Milenianews.com, Jakarta – Ia datang pelan, hampir tak terdengar. Bermula dari demam yang tak kunjung turun, disusul batuk, pilek, dan mata yang memerah. Lalu, satu per satu, ruam kemerahan muncul di wajah anak-anak, menyebar ke tubuh, meninggalkan jejak bahwa wabah campak kembali hadir di Indonesia.
Sepanjang tahun 2025, penyakit yang sebenarnya dapat dicegah ini mencatat sekitar 23.000 kasus suspek secara nasional, dengan 3.444 di antaranya terkonfirmasi. Di balik angka-angka itu, ada duka yang paling terasa di Sumenep, Jawa Timur. Di wilayah ini, wabah campak merebak dengan 2.035 lebih kasus suspek dan memaksa pemerintah menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB).
Baca juga: Kasus Virus HMPV Ditemukan di Indonesia, Masyarakat Diimbau Tetap Tenang
Namun cerita itu tidak berakhir bersama pergantian tahun. Awal 2026 masih menyisakan kecemasan karena Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) mencatat kembali adanya kasus suspek campak di sejumlah daerah. Pada awal Januari 2026, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta masih menangkap sinyal suspek campak melalui SKDR. Isyaratnya jelas, campak belum benar-benar pergi.
Di balik merebaknya wabah, satu persoalan lama kembali membuka luka, imunisasi yang terlewat. Cakupan imunisasi dasar, termasuk vaksin Measles-Rubella (MR) dan Measles-Mumps-Rubella (MMR) yang belum merata. Keraguan orang tua dan keterbatasan akses layanan kesehatan di sejumlah daerah membuka celah bagi virus campak untuk menyebar dari satu anak ke anak lain.
Campak bukan penyakit yang datang diam-diam. Ia menyebar melalui udara, melalui napas, batuk, dan bersin hingga menjadikannya salah satu penyakit paling menular. Bayi dan anak usia 0 hingga 4 tahun menjadi kelompok paling rentan karena tubuh mereka yang masih rapuh kerap menjadi sasaran pertama.
Menghadapi situasi ini, pemerintah bergerak dengan langkah darurat. Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi massal digelar di daerah-daerah yang terdampak sebagai upaya menjadi benteng terakhir untuk memutus rantai penularan yang kian cepat.
Baca juga: Siswa SD Bina Insani Ikuti Kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)
Di sisi lain, kewaspadaan masyarakat menjadi harapan yang tak kalah penting. Pihak kesehatan meminta orang tua lebih waspada terhadap gejala campak dan segera membawa anak ke fasilitas kesehatan. Pihak kesehatan kembali menyatakan bahwa imunisasi menjadi perlindungan paling utama, tidak hanya bagi satu anak, tetapi bagi keselamatan bersama.
Kembalinya campak mengingatkan bahwa penyakit lama dapat bangkit ketika perhatian melemah. Di balik setiap laporan kasus, tersimpan kisah anak-anak yang seharusnya tumbuh tanpa rasa sakit. Namun di tengah wabah ini, pilihan untuk melindungi mereka menjadi tanggung jawab semua pihak.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.













