Milenianews.com, Jakarta– H.Mirdas Eka Yora, Lc., M.Si selaku ketua umum AYPI (Asosiasi Yayasan Pendidikan Islam) dan pendiri Yayasan Fajar Hidayah menghadiri undangan Kemendikbudristek dalam acara Uji Publik Rancangan Permendikbudristek Kurikulum Merdeka, di Jakarta pekan lalu. Acara nasional tersebut diawali dengan sambutan dari Plt Kapusjar Zulfikri Anas secara langsung dan dibuka oleh Prof. Adlin, serta diberi pengarahan oleh Dr. Andito Kaban dari Kemendikbudristek.
Mirdas menuturkan, ada beberapa hal penting yang disampaikan AYPI agar menjadi perhatian Pemerintah terutama terkait Kurikulum Merdeka.
Antara lain, dalam Tujuan Pendidikan Nasional agar tetap mengacu pada UU SISDIKNAS no 20 tahun 2003. Dimana dinyatakan poin Iman dan Takwa adalah tujuan utama Pendidikan Nasional, “bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,..”
“Muatan lokal agar ditetapkan oleh masing-masing daerah dengan keunikan dan kekhususannya baik dengan latar belakang, budaya, kekhususan dan lain-lain,” kata Mirdas dalam rilis yang diterima Milenianews.com.
Baca Juga : FGD AYPI Perkuat Komitmen Untuk Mencetak Guru Kelas Dunia
Selain itu, agar Materi Agama (Keislaman) bisa ditambah dua kali lipat. “Karena sangat dibutuhkan untuk terbentuknya karakter dan adab serta akhlak mulia,” ujarnya.
Di samping itu, kata Mirdas, sesuai dengan konsep Kurikulum Merdeka yang fleksibel dan memberi keleluasaan bagi guru agar dikurangi beban administrasi yang berlebihan.
Masih ada beberapa usulan lainnya. “Semoga melalui Sinergi dan Kolaborasi yang kita bangun terus kita giatkan berbagai langkah positif memperkuat dan mengembangkan kualitas lembaga-lembaga pendidikan Islam,” tuturnya.
Prof. Adlin Sila, staf ahli Menteri Pendidikan, menyampaikan, bahwa dengan Kurikulum Merdeka semua anak terlayani dengan aneka kapasitas dan potensinya. Sehingga tidak ada anak yang tertinggal. Jadi semua anak mendapat kesempatan mengembangkan potensi.
“Tidak ada lagi sekolah unggul karena mestinya semua sekolah tersebut memberikan yang terbaik buat peserta didik tanpa adanya dikotomi. Dengan demikian semua peserta didik dilatih menjadi intoleransi tanpa adanya pembedaan dalam kesempatan dan perlakuan baik karena ras, agama, sosial dan lain-lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, semua anak mendapat rasa aman yang sempurna tatkala menikmati pembelajaran di sekolah, baik aman dari penudungan, kekerasan seksual dan juga aman dalam menempuh pendidikan tanpa ada rasa takut tidak mendapat perhatian guru dan tidak punya masa depan karena dianggap berbeda.
“Tapi semuanya aman meraih masa depan dan menjalani hari-hari belajarnya dengan penuh semangat dan dedikasi sesuai dengan kecenderungan masing-masing,” kata Prof. Adlin.
Ia mengungkapkan, ada hal menarik di Finlandia yaitu sekolah tanpa ranking. “Sehingga, semua anak termotivasi untuk terus memunculkan bakat dan kelebihannya tanpa harus berkompetisi,” tuturnya.
Contoh lain, di Australia ada kebiasaan yang dilakukan sekolah setiap bulan mereka dikumpulkan untuk mendapatkan apresiasi berupa gelang tanpa harus berkompetisi dengan kompetitor tertentu. Salah satu anak Indonesia yang belajar di sana mendapat apresiasi berupa gelang berupa ‘Confidence’. Ada juga anak yang datang pagi tepat waktu juga mendapat gelang penghargaan berupa ‘Kerajinan’. Begitu juga dengan anak lainnya yang mendapat penghargaan karena peduli dengan teman dan sosial lingkungan.
“Jadi menjadi juara tanpa mengalahkan kawan-kawannya yang lainnya. Ini merupakan suatu langkah sekolah yang amat bijak yaitu betul-betul memperhatikan apa saja kecenderungan dan sifat positif dari setiap anak peserta didik,” paparnya.
Kapuskurjar Zulfikri Anas menyampaikan, pada dasarnya Kurikulum Merdeka adalah sebuah proses pembelajaran yang memberi keleluasaan yang dinamis buat peserta didik untuk mendapat kesempatan belajar dan mencapai hasil pembelajaran yang sangat memperhatikan kapasitas dan potensi yang berbeda.
“Sesuai pesan-pesan Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan yang baik itu mampu menyentuh jiwa dan pikiran seorang siswa. Sehingga, mereka merasakan sentuhan pendidikan yang benar-benar membuat mereka merasakan proses yang sangat membangkitkan berbagai ragam Kurikulum merdeka menjadikan setiap pelajar menikmati proses yang membuat mereka sebagai pembelajar seumur hidup,” kata Zulfikri.
Ia menambahkan, Kurikulum Merdeka sengaja memberi peluang luas buat guru berkreasi bersama peserta didik dengan leluasa dan penuh dinamika ide dan konsep cerdas dan inovatif dalam setiap proses pembelajaran. “Karena itu, Kurikulum Merdeka hanya memberi tuntunan umum dan target pembelajaran setiap tahunnya. Agar para guru yang mengambil peran yang sentral dengan secara leluasa menggali segala macam ide dan beragam bentuk projek pembelajaran tanpa mendikte kegiatan detil setiap hari dan minggunya sebagaimana dalam kurikulum Kurtilas dan yang sebelumnya,” ujarnya.
Kesalahan-kesalahan tersebut di antaranya penggunaan kata “lansung” yang seharusnya adalah “langsung”, penggunaan kata “dg” yang seharusnya adalah “dengan”, serta penulisan “Yabg” yang seharusnya adalah “yang”. Selain itu, ada beberapa kalimat yang tidak begitu jelas maksudnya dan bisa diperjelas dengan mengganti frasa tersebut.
Seperti kalimat terakhir yang bisa diubah menjadi “Sekolah yang bijak adalah sekolah yang memperhatikan kecenderungan dan sifat positif dari setiap anak peserta didik”.
“Kalimat-kalimat yang bersifat mengeneralisir juga sebaiknya dihindari untuk memperjelas informasi yang diberikan kepada pembaca. Semoga dengan revisi tersebut berita menjadi lebih sempurna dan mudah dipahami,” kata Zulfikri Anas.