Milenianews.com, Jakarta – Bau sisa makanan yang mengendap sering kali menyergap lebih dulu sebelum mata menemukan sumbernya. Di sudut sekolah, tumpukan sampah organik kerap dibiarkan begitu saja. Banyak orang mengeluh. Namun, Aqsha Al Ayubi memilih berhenti mengeluh dan mulai bergerak.
Siswa kelas XII SMAN 1 Cibungbulang itu tak ingin sekolahnya sekadar menjadi tempat belajar teori tentang lingkungan. Ia ingin melihat perubahan nyata. Karena itu, bersama dua rekannya, ia membentuk Kopling Farm—Komunitas Peduli Lingkungan—sebagai jawaban atas persoalan sampah menumpuk yang mereka lihat setiap hari.
Dari Keresahan Jadi Gerakan

Awalnya, Aqsha hanya merasa terganggu melihat sampah organik bercampur tanpa pengelolaan jelas. Namun, rasa terganggu itu berubah menjadi keresahan. Lalu, keresahan itu mendorongnya mencari solusi.
Ia mulai mengajak teman-temannya berdiskusi. Mereka memetakan masalah. Mereka mengamati jenis sampah yang paling sering muncul. Setelah itu, mereka menyusun langkah sederhana namun konsisten: mengelola sampah organik, membuat biopori, serta membudidayakan magot dan ikan.
“Kalau bukan kita yang muda-muda ini yang peduli lingkungan, lalu siapa lagi? Kita nggak bisa terus nunggu orang lain bergerak. Mulai aja dulu dari hal kecil, dari sekolah, dari rumah,” ujar Aqsha dalam podcast Kaum Milenial, Selasa (24/2).
Mengubah Sampah Jadi Manfaat
Melalui Kopling Farm, Aqsha dan tim langsung turun tangan. Mereka mengumpulkan sampah organik dari lingkungan sekolah. Kemudian, mereka mengolahnya menjadi pakan magot. Selanjutnya, magot itu membantu mengurai limbah sekaligus memberi nilai tambah karena bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan.
Selain itu, mereka membuat lubang biopori di beberapa titik sekolah. Dengan cara itu, mereka membantu tanah menyerap air lebih baik sekaligus mengurangi genangan saat hujan turun. Langkah-langkah tersebut memang sederhana. Namun, justru dari kesederhanaan itulah perubahan mulai terasa.
“Kami ingin kasih contoh kalau sampah itu bukan cuma dibuang, tapi bisa dikelola dan punya nilai manfaat. Lewat biopori, magot, dan budidaya ikan, kita belajar bahwa alam itu harus dirawat, bukan dieksploitasi,” tambahnya.
Baca juga: Dunia Kerja Berubah, Tapi Kenapa Banyak Anak Muda Masih Tertinggal?
Menumbuhkan Kesadaran Kolektif
Seiring waktu, semakin banyak siswa yang tertarik ikut terlibat. Mereka tidak lagi memandang sampah sebagai sesuatu yang menjijikkan semata. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai bahan belajar. Bahkan, guru-guru pun memberi dukungan karena gerakan ini menghadirkan edukasi langsung di lingkungan sekolah.
Aqsha tidak berhenti pada satu kegiatan. Ia terus mengajak teman-temannya berdialog. Ia mendorong mereka untuk berpikir kritis tentang krisis iklim. Ia juga menantang mereka agar tidak sekadar aktif di media sosial, tetapi berani turun tangan.
Baginya, Kopling Farm bukan hanya komunitas. Ia melihatnya sebagai gerakan perubahan yang lahir dari kesadaran generasi muda.
Anak Muda dan Tanggung Jawab Masa Depan
Di tengah isu sampah menumpuk dan krisis lingkungan yang semakin kompleks, Aqsha menunjukkan bahwa anak muda punya peran penting. Ia tidak menunggu kebijakan besar. Ia tidak menunggu sorotan. Sebaliknya, ia memulai dari halaman sekolahnya sendiri.
Dari SMAN 1 Cibungbulang, langkah kecil itu terus bergerak. Dan ketika satu siswa berani memulai, siswa lain ikut melangkah. Karena itu, perubahan tidak lagi terasa mustahil. Ia tumbuh perlahan, tetapi pasti—berawal dari keberanian seorang pelajar yang memilih bertindak saat banyak orang memilih diam.
Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube MileniaNews.







