa Startup Baru Bisa Gagal Tanpa Fintech? Simak Peran Vital Digital Entrepreneur Berikut Ini!
Solusi Nyata: Cyber University dan Revolusi Magang CLP

Jika Anda tidak ingin menjadi bagian dari statistik pengangguran yang menyedihkan itu, Anda harus memilih lingkungan yang mendukung pertumbuhan kompetensi, bukan sekadar pemberian nilai. Cyber University, sebagai The First Fintech University in Indonesia, memahami betul betapa krusialnya link and match pendidikan dengan industri.
Di sini, kurikulum disusun bukan berdasarkan buku teks usang, melainkan berdasarkan masukan dari pelaku industri teknologi dan keuangan. Cyber University memastikan mahasiswanya tidak gagap teknologi. Namun, kurikulum saja tidak cukup. Pengalaman adalah guru terbaik.
Oleh karena itu, Cyber University menghadirkan program unggulan Company Learning Program (CLP) 3+1.
Bayangkan skenario ini: Saat lulusan kampus lain baru sibuk membuat CV dan bingung saat wawancara kerja karena minim pengalaman, lulusan Cyber University sudah mengantongi pengalaman kerja profesional selama satu tahun penuh. Program CLP 3+1 memungkinkan mahasiswa kuliah 3 tahun dan terjun langsung ke industri selama 1 tahun. Ini bukan magang biasa, ini adalah simulasi karier sesungguhnya.
Kuliah jadi ‘scam’ kalau kamu cuma dapat kertas ijazah. Di Cyber University, program ini memastikan kamu bukan sarjana ‘kertas’, tapi profesional yang sudah mencicipi realita industri. Kamu lulus dengan portofolio, bukan hanya transkrip nilai.
Kesimpulannya, menjadi sarjana pengangguran adalah mimpi buruk yang bisa dihindari. Caranya bukan dengan berhenti kuliah, tapi dengan memilih kuliah yang kurikulumnya hidup dan bernapas sesuai zaman. Jangan sampai ketenagakerjaan Indonesia semakin berat karena kita salah memilih tempat menempa diri.
Siap mengubah masa depan dan menolak jadi pengangguran? Segera daftarkan diri di Cyber University. Jadilah lulusan yang memiliki nilai tawar tinggi di mata industri, bukan lulusan yang bingung mencari kerja. Masa depanmu ditentukan oleh keputusanmu hari ini.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













