Milenianews.com, Jakarta – Wisuda Univesitas Bina Sarana Informatika (UBSI) hari pertama itu, Minggu (30/11) menghadirkan suasana hangat ketika keluarga dari berbagai daerah memenuhi aula BSI Convention Center (BSI Convex), Kaliabang, Bekasi, Jawa Barat.
Musik mengalun, para wisudawan tersenyum, dan toga-toga hitam bergerak serempak mengikuti langkah mereka. Di tengah keramaian itu, Rukayah, ibu dari salah satu wisudawan asal Purwakarta, duduk bersama dua cucunya. Ia menggenggam tangan kecil mereka dan terus menatap panggung sambil menunggu panitia memanggil nama putranya, Miftahudin, yang lulus sebagai wisudawan D3 sekaligus anak pertamanya.
Haru Seorang Ibu yang Terbayar Tuntas
Dengan mata berbinar, Rukayah bercerita tentang perasaan yang sejak pagi sudah ia pendam. Baginya, hari itu bukan hanya acara formal kampus. Hari itu menjadi titik di mana seluruh perjuangan dan doa yang ia panjatkan selama bertahun-tahun seperti menemukan jawabannya
“Saya senang sekali, karena walaupun dia kuliah sambil kerja dan ngurus rumah tangga, tapi tetap bisa menyelesaikan kuliahnya,” ujarnya dengan bangga saat ditemui di aula wisuda UBSI.
Bagi Rukayah, melihat anaknya berdiri di panggung sambil memakai toga bukan soal gelar semata. Ia tahu betul apa saja yang sudah anaknya lalui.
Baca juga: Wisuda UBSI Berlangsung Enam Hari, Rektor Umumkan Program Magister Baru Mulai 2026
Perjuangan di Balik Toga: Ayah Dua Anak yang Tak Menyerah
Perjalanan Miftahudin selama kuliah jauh dari kata mudah. Sebagai ayah dari dua anak, ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus tetap hadir sebagai suami dan ayah. Setiap hari ia membagi waktunya di antara pekerjaan, kuliah, dan mengurus rumah. Namun di balik semua itu, ada Rukayah yang selalu siap membantu.
“Tantangannya paling cuma bantu jagain anaknya saja,” kata Rukayah sambil tersenyum. Padahal, perannya jauh lebih besar.
Hampir setiap hari, ia menemani dan merawat kedua cucunya agar Miftahudin bisa fokus kuliah tanpa terlalu khawatir.
“Kalau soal biaya, saya bantu sedikit-sedikit saja. Dia juga sudah kerja, jadi bisa bayar kuliahnya sendiri,” tambahnya. Nada suaranya menunjukkan rasa bangganya terhadap kemandirian sang anak.
Saat panitia akhirnya memanggil nama Miftahudin, Rukayah langsung mengangkat pandangannya. Ia memperhatikan setiap langkah anaknya menuju panggung. Ada kebanggaan yang jelas terlihat di matanya, bukan hanya karena gelar itu, tetapi karena ia tahu betapa keras perjuangan yang sudah anaknya jalani.
“Saya bangga karena dia bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu walaupun dia sambil bekerja,” tuturnya.
Di momen itu, semua pengorbanan yang ia lakukan dari menjaga cucu, menemani anak, hingga mendukung pendidikan seakan terbayar.
Harapan Seorang Ibu untuk Masa Depan Anak
Meski sudah menyaksikan anaknya berhasil lulus, Rukayah masih menyimpan harapan untuk masa depan.
“Mudah-mudahan kalau ada rezeki, dia bisa lanjut sekolah lagi ke S1,” ujarnya dengan nada penuh doa.
Bagi Rukayah, pendidikan membuka jalan baru. Ia ingin anaknya terus berkembang dan meraih peluang yang lebih baik.
Kisah Rukayah dan Miftahudin menjadi satu dari sekian banyak cerita hangat di balik meriahnya wisuda. Gelar yang para wisudawan kenakan hari itu tidak hanya lahir dari perjuangan mereka sendiri, tetapi juga dari dukungan keluarga yang diam-diam ikut berjuang.
Baca juga: Konsistensi Tanpa Kompromi Antarkan Wisudawan UBSI Ini Raih Cumlaude
Bagi Rukayah, wisuda hari itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak datang begitu saja. Keberhasilan tumbuh dari kerja keras, doa, dan dukungan orang-orang terdekat.
Toga yang Miftahudin pakai bukan hanya simbol kelulusan, tetapi juga bukti bahwa pengorbanan seorang ibu mampu menjadi kekuatan besar yang mendorong anaknya melangkah lebih jauh.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.













