Milenianews.com, Pandeglang – Bagi anak-anak kota, tantangan terberat berangkat sekolah mungkin hanya kemacetan jalanan yang bikin tua di jalan atau drama telat bangun pagi karena begadang main game. Tapi, definisi “perjuangan menuntut ilmu” punya makna yang jauh lebih harfiah dan mengerikan bagi anak-anak (bocah SD) di Kampung Kadupandak, Desa Sinarjaya, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Di sana, seragam putih merah bukan cuma jadi saksi bisu pelajaran matematika atau bahasa Indonesia, tapi juga jadi saksi nyali mereka yang dipaksa tebal menghadapi maut. Video yang beredar luas di media sosial belakangan ini, seperti postingan akun Instagram MileniaNews, Jumat (6/2), sukses bikin siapa saja yang melihatnya menahan napas. Sekumpulan bocah SD, dengan tas ransel di punggung, merayap perlahan di atas bongkahan beton jembatan yang patah dan miring curam.
Pemandangan itu bukan syuting film aksi atau wahana outbond ekstrem. Itu adalah realita pendidikan kita di tahun 2026. Di saat elit negara sibuk bicara soal digitalisasi sekolah dan makan siang gratis, siswa-siswa di pelosok Banten ini justru harus bertaruh nyawa hanya untuk bisa duduk di bangku kelas.
Baca juga: Jembatan Darurat di Tarisi, Sukabumi Hanyut, Akses Warga Kembali Terputus
Adrenalin pagi yang tak diinginkan
Melansir laman Kompas, Sabtu (7/2), Fatih, siswa kelas VI SD Sinarjaya 1 Mandalawangi, adalah salah satu dari sekian banyak “Spiderman cilik” dadakan itu. Rabu (4/2) lalu menjadi hari yang tak akan ia lupakan. Pagi itu, rutinitasnya berubah menjadi misi bertahan hidup. Jembatan yang biasa ia lewati sudah tidak lagi utuh. Bagian tengahnya amblas, menyisakan struktur beton yang menggantung patah ke arah sungai.
“Saya sama teman-teman berangkat dan pulang lewat sini karena enggak ada jalan lain,” ujar Fatih polos.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi maknanya dalam. Tidak ada pilihan. Putar balik artinya bolos sekolah. Maju artinya harus meniti beton licin dengan jurang sungai menganga di bawahnya. Fatih mengaku takut, tentu saja. Siapa yang tidak gemetar kakinya melihat aliran sungai deras siap menyambut jika pegangan tangan meleset sedikit saja?
Namun, di balik rasa takut itu, terselip kepolosan khas anak-anak yang bikin hati orang dewasa teriris. “Bareng-bareng lewatnya jadinya seru,” katanya. Kata “seru” di sini adalah bentuk coping mechanism, cara mereka menertawakan bahaya agar tidak menangis ketakutan. Mereka mengubah tragedi infrastruktur menjadi petualangan, meski orang tua yang melihatnya pasti merinding disko.
Baca juga: Banjir dan Longsor 2025 dalam Perspektif Ilmu Sosial
Jalur nadi desa yang putus total
Jembatan di Kampung Kadupandak ini bukan jembatan setapak biasa. Ini adalah urat nadi yang menghubungkan empat desa sekaligus di Kecamatan Mandalawangi. Ketika hujan deras mengguyur pada Selasa (4/2), pondasi jembatan yang sudah tua itu akhirnya menyerah. Tanah di bawahnya tergerus, membuat penahannya hilang, dan braakk! Jembatan itu patah pinggang.
Jamak, warga setempat, menuturkan bahwa kondisi jembatan sebenarnya sudah “lampu kuning” sejak lama. Bagian bawahnya sudah menggantung tanpa penahan tanah yang solid. Hujan deras hanyalah pemicu terakhir dari bom waktu infrastruktur yang sudah lama berdetak.
“Beruntung waktu kejadian (ambruk) enggak ada orang yang melintas,” kata Jamak. Bisa dibayangkan jika jembatan itu runtuh saat jam sibuk anak sekolah melintas? Mungkin ceritanya akan jauh lebih tragis daripada sekadar video viral anak merayap.
Absennya akses alternatif memaksa warga memutar otak. Mereka tidak bisa menunggu birokrasi yang seringkali lambat panas. Secara swadaya, warga bergotong royong membuat jembatan darurat dari bambu. “Yang penting bisa dilintasi, terutama anak-anak sekolah,” tambah Jamak. Semangat warga ini patut diacungi jempol, sekaligus menjadi tamparan bagi pemerintah daerah, “Kenapa harus warga yang bergerak duluan?”
Baca juga: Bulan Madu di Lokasi Banjir Aceh, Pasangan Asal Jerman Salurkan Bantuan
Respons pemerintah: Selalu setelah viral?
Seperti pola klasik yang sudah-sudah di negeri +62, penanganan serius biasanya baru muncul setelah netizen ramai-ramai berteriak. Bupati Pandeglang, Dewi Setiani, akhirnya buka suara setelah video tersebut viral. Ia menyatakan pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan Gubernur Banten, Andra Soni, untuk penanganan darurat.
“Hari ini akan dipasang jembatan bailey,” janji Dewi melalui pesan singkat pada media.
Jembatan bailey, rangka baja portabel, memang solusi cepat yang masuk akal. Tapi pertanyaan besarnya tetap menggantung.
“Sampai kapan kita menormalisasi kondisi ‘bertaruh nyawa’ demi hak dasar seperti pendidikan?”
“Kenapa audit infrastruktur di daerah rawan bencana dan pelosok seolah dianaktirikan, sampai harus ada kejadian jembatan putus dulu baru ada anggaran turun?”
Baca juga: Latihan Berujung Duka, 23 Prajurit Marinir Gugur Tertimbun Longsor di Cisarua
Generasi penerus bangsa ini punya semangat baja
Melihat Fatih dan kawan-kawannya merayap di beton miring itu membuat kita sadar, jargon “Indonesia Emas 2045” rasanya masih jauh panggang dari api jika akses dasar saja belum merata. Generasi penerus bangsa ini punya semangat baja, itu tidak diragukan lagi. Mereka rela menantang maut demi ilmu.
Tapi, tugas negara adalah memastikan semangat itu tidak mati sia-sia di dasar sungai karena jembatan yang rapuh. Kita berharap jembatan bailey segera terpasang kokoh, dan jembatan permanen segera dibangun. Jangan sampai ada “Fatih-Fatih” lain yang harus jatuh dulu baru kita semua tersadar bahwa nyawa siswa jauh lebih mahal daripada beton dan aspal.
Untuk Fatih dan teman-temannya, hati-hati ya, Nak. Kalian hebat, tapi tolong, jangan nekat kalau air sedang tinggi. Masa depan kalian masih panjang, lebih panjang dari jembatan rusak itu.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.













