Proses Kreatif di Balik “Serat Panji Pudhak Lelana” Karya Naufal

Serat Panji Pudhak Lelana

Milenianews.com, Jakarta – Buku Serat Panji Pudhak Lelana karya Naufal Anggito Yudhistira hadir sebagai roman Panji berbahasa Jawa yang digubah dalam tembang macapat. Buku ini memuat kisah perjalanan Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji, dan disampaikannya dalam keterangan tertulis pada Rabu (3/12).

Karya tersebut mengangkat kembali tradisi cerita Panji melalui pendekatan sastra klasik. Di dalamnya, Dewi Sekartaji digambarkan menyamar sebagai laki-laki bernama Pudhaklelana, sementara Panji Asmarabangun mengalami berbagai petaka sebelum akhirnya kembali bersatu. “Mereka saling menemukan, lalu kembali terpisah,” ujar Naufal.

Perjalanan Awal Mengenal Cerita Panji

Naufal mengenal kisah Panji sejak kecil melalui dongeng yang dibacakan sang nenek. Ia juga melihat unsur Panji dalam pertunjukan Kethoprak dan berbagai tari tradisi, meski ketertarikannya belum tumbuh saat itu. Popularitas cerita Panji yang meredup di abad ke-21 membuatnya tidak cukup membekas dibanding epos Ramayana atau Mahabarata.

Ketertarikannya justru muncul ketika ia mengikuti Seminar Internasional Panji-Inao saat masih mahasiswa tahun pertama Sastra Daerah untuk Sastra Jawa di Universitas Indonesia. Dari seminar itu, ia mulai mempelajari sastra Panji secara lebih serius. Ia kemudian membaca berbagai kajian, termasuk tesis dosennya, Karsono H Saputra, serta buku “Tjeritera Pandji dalam Perbandingan” karya Poerbatjaraka.

Baca juga: Buku “Berani Tidak Disukai” Ajak Pembaca Temukan Kebebasan Diri

Sejak itu, Naufal semakin mendalami tradisi sastra dan pernaskahan Panji. Ia mempelajari teks dari tradisi Pesisiran hingga Keraton, serta mengenal lebih dekat seni pertunjukan seperti wayang gedhog.

Proses Kreatif dan Upaya Menjadi “Kawi Radya”

Salah satu cara belajar yang ditempuh Naufal adalah membaca dan menyalin karya sastra Jawa klasik menggunakan aksara Jawa. Ia juga mulai mencoba menggubah tembang macapat sejak masa perkuliahan. “Menyalin dan menggubah karya sastra berbentuk tembang macapat sangat efektif meningkatkan kemampuan pemahaman sastra dan bahasa Jawa,” katanya.

Keinginan menyalin berbagai serat muncul dari dorongan untuk menguasai kesusastraan Jawa secara utuh. Baginya, mempelajari sastra Jawa tidak bisa dilakukan hanya dengan pendekatan modern. Penguasaan tembang, bahasa, seni musik, hingga perilaku budaya menjadi bagian dari tradisi kepujanggaan yang ingin ia pahami.

Ia menyebut proses ini sebagai upaya aniru-niru kawi radya, meniru jejak para pujangga keraton. “Dengan begitu, pengetahuan sastra Jawa tidak akan ditafsirkan dan dikembangkan dengan serampangan, tetapi dipahami melalui kedalaman rasanya,” ujarnya.

Meski mengakui Serat Panji Pudhak Lelana bukan karya terbaiknya, Naufal menyebut buku tersebut sebagai titik tolak penting. Ini adalah karya panjang pertamanya yang ditulis langsung dalam bentuk tembang tanpa membuka patokan rumus tembang.

Baca juga: BBW Jakarta 2025 Hadirkan Lebih dari 5 Juta Buku yang Menarik

Langkah Akademik dan Pengembangan di Masa Depan

Ketertarikan pada kisah Panji berkembang hingga ranah akademik. Naufal menempuh studi S2 dengan kajian filologi terhadap teks Panji Jayalengkara Angreni. Ia juga menerbitkan suntingan teks Panji Kuda Narawangsa versi panjang melalui Perpustakaan Nasional RI. Saat ini, ia melanjutkan studi doktoral di Ilmu Susastra Universitas Indonesia dengan penelitian tentang tari Bedhaya Gandrungmanis, karya tari yang mengangkat cerita Panji Jayakusuma.

Pengakuan UNESCO terhadap Panji sebagai warisan budaya dunia juga menjadi refleksi bagi dirinya. Ia mengingat pesan gurunya, Karsono H Saputra, yang bertanya: “Kalau Panji jadi warisan budaya dunia, lalu apa yang diwarisi Indonesia?” Baginya, ini adalah pengingat penting agar pelestarian Panji tidak berhenti pada seremoni.

“Panji sebagai warisan budaya Indonesia perlu terus dikembangkan. Caranya bisa berbeda-beda bagi tiap pegiatnya,” pungkas Naufal.

Melalui Serat Panji Pudhak Lelana, Naufal menunjukkan bagaimana tradisi sastra Jawa dapat terus hidup melalui proses belajar, menulis, dan berkarya. Ia berharap pengembangan cerita Panji terus berlangsung, baik melalui penelitian, seni pertunjukan, maupun karya sastra baru yang membuka jalan bagi generasi berikutnya.

Tonton podcast Milenianews yang menghadirkan bintang tamu beragam dari Sobat Milenia dengan cerita yang menghibur, inspiratif serta gaul hanya di youtube Milenianews.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *