Milenianews.com, Bandung—Dua orang mahasiswi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI (STEI SEBI) Depok mengikuti kegiatan Salman Spiritual Camp Ke-58 (SSC). Kegiatan tersebut diselenggarakan di Masjid Salman ITB, Bandung, Sabtu-Ahad, 2-3 Maret 2024.
Adapun mahasiswi tersebut adalah Annisa Ghina Nayla dari Prodi Hukum Ekonomi Syari’ah 2022 (HES2022) dan Tri Wahyuni dari Prodi Perbankaan Syariah 2022 (PS2022). Keduanya sangat antusias mengikuti kegiatan itu dari awal hingga akhir.
Tri Wahyuni mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menambah ilmu, pengalaman dan kesadaran akan luasnya agama Islam. Pelajaran mendasar tentang Islam yang mungkin pernah dipelajari sewaktu berada di jenjang Sekolah Dasar. Serta menjadikan kegiatan ini berjalan seakan Islam hadir di dalam jiwa-jiwa pemuda-pemudi bangsa yang hampir diikuti oleh mahasiswa/i aktif dari berbagai daerah diindonesia yaitu hampir 300 kampus tergabung dalam acara itu salah satunya dari kampus STEI SEBI Depok. “Acara ini diharapankan dapat menumbuhkan sifat keislaman yang hadir dan selalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh sSng Kholiq (Allah),” kata Tri Wahyuni dalam rilis yang diterima Milenianews.com.
Tri Wahyuni menambahkan, ada empat poin penting yang mereka tangkap dari materi kegiatan itu. Pertama, ibadah. “Hidup kita ini, 24 jam penuh, dari lahir sampai wafat memang untuk beribadah kepada Allah SWT sebagaimana dalam terjemahan ayat berikut ” Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku “.( Qs.Adz Dzaariyaat ayat 56 ),” paparnya.
Jadi, kata Tri Wahyuni, manusia diciptakan oleh Allah SWT semata untuk beribadah kepada-Nya. Secara singkat Ibnu Taimiyah, di dalam kitab Al ‘Ubudiyyah, menyatakan: “Ibadah adalah konsep yang menyeluruh / komprehensif, meliputi segala sesuatu yang Allah mencintai dan meridhainya, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang zahir maupun yang batin”. Sebaliknya, mafhum mukhalafah nya, kalau pemikiran, perkataan dan perbuatan kita, ternyata: dibenci dan dimurkai oleh Allah, maka pasti bukan ibadah, melainkan bernilai maksiat.
Menurut Tri Wahyuni, iIdealnya, setiap Muslim hendaknya taat menjalankan ibadah ritual sebaik-baiknya, sehingga tergolong saleh ritual. “Pada saat yang sama, seyogyanya menjalankan kegiatan ibadah umum (bukan ritual) dalam hubungan sosial termasuk amar ma’ruf dan nahi munkar dengan sekuat kemampuan, sehingga tergolong saleh sosial,” ujarnya.
Kedua,iman kepada Allah SWT. Di dalam tafsir Al Maraghi, Imam Ahmad Musthafa Al Maraghi, menyimpulkan bahwa keniscayaan iman kepada Allah SWT adalah: membenarkan (dalam makna meyakini kebenaran) semua yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Berarti, bukan hanya Al Quran yang pasti benar, namun juga seluruh Sunnah Rasul pasti benar.
“Jadi, konsekuensi pengakuan beriman adalah menjadikan seluruh Al Quran dan seluruh Sunnah Rasul, mutlak sebagai pedoman dan petunjuk hidup selama-lamanya,” tuturnya.
Ketiga, hijrah. Mengubah diri menjadi lebih baik, menjemput hidayah, bukan menunggu hidayah. Misalnya berhijrah dari wilayah kufur menuju wilayah Islam.
“Ini bergantung kepada situasi dan kondisi yang beraneka ragam. Hukumnya pun bisa bervariasi sesuai tuntutan sikon tadi. Bisa fardhu ‘ain bagi seseorang atau sebuah komunitas, namun sekedar mubah bagi yang selainnya,” paparnya.
Baca Juga : STEI SEBI Gelar Training Organization Pembentukan Mahasiswa yang Berkepribadian Dai dan Organisatoris
Keempat, berjihad di jalan Allah. Jihad pemuda-pemudi Indonesia saat ini adalah bagaimana mereka bisa melawan hawa nafsu mereka agar bisa sampai pada titik kemalasan diubah menjadi habits yang bermanfaat.
“Itulah beberapa pelajaran yang kami dapatkan selama SSC ke-58. Intisari dari pelajaran keislaman ini adalah: mari kenali diri dan gali potensi setinggi-tingginya, tapi jangan lupa kembali lagi kepada Ilahi Robbi. Karena kembali lagi kita ada didunia ini bukan alih-alih menjadi yang terbaik dimata manusia, melainkan kita mencari ridha dan kasih sayang-Nya,” tutup Tri Wahyuni.
Kegiatan tersebut ditutup dengan foto bersama seluruh panitia dan juga peserta.